Tuesday, April 18, 2006

MENGAPA SAYA MENULIS NOVEL SELEMBUT LUMUT GUNUNG


MENGAPA SAYA MENULIS NOVEL
SELEMBUT LUMUT GUNUNG?

Para sahabat,
Menyambut apresiasi Endah Sulwesi di Perca Blogdrive mengenai novel remaja saya "Selembut Lumut Gunung", perlu kiranya saya menyampaikan juga sebuah paparan pendek tentang latar belakang novel itu.

Serangkai tulisan itu memang saya ungkapkan ketika novel tersebut re-launching di Cafe Enoki, bulan Maret lalu. Kawan-kawan milis yang sempaty hadir adalah: Ita Siregar, Noviana, Feby Indirani, Rita Achdris (yang kesemuanya beruntung mendapatkan doorprize), dan seorang sahabat: Iksaka Banu.

***

MENULIS bagi saya adalah kebutuhan batin. Dengan demikian, seandainya saya terlempar ke sebuah pulau terpencil yang tidak memiliki persediaan alat tulis, saya akan menulis di hamparan pasir pantainya. Meskipun aksara itu senantiasa kembali terhapus oleh lidah ombak. Dengan kata lain, menulis bagi saya tidak tergantung pada perangkatnya.

Oleh karena menulis merupakan kebutuhan batin, artinya ia menjadi cara untuk menyeimbangkan diri. Entah apa istilahnya, saya merasa 'tersiksa' jika tidak menulis. Setelah sehari-hari digempur pekerjaan, penat dengan urusan yang lebih erat pada teknik dan birokrasi prosedur manajemen, saya harus mendapat keseimbangan melalui sastra. Menulis adalah terapi otomatis untuk menyembuhkan kepenatan itu.
Dari dunia tulis-menulis (sastra) ini saya mendapatkan banyak manfaat, bahkan terasa luar biasa. Selain kepuasan batin, saya juga memiliki banyak teman di seluruh nusantara. Mereka membaca cerpen saya, sebaliknya saya menghargai apresiasi mereka. Dengan demikian, telah terjadi semacam ikatan batin, hubungan yang bermakna saling membutuhkan atau saling melengkapi. Jadi, mengapa saya menulis novel ini? Pertama: karena saya benar-benar ingin menulis, agar ikatan batin terhadap pembaca tetap terjalin.
Akhir-akhir ini, banyak pengarang usia muda yang menulis novel dengan tema-tema remaja untuk bacaan teman-teman sebaya. Tentu persoalan yang diangkat adalah kehidupan para remaja, kehidupan mereka sendiri yang begitu kaya akan warna. Jika di masa lalu pengarang adalah seseorang yang seolah 'sembunyi' di puncak menara gading, kini seorang pengarang boleh jadi adalah sahabat kita sendiri. Bisa teman sebangku, tetangga, atau seseorang yang ditemui dengan mudah di mal dan kafe. Menjamurnya penerbit telah memudahkan mereka, para pengarang belia, lahir dengan karya-karya dalam bentuk buku.
Minat baca yang tinggi seiring dengan minat berkarya yang juga tinggi, saling melengkapi dalam kebutuhan di antara para remaja itu. Tetapi, karena seleksi yang longgar, tidak semua bacaan itu sehat, dalam arti: cukup baik bagi pembacanya. Kadang-kadang kita menemukan bacaan remaja yang justru 'berbahaya'. Secara umum, novel-novel itu menceritakan tokoh-tokoh dengan gaya hidup konsumtif dan borjuis. Memang tidak sepenuhnya salah, tetapi mungkin menimbulkan kesan yang keliru terutama bagi pembaca dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Terasa bagi mereka sebagai impian yang jauh dari jangkauan.
Melihat kondisi ini, penerbit dan pengelola majalah Cinta tergugah untuk memenuhi kebutuhan bacaan sehat itu. Rencana menerbitkan novel remaja yang baik itu saya sambut gembira. Rupanya, bahkan, keempat novel yang terbit bersama itu mendapatkan label "Parental Approved". Itu menunjukkan tim redaksi pada penerbitan ini serius dengan niatnya itu, yakni memberikan bacaan sehat bagi para remaja.
Jadi, mengapa saya menulis novel ini? Kedua: karena saya ingin dapat menyumbangkan hasil karya yang mengandung nilai-nilai positif. Meskipun ini bukan yang terbaik, tetapi mudah-mudahan memberikan pencerahan.
Ketiga: tidak lain ingin memberi tahu kepada para remaja masa kini, bahwa di masa lalu ada juga trend novel atau cerpen remaja (yang sekarang disebut sebagai teenlit) dengan gaya yang berbeda.
Nah, selamat membaca buku "Selembut Lumut Gunung".

***

4 Comments:

Anonymous yoyok said...

mas, mampir..hepi ngeblog yah

:)

1:50 PM  
Anonymous ningnong_2005 said...

Mas Kurnia, saya ingat pernah baca cerita ini di Anita Cemerlang bertahun2 yll tapi lupa ceritanya. hehe... Tanya dong; Pernah pakai nama samaran Nia Effendy di Gadis kan? Ini pertanyaan Jadul bgt... Penasaran, saya pernah bc cerpen, gaya ceritanya mirip Mas Kurnia...
btw, berkali2 saya cari Selembut Lumut Gunung di Gramedia tp gak ketemu. Didistribusikan di toko buku mana aja nih?

5:30 PM  
Blogger lina123 Chen said...

chenlina20150627
chanel handbags
replica rolex watches
cheap ran bans
ray ban sunglasses
tory burch outlet
kevin durant basketball shoes
coach outlet
ray ban wayfarer
hollister clothing store
pandora bracelets
true religion
oakley sunglasses wholesale
ralph lauren
burberry sale
louis vuitton
michael kors handbags
hollister clothing
caoch outlet
red timberland boots
michael kors outlet
louis vuitton outlet
ray ban glasses
louis vuitton outlet
michael kors outlet online sale
true religion sale
gucci handbags
birkin bags
christian louboutin shoes
air jordans
cheap toms
ray ban sunglasses
abercrombie and fitch
louis vuitton uk outlet
oakley eyeglasses
prada
louis vuitton outlet
adidas running shoes
louis vuitton
mont blanc mountain
toms wedges

3:28 PM  
Blogger chenlina said...

chenlina20160505
air jordan 13
christian louboutin outlet
cheap jordan shoes
louis vuitton
michael kors outlet
ray bans
michael kors
burberry outlet
nike air jordan
kobe 11
juicy couture
true religion
nike uk
air max 90
replica watches
ray ban sunglasses
longchamp bags
ray ban sunglasses outlet
jordan 11 concord
fitflop sandals
coach outlet
oakley sunglasses cheap
louis vuitton outlet
adidas originals
basketball shoes
true religion sale
tiffany and co
nfl jerseys wholesale
ugg boots
louis vuitton purses
christian louboutin sale
ray ban sunglasses
cheap nfl jerseys
coach outlet
nike roshe flyknit
lebron james shoes 13
cheap air jordans
coach factorty outlet
louis vuitton outlet
polo ralph lauren outlet
as

9:11 AM  

Post a Comment

<< Home