Wednesday, November 04, 2009

Kekuatan Puisi

Tidak seorang penyair pun menjamin bahwa sebuah puisi dapat memengaruhi pola pikir masyarakat. Tetapi bahwa sebuah puisi mengilhami sejumlah kepala pembacanya, lantas perlahan-lahan membuahkan pencerahan, kemungkinan itu dapat terjadi. Namun demikian, kenyataan yang berlangsung di tengah masyarakat kita—terutama di masa pemerintahan Orde Baru—puisi yang ”vokal” akan dibungkam. Maka, tercatat dalam sejarah sastra Indonesia, bahwa puisi (salah satunya) karya WS Rendra berjudul ”Sajak Sebatang Lisong” dilarang beredar dan dibacakan.

Mengapa? Karena larik-lariknya penuh kritikan keras terhadap pemerintah. Tentang delapan juta anak-anak yang tak mendapat pendidikan. Tentang pengangguran para lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi. Memang agak janggal, sebuah negara menetapkan ”wajib belajar” kepada anak bangsanya yang lebih bermakna sebagai kewajiban. Padahal seharusnya yang dicanangkan adalah ”hak belajar” bagi rakyat, sehingga kewajiban biaya untuk membuat pandai masyarakat berada di pundak pemerintah. Rasanya kebijakan itu sekarang sudah dikoreksi.

Si burung merak ini memang penyair milik rakyat banyak karena ia tak hanya membela orang-orang kecil, bahkan pelacur pun diperjuangkan nasibnya dalam sajak ”Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”. Tentu karena WS Rendra tidak suka pada orang-orang munafik yang sok moralis padahal diam-diam membutuhkan kunjungan rutin ke lokalisasi. Ada satu ’solusi’ yang disampaikan Rendra, bahwa apa gunanya melarang mereka menjadi pelacur tanpa menikahi sebagai istri. Dengan kata lain, himpitan ekonomi (salah satu penyebab patologi mayarakat ini) akan kembali membawa para perempuan itu ke lembah nista (mengutip istilah dalam lagu).

***

Ada puisi lain yang hingga kapan pun akan tetap kontekstual.

Adalah karya Widji Thukul, yang barisnya demikian provokatif: ”Hanya satu kata: lawan!” Puisi ini pun beredar di masa pemerintahan Soeharto. Ungkapan itu tentu untuk menunjukkan posisi dirinya, sebagai rakyat jelata yang tidak sejahtera sementara selalu melihat ada gerakan besar korupsi yang melibas uang negara (boleh dibaca uang untuk kesejahteraan rakyat). Ujung-ujungnya, Widji Thukul hilang entah ke mana.

Saya katakan kontekstual, karena kalimat itu dapat diletakkan dalam segala kondisi. Misalnya ketika akhir-akhir ini budaya dan kedaulatan RI sedang diusili oleh Malaysia, bisa kita bilang ”hanya satu kata: lawan!” untuk menggerakkan kesadaran membela hak kita. Atau ketika kemalasan sedang melanda pelajar Indonesia sehingga secara perlahan intelektual kaum muda  mengalami penggerusan, boleh juga pernyataan itu disuarakan dengan lantang untuk memberi semangat. Yang dilawan adalah kemalasannya!

Apakah dengan demikian berarti puisi memiliki energi tak tampak yang pengaruhnya serupa magma? Itu terbukti pada para insan yang jatuh cinta. Katakanlah bukan menggunakan puisi sendiri saat pendekatan atau menyatakan cinta, hati sang pacar tetap akan berbunga-bunga. Mata mereka berbinar dan setiap kata dalam baris puisi dari kekasih itu bagai terus tercecap lidah dan menggema dalam rongga telinga. Menetap lama dalam hati.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya tiada

 

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya abu

Kutipan puisi di atas adalah karya Sapardi Djoko Damono, penyair paling romantis di Indonesia. Selain menjadi lagu dalam musikalisasi puisi yang digubah oleh Ags Arya Dipayana, puisi itu menjadi favorit para calon pengantin. Ditera pada undangan pernikahan mereka, mendampingi surat Ar-Rum dan nasihat Rasulullah kepada Fatimah. Malah ada orang awam yang mengira itu puisi karya Kahlil Gibran, si romantis-melankolis dari Timur Tengah. Ketika hal itu disampaikan kepada Pak Sapardi, dia hanya terkekeh.

***

Energi dalam puisi memang tidak semerata semangat para pecinta bola di musim piala dunia atau liga Eropa. Dari dulu sampai sekarang, karya sastra merupakan cabang seni yang tidak gemuruh, kecuali setelah dialihmediumkan menjadi drama, lagu, atau film. Film yang diangkat dari karya sastra juga tidak semua menjadi booming, karena pecintanya sangat terbatas. Bahkan sempat, ”profesi” penyair atau novelis tidak laku di mata orang tua atau mertua. Hampir digolongkan pekerjaan yang tidak mendapatkan uang secara layak.

Memang ada benarnya, meski tidak 100%. Sampai kini, walau secara agak marginal, puisi tetap hidup. Banyak penerbit ’menolak’ naskah puisi karena dianggap tidak profit, namun Bentang Pustaka dan Gramedia Pustaka Utama masih menjawalkan sedikitnya dua judul setiap tahun. Pada akhirnya, buku antologi puisi menjadi penanda citra. Penerbit perlu image dengan tetap memelihara karya sastra di antara karya-karya pop yang memang cepat mengalirkan kembali biaya produksi.

Dalam sejarah penerbitan buku puisi, mungkin yang cukup bertahan adalah karya-karya Chairil Anwar. Seolah mengamini pernyataannya dalam puisi ”Aku” dengan baris-baris yang sangat terkenal itu:

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

...

Aku ingin hidup 1000 tahun lagi

Mungkin bakal menjadi kenyataan, bahwa puisi itu akan hidup 100 tahun lagi. Sementara penyairnya mati muda. Sebuah karya seni yang baik akan melampaui usia penciptanya. Sudah dibuktikan dengan banyak cabang seni: lukis, patung, arsitektur, lagu, grafis, dll. Kita bisa menyaksikan Borobudur, Menara Eiffel, lukisan Leonardo da Vinci, syair-syair Jalaluddin Rumi dan Iqbal, naskah drama William Shakespeare, dan seterusnya. Seabad dua abad, menuju 1000 tahun usia penciptaan.

Jadi, bagaimana cara Sutardji Calzoum Bachri meraung di panggung mengeluarkan getaran energi fisik dan bagaimana Taufiq Ismail mengingatkan kita pada bahaya rokok (”Tuhan 9 Senti”), itu disuarakan melalui puisi. Benar, tidak serta-merta mengubah masyarakat, namun ada tilas yang ditinggalkan untuk dikenang sebagai penyadaran atau pencerahan.

(Kurnia Effendi, penulis puisi dan cerita pendek)

 

 

 

Wednesday, October 07, 2009

HARGA HOSPITALITY

Dalam beberapa fakta, memilih perusahaan swasta sering dilakukan karena sejumlah kelebihan yang ditawarkan. Jasa pengiriman barang, rumah sakit, sekolah, bank... wah, justru pada sektor-sektor penting. Apa yang kerap menjadikan lembaga bisnis milik negara menjadi pilihan kedua?

Ada sistem birokrasi dalam lembaga komersial pemerintah yang terkadang bukan melancarkan namun justru menghambat. Citra itu melekat umumnya karena kesalahan yang diawali dengan rasa tidak peduli pada sumber daya manusianya. Pemikiran bahwa “saya digaji oleh negara hanya untuk pekerjaan ini” meredupkan keinginan seseorang untuk meningkatkan simpati dan empati terhadap kepentingan orang lain. Sementara banyak perusahaan swasta, dengan sistem manajemen modern berprinsip: “pelanggan adalah aset dan merekalah yang menggaji saya”

Maka orang memilih jasa pengiriman swasta yang “menjemput bola”. Sejumlah biro perjalanan swasta bersedia membuka cabang kecil di gedung-gedung perkantoran, adalah upaya mendekati konsumen. Bank-bank swasta yang peduli kepentingan nasabah, teller mereka akan tetap melayani pada saat jam istirahat (mengatur jadwal makan siang bukan soal yang rumit). Anak-anak kita menempatkan pilihan pada sekolah menengah swasta dan perguruan tinggi favorit yang juga bukan milik pemerintah di benak masing-masing. Jangan salahkan mereka, karena citra itu terbentuk bukan dari persuasif singkat, melainkan pengalaman para pendahulunya.

Tetapi khusus untuk penerbangan, saya pribadi memilih Garuda Indonesia yang jelas milik pemerintah. Ada sejumlah alasan yang menempatkan Garuda pada prioritas pertama sebelum akhirnya naik pesawat milik maskapai swasta nasional. Pertama, tentu karena rasa aman yang bukan ditawarkan tetapi dibuktikan. Barangkali karena kondisi pesawatnya yang rata-rata lebih terawat dibanding yang lain, yang memang menambah nilai biaya tiketnya. Saya kira kompensasi itu seimbang. Sebab saya pernah mendengar ada biaya yang ditekan untuk faktor pemeriksaan rutin “kesehatan pesawat”.

Hal kedua soal ketepatan waktu. Bukan berarti tak pernah terlambat karena saya pernah beberapa kali mendapat jadwal delay untuk Garuda. Tetapi sungguh paling cemas kalau dalam waktu yang mepet saya harus mengejar pesawat Garuda. Apalagi saya tinggal di Jakarta, tak boleh main-main dengan in jury time, mengingat lalu lintas di ibukota negara kita ini mirip cuaca perangainya.

Soal hospitality, lagi-lagi ada yang berbeda antara Garuda dengan maskapai penerbangan swasta. Sedikit menyinggung soal rumah sakit yang kini seolah-olah dikuasai oleh swasta, memang  kemenangan mereka pada hospitality. Beberapa rumah sakit yang pernah saya masuki (bukan untuk dirawat, melainkan besuk teman yang sakit), memberikan suasana nyaman dan mendorong pasien untuk segera sembuh. Setiap pasien diperlakukan seolah-olah hanya mereka yang sakit di gedung itu. Sementara rumah sakit negeri membiarkan antre panjang berlangsung, penerangan yang berkesan suram, lorong-lorong yang menyarankan pada rasa takut... jadi cocok untuk lokasi syuting film horor. Oleh karena itu saya gembira saat melihat RS Cipto Mangunkusumo dalam beberapa tahun terakhir ini mengubah dandanan luar-dalam.

Kembali kepada Garuda, memang kita tidak semata berjumpa dengan pramugari muda yang menjadi andalan penerbangan swasta, tetapi kita bertemu dengan kematangan cara pelayanan. Keanggunan tak mungkin sembunyi, ketika sambutan disampaikan oleh kru yang mengenakan uniform santun. Mungkin ada yang suka pada hiburan sejam dua jam penerbangan dengan memandang raut manis selintas dua lintas, walaupun yang dihadirkan oleh mereka cukup senyum. Padahal, tak harus bertanya kepada penumpang apakah sudah sarapan atau makan siang, masing-masing berhak mendapatkan sajian untuk dikudap. Tentu ada harga yang dimasukkan dalam tiket, untuk snack atau menu makan yang kerap memiliki dua pilihan. Kita pun bebas memilih minuman yang ditawarkan bahkan dalam porsi yang lebih dari tiga gelas. Lho, saya sering mengambil kesempatan “mumpung” itu. Misalnya mula-mula susu dan teh. Setelah wadah kudapan yang sudah kosong diangkat, saya akan minta apple juice atau kopi. Jika perjalanan memanjang, bolehlah segelas lagi orange juice...

Dalam beberapa kali perjalanan ke Aceh yang transit di Polonia Medan, saya meniru teman yang bekerja di Unesco. Sengaja menyimpan kota snack yang biasanya terdiri dari dua kue manis dan asin untuk dibawa turun dan memberikannya kepada petugas cleaning service di bandara persinggahan. Alangkah senangnya mereka menerima “kemewahan” yang tidak rutin itu.

Rasa aman dan nyaman memang menduduki urutan pertama dalam pertimbangan saya ketika hendak melaksanakan perjalanan ke kota-kota yang jauh di Indonesia. Ke Jambi sebetulnya banyak maskapai penerbangan yang berangkat dari Jakarta, sementara Garuda hanya satu kali dalam sehari. Dengan sedikit akal-akalan, tentu saja dengan cara menambah item pekerjaan, dinas ke Jambi harus pergi dan pulang dengan Garuda. Seakan-akan, dengan naik Garuda, rasa takut terbang pun hilang.

Bukan berarti Garuda tidak pernah mengalami musibah, namun setidaknya masih terdapat peristiwa-peristiwa heroik yang menempatkan Garuda pada suatu pujian. Pendaratan darurat di Sungai Bengawan Solo adalah salah satu sejarah yang tak terlupakan dari paduan antara tanggung jawab dan keterampilan sang pilot.

Dengan pelbagai kemungkinan yang terjadi dalam penerbangan dengan pesawat, memang pantas kita berikan pernghargaan pada kru yang selalu berada dalam kondisi fit. Saya pernah menjadi tetangga seorang awak pesawat Garuda. Seperti rutin beberapa kali dalam seminggu ada mobil jemputan yang berhenti pada pukul 3 dinihari di depan rumahnya. Udara masih dingin bahkan kadang-kadang dalam siraman hujan, sementara langit tentu masih kelam. Namun tugas harus dijalankan untuk memenuhi kebutuhan para penumpang yang hendak melakukan perjalanan sangat pagi, sebelum melihat matahari. Di luar kepentingan kita yang hendak bersafari, awak pesawat itu tentu memiliki keluarga yang ditinggalkan di saat tidur seharusnya masih nyenyak.

Saya berusaha menghindari terbang malam (karena masih saja terpikir rasa was-was untuk mengarungi lazuardi gelap dengan kecepatan minimal 800 km/jam). Tetapi tak selalu berhasil. Berulang kali perjalanan pulang tugas dari Surabaya, terpaksa menggunakan pesawat yang terbang lewat maghrib. Percaya atau tidak, oleh kelelahan survei beberapa hari, saya akan tidur sejak pesawat Garuda yang saya tumpangi tinggal landas. Sejam cukuplah untuk modal vitalitas menemukan jalan macet di Jakarta malam hari. Mengapa saya berani tidur? Karena percaya pesawat akan diterbangkan dengan benar dan baik. Dan di balik itu semua, Tuhan Maha Melindungi, bukan?

Ketika bberapa waktu lalu saya terbang ke Surabaya dengan GA 302, disambut hujan deras saat mendarat di bandara Juanda. Ada pengumuman menarik pada televisi pesawat: “Garuda membuka rute baru, Denpasar-Mataram”. Ahai, perlu menjadwalkan liburan ke Senggigi tampaknya!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monday, October 05, 2009

Energi (Mudik) Idul Fitri

Tanpa energi yang memadai, kita akan gagal mudik. Wah, ini bukan rumus persamaan atau axioma yang berlaku dalam pelajaran ilmu pasti. Juga bukan bagian dari hasil tambang yang dapat digunakan untuk tenaga penggerak mesin. Ini semata sebuah realitas yang terjadi setahun sekali dalam entitas masyarakat yang sangat menyukai upacara.

Manusia Indonesia memang penggemar upacara.

Apakah dengan menulis artikel ini berarti saya berposisi di luar lingkaran yang sedang menjadi topik pembicaraan? Tidak. Keluarga saya dan adik-adik saya juga mudik ke tanah kelahiran, ke rumah Ibu. Tegal. Tepatnya Slawi.

Apa yang terbayang sebelum melakukan perjalanan? Antrean panjang kendaraan mulai dari jalan tol Jakarta-Cikampek, jalur Pantura, dan cecabangnya menuju ke daerah tertentu. Cuaca terik yang membuat kita tergoda untuk membatalkan puasa (meskipun memang dibolehkan sebagai hak kaum musafir, yang menyelenggarakan perjalanan lebih dari 90 kilometer). Kesabaran yang diuji oleh situasi jalanan, ketika satu-dua pengemudi lepas kontrol dan saling menyela antrean sehingga menambah runyam keadaan.

Mudik memang (tak) enak dilakukan dan (mungkin tak) perlu.

Sedikit mencontek slogan majalah Tempo, kenyataannya, mudik Lebaran memang berada di antara perlu dan tidak perlu. Disebut perlu ketika sepanjang tahun memang tak pernah menyambangi leluhur di kampung halaman. Namun dapat dibilang tak perlu karena kunjungan ke tanah tumpah darah dapat dilakukan pada kesempatan lain yang lebih leluasa secara waktu dan kondisi perjalanan.

Dalam dua tahun belakangan saya melakukan perjalanan mudik Lebaran melalui jalur yang tak terlalu populer. Sebelum tiba di pengujung Cikampek, memisahkan diri ke arah Sadang, Subang, Majalengka, Cirebon, dan seterusnya ke Tegal, berbelok ke selatan menuju Slawi. Tujuh-delapan jam. Saya berpendapat itu normal, karena jarak yang ditempuh hampir 400 kilometer. Tentu saja, di antara perjalanan panjang dengan kecepatan antara 60 sampai 80 kilometer per jam naik mobil pribadi, kami sempatkan istirahat atau singgah mencari oleh-oleh semisal nenas Subang atau kerupuk goreng pasir ala Cirebon.

Sebelum berbuat cerdik seperti itu, saya dan keluarga biasanya terseret arus padat Pantura (jalur pantai utara). Dan pernah suatu Lebaran, sejak bertolak dari Jatiwaringin Jakarta Timur sampai menjelang masuk Cirebon, menempuh waktu 12 jam. Membuat saya memutuskan menginap di Cirebon (walau sudah dekat ke Tegal) untuk meluruskan tubuh dan menghibur anak-anak yang telah bersedia mengikuti ’upacara’ mudik.

Itu ternyata tak cukup mengherankan, karena pernah pula kami mengarungi ’arena parkir’ terpanjang, Jakarta-Cikampek, padat merayap sejak pukul 11 malam hingga kumandang azan subuh. Semua itu kami lakukan demi sebuah upacara yang bernama mudik Lebaran. Adakah yang kapok? Mungkin ada, namun juga lebih banyak yang tak peduli dengan situasi itu, toh setahun sekali.

Cerita mudik dengan kendaraan pribadi dapat ditepis dulu, giliran memeriksa situasi mereka yang menggunakan kereta api dan bus antarprovinsi. Saat masih mahasiswa dulu (di Bandung), saya selalu keheranan pada teman-teman yang tinggal jauh di Jawa Timur atau Sumatera, yang telah memesan tiket kereta api, pesawat, atau bus, beberapa hari sebelum Ramadhan datang. Rupanya, begitu terlambat sedikit, akan berada pada posisi sangat sulit. Kehabisan tiket atau harus menebus dengan harga yang lebih mahal. Artinya lebih dari harga ”normal” yang telah disesuaikan dengan ketidakseimbangan antara jumlah penumpang dan ketersediaan kendaraan.

Pernah dalam beberapa Lebaran saya menukar kebiasaan. Umumnya anak-anak atau keluarga muda datang berduyun dari kota tempat bekerja sebagai urban menuju kampung tempat orang tua menetap. Saya bersepakat dengan adik-adik yang tinggal di Jakarta untuk menjemput Ibu di Slawi agar berlebaran di Jakarta. Dengan demikian, baik sebelum maupun sesudah Lebaran, perjalanan yang dilakukan selalu melawan arus. Ibu bertolak dari kampung halaman ketika orang banyak melakukan safari ke timur. Begitu kembali ke tempat tinggal saat usai Lebaran, berpapasan dengan arus balik mudik yang biasanya bertambah jumlah karena membawa pembantu baru, baik untuk keluarga sendiri maupun tetangga.

Demikianlah, semua bentuk dan model mudik Lebaran, selalu dilakukan dengan energi tinggi. Mengulang pernyataan di awal tulisan: jika tak cukup energi, perjalanan mudik akan terasa sangat menyengsarakan. Sebetulnya bukan semata tenaga yang harus disiapkan, terlebih lagi mental yang diuji batas kesabarannya di sepanjang jalan. Biasanya mudik berlangung di saat masih dalam suasana Ramadhan, sehingga dapat dibayangkan keletihan saat menjalaninya kecuali dengan menggunakan hak musafirnya untuk berbuka.

Apakah soal fisik dan psikis itu cukup? Tidak. Ada lagi yang wajib dipenuhi sebagai syarat suksesnya perjalanan mudik Lebaran. Tidak lain adalah bekal dalam bentuk uang. Tidak ada kekecualian, ongkos kendaraan beramai-ramai naik. Dengan istilah tuslah atau tarif yang disesuaikan, harga karcis bus dan kereta api secara resmi ditingkatkan, lalu oleh para calo dilipatgandakan. Apakah keluarga yang berkunjung ke kampung halaman untuk bersua dengan handai tolan akan bertangan hampa? Tentu tidak. Bahkan anak-anak dan menantu yang berbakti, sejak jauh hari, telah mengirimi orang tua masing-masing dengan THR (Tunjangan Hari Raya). Sejumlah perusahaan yang sehat, membagi THR bagi karyawannya paling lambat dua minggu sebelum Idul Fitri.

Setiba di kampung, ada tradisi berbagi, yang punya rizki ”berlebih” mendermakan uangnya kepada sanak saudara yang secara ekonomi lebih rendah, kepada anak-anak yang memang mengambil kesempatan Lebaran untuk mencari uang jajan ekstra, dan zakat yang diperhitungkan secara matematis oleh aturan Islam.

Bagi keluarga yang tak punya tanah udik sehingga tidak memerlukan perjalanan menengok orang tua atau sesepuh di tempat jauh, mungkin tetap tinggal di kota. Mereka menikmati sepi dan lengangnya ibukota yang kehilangan hampir dua pertiga penduduknya. Namun apa yang harus dilampaui dalam seminggu dua minggu itu? Bekerja menggantikan tugas pembantu yang mudik. Asisten rumah tangga yang memperoleh kesempatan berlibur dari kewajiban rutin, diwanti-wanti oleh majikannya agar kembali lagi. Untuk melerai rasa takut ditinggalkan karena satu dan lain hal, biasanya menjanjikan kenaikan gaji bila setelah Lebaran kembali lagi.

Begitu sakralnya perayaan 1 Syawal sebagai hari raya Idul Fitri. Kondisi yang mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat Indonesia (sebagai negeri dengan penduduk Islam terbanyak), menciptakan kumparan energi luar biasa. Mulai dari gerakan massa yang telah melibatkan efort kerja hampir setiap elemen (kepolisian, rumah sakit, pengusaha kuliner, pengusaha transportasi, perbankan, dan badan amal zakat—untuk menyebut beberapa) sampai dengan waktu yang hilang oleh dampak ’upacara’nya. Betapa semua pekerjaan (proyek yang memerlukan padat karya) terhenti sejenak untuk tunduk pada pesta yang bersiklus tahunan. Alasan yang paling masuk akal saat para tenaga kerja itu kembali dari kampung halaman adalah kesulitan kendaraan.

Tanpa mengurangi makna hari kemenangan bagi kaum muslimin dan muslimat yang berhasil melawan hawa nafsu sepanjang bulan Ramadan, mungkin tak harus dibuktikan dengan kewajiban mudik yang—inalillahi wainailaihi rojiun—kerap membawa korban kecelakaan lalu lintas. Ajal memang tak dapat disangkal. Namun pertimbangan keselamatan perlu menjadi prioritas sebelum sampai kepada tafsir siltaurahmi yang aman bagi semua pihak.

(Kurnia Effendi, penulis novel Merjan-Merjan Jiwa)

 

Friday, October 02, 2009

Penanda Pengukuhan Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia

Kurnia Effendi:

 

BATIK

 

Mungkin aku hanya selembar mori, awalnya

Sebagai pembungkus jenazah, mengantarnya ke liang lahat:

Lorong yang menghubungkan ke semesta yang lebih keramat

 

Namun suatu hari tangan seni membentangkan diriku

Seuntai garis, seberkas corak, menghias tubuhku serupa tatu

Dirundung lilin cair dengan tekun, seperti prosesi embun

Direndam dalam gelimang warna, mengisi ruang benang

yang tak terlindung. Sebelum sorot surya mengekalkannya

Demikian silih berganti, berhari-hari, berhati-hati

 

Aku pernah menjadi mori, katun, kain satin, cita sutra

Dan serat nenas menyusup ke dalam jalinan

Dicium bibir canting dengan kesungguhan dan tiupan ruh

sang juru sungging. Mata yang teduh menatap sabar penuh kasih

Agar tiap bercak, lengkungan, dan tebal-tipis rona, memiliki irama

 

Berbeda antara satu dan tangan mumpuni yang lain, tercipta sejumlah nama

Untuk tiap kelahiran di pedalaman maupun pesisiran

Bermacam cara membentuk citra tak serupa, antara tulis dan tera

Ke pelbagai negeri keluargaku bermuhibah, hingga antah-berantah

Tercatatlah tempat lahir yang menjadi buah bibir:

Surakarta, Yogyakarya, Pekalongan, Cirebon, Banyuwangi, Garut,

Tegal, Lampung, Palembang, Makassar, Banjar, dan seantero yang lain

 

Mungkin aku pernah ningrat dalam buaian sayang pemilik darah biru

Namun tak menolak turun anjangsana ke pelataran rakyat jelata

Mengiringi perjalanan para saudagar, menghias tubuh pengantin,

Menjadi selendang penari, mewarnai pelbagai festival dan karnaval

 

Janjiku dari Tanah Pertiwi:

”Kepada siapa pun aku ingin mengabdi

sebagai jati diri.”

 

 

Jakarta, 2 Oktober 2009

Menandai pengukuhan seni batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monday, September 14, 2009

ENERGI POSITIF

Perilaku manusia di dunia, seperti yang pernah diperkirakan oleh malaikat, lebih dominan membuat kerusakan. Bumi hijau ranum yang dihadiahkan Tuhan kepada umat manusia keturunan Adam sebagai satu-satunya planet yang dapat dihuni oleh kehidupan para makhluk, justru menjadi bulan-bulanan (bukan bumi-bumian). Eksplorasi tak kunjung usai, sejak untuk kemanfaatan sampai demi kerakusan manusia.

“Aku Mahatahu,” itulah firman Tuhan saat malaikat mengajukan ‘protes’ atas rencana-Nya menurunkan manusia ke Bumi. Dengan keseimbangan harapan bahwa tugas manusia di Bumi adalah menjadi wakil Tuhan, sebagai khalifah, agaknya telah memperpanjang usia jagat raya sampai detik ini. Sampai hari kemudian.

Untuk memelihara keseimbangan itu, tarik-menarik yang menyisakan usia entah sampai kapan, pasti ada semacam energi positif. Bahkan ada sedikit unsur mistik (bukan animisme, melainkan sesuatu yang gaib dan abstrak), misalnya: sepanjang azan masih berkumandang pada tiap waktu salat, dunia ini bertambah usia. Apa pun yang melatarbelakangi hal itu, saya pribadi sangat percaya bahwa hal-hal baik selalu akan menetralisir hal-hal buruk.

Dengan kata lain, energi positif akan selalu memudarkan energi negatif. Warna putih jika dituang terus menerus ke dalam warna hitam, lambat-laun akan berubah abu-abu. Percaya atau tidak, sebaiknya kita praktikkan saja. Mari kita awali setiap hari dengan tersenyum.

 

”Halo!” Sebetulnya tidak harus dengan kata ’halo’. Boleh dengan ’hai’ atau yang lebih indah, ’asalamualaikum’. Apa pun bahasanya, sesuai dengan tempat kita berpijak, sepanjang bermakna sapaan yang ramah dan tulus, akan menyembuhkan seribu penyakit hati. Ah, ini istilah saya saja, agar terdengar puitis. Namun saya teringat akan pendapat seseorang bahwa tersenyum itu sebaiknya tidak melulu akibat dari stimulan yang menyenangkan, tetapi justru sebagai pencipta kegembiraan. Jadi, tersenyumlah untuk mencairkan suasana yang murung. Tersenyumlah untuk mewarnai dunia ini menjadi gilang-gemilang.

Sapaan ramah itu alangkah indahnya bila dilanjutkan dengan menanyakan kabar lalu mendoakan agar kita (yang menyapa dan disapa) selalu dianugerahi kesehatan. Ternyata, sehat itu paling penting dari semua urusan. Mungkin karena semua yang kita lakukan dan kita rasakan menjadi buruk jika kita sakit. Sehat juga ternyata mahal setelah tahu tarif rumah sakit dan harga obat sering tak terjangkau oleh isi dompet kita.

Energi positif yang kita embuskan, percayalah, akan mengembalikan berkali-lipat kemanfaatan yang oleh kita sering disadari sebagai keajaiban. Jadi, janganlah merasa sayang atau pelit untuk menyapa anggota keluarga, tetangga kanan dan kiri, orang-orang yang berpapasan dengan langkah kita, teman sejawat di kantor, dan siapa pun yang jaraknya tak sampai satu meter dari kita.

 

”Tolong.” Perintah seberat apa pun ketika diawali dengan kata ’tolong’, serasa menjadi sebuah kelembutan yang meningkatkan derajat orang yang kita repotkan. Coba kita rasakan bedanya memaknai perintah atasan yang langsung menyuruh: ”Kef, siapkan laporan survei kemarin dalam lima belas menit ya!” dengan ”Kef, tolong bantu saya menyiapkan laporan survei kemarin. Akan sangat menyenangkan bila selesai sebelum lima belas menit.”

Apa reaksi saya untuk kedua permintaan itu? Tentu akan lebih memberi energi positif cara kedua dibanding cara pertama. Power atau kekuasaan tak perlu ditunjukkan dengan kencangnya suara, ketusnya nada ucapan, atau tajamnya kalimat. Keduanya bermakna sama, menyuruh-nyuruh juga, tetapi bakal diterima dengan perasaan berbeda. Perintah pertama akan membuat saya blingsatan dan mengerjakan tanpa rasa tulus, di bawah tekanan, dan ada bekas sakit hati yang berjejak. Sementara perintah yang kedua akan dilaksanakan penuh semangat, karena ada empati yang lebih dulu dibalurkan pada cara memintanya. Bos kita butuh bantuan, itu yang terasa untuk permintaan dengan kata ‘tolong’, bukan sedang ‘menyiksa’ kita.

Kata ‘tolong’ mengandung energi positif yang mengalir dengan efektif. Membuat yang diberi tugas terdorong lebih semangat dan merasa memiliki peran. Sama sekali jauh dari kesan ’pecundang’. Nah, sesungguhnya kita acap ”menyuruh-nyuruh” Tuhan melalui doa yang kita panjatkan. ”Ya Tuhan, ampuni dosa saya. Berikan saya kesehatan. Curahkan kepada saya rizki...” Memang, permintaan tolong yang paling tanpa batas hanyalah kepada Tuhan, meskipun kita sering tak paham saat Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita.

 

”Maaf.” Begitu indah dunia dan kehidupan saat setiap orang mudah meminta maaf. Kesalahan tidak selalu kita sadari karena tidak setiap perilaku buruk dan tak menyenangkan itu direncanakan. Perilaku aneh-aneh yang terbit dari sifat egois kita kerap muncul di jalan raya (bagi yang hidup di kota). Oleh kepentingan pribadi kadang-kadang kita tega mengesampingkan prioritas orang lain. Jadi, apa salahnya jika menjadikan ucapan ’maaf’ sebagai refleks lidah dan mulut?

Kita masuk berlawanan arah dalam sebuah gang sempit. misalnya. Segeralah mengambil tindakan mengalah, karena itu jauh mempercepat selesainya masalah ketimbang kita menilai siapa yang salah. Lantas, setelah kita bersimpangan, ucapkan ’maaf’ meskipun kita tahu dia yang melanggar. Tidak disampaikan dalam nada sindiran, tetapi keluarkanlah dengan nafas ketulusan. Mungkin bagi orang yang beradab akan membuat dirinya malu, tetapi bukan itu tujuan kita. Dengan mengucap ’maaf’, kita telah terbebas dari jalinan rasa tak nyaman yang sempat sengkarut.

Energi maaf, yang disemburatkan melalui pintu hati yang terbuka lebar, sekaligus membuat kita terlepas dari beban. Mendadak menjadi lega. Apakah dengan kata ’maaf’ berarti kita bersalah? Belum tentu. Ungkapan maaf lebih bermakna silaturahmi untuk saling membersihkan hati. Dengan kenyamanan orang lain otomatis kita bakal menerima dampaknya yang lebih manis.

 

”Terima kasih.” Mungkin inilah puncak dari kenikmatan hidup; yakni ketika kita sanggup mensyukuri semua yang kita terima. Bayangkan, sejak membuka mata dinihari, kita sudah dilimpahi kenikmatan oksigen yang kita hidup, sinar matahari yang membuat segala benda mudah terlihat, hawa yang membuat tubuh kita nyaman. Semua itu gratis dari Tuhan.

Kita juga wajib berterima kasih kepada sang Pencipta lantaran bisa bangun kembali dari tidur dengan semua organ tubuh berfungsi baik: otak, jantung, paru-paru, ginjal, persendian, pancaindra, dan semuanya. Bagi yang tidak sempurna, pasti memiliki kebahagiaanya yang lain. Dengan menyadari itu semua, tak pantas kita menyia-nyiakan semua fasilitas dengan mengisi hidup ini tanpa manfaat.

Sebagai manusia, apalagi yang merasa berjasa kepada lainnya, didambakannya diam-diam ucapan terima kasih dari orang lain. ”Boro-boro membayar, terima kasih saja tidak.” Kita sering mendengar keluhan atau umpatan semacam itu. Itu terlontar karena ketika memberikan bantuan dan jasa tidak menggunakan ilmu ikhlas. Maka, ketika penerimaannya tidak sesuai dengan ekspektasi, yang muncul adalah rasa sesal. Padahal ketulusan justru akan menolong kita dari beban yang tak penting. Dengan keingina  dibalas budi. kita jadi sibuk mengingat-ingat sesuatu yang lantas tergerus pahalanya. Mungkin yang lebih tepat adalah: pamrihlah kepada Tuhan. Sebab, Tuhan memang tempat meminta yang tak pernah kehabisan stok.

Tuhan saja ’senang’ dipanjatkan alhamdulillah, apalagi sesorang yang dihargai dengan ucapan terima kasih. Boleh jadi, jasanya hanya kecil. Sebagai contoh, ia hanya memberi sedikit tempat dalam kabin lift yang penuh, kita wajib menyampaikan terima kasih. Apalagi jika dia telah menolong kita terbebas dari bencana dahsyat (tentu banyak contohnya), rasanya tak akan cukup kita sampaikan terima kasih berulang-ulang setiap hari. Penting diketahui, ucapan terima kasih yang wajar tanpa harus membuat orang itu sungkan dan salah tingkah, akan memekarkan dadanya. Itu artinya, sebuah energi positif sedang kita tuangkan untuk mengganti sel-sel rusak menjadi gumpalan semangat baru.

Dengan terima kasih yang kita dermakan, orang-orang akan semakin ringan tangan membantu kita. Apa artinya? Mulai dari sapaan ramah, permintaan tolong yang sopan, ungkapan maaf atas ketidaknyamanan orang lain, dan rasa terima kasih yang mendalam, membuat hidup ini indah tanpa harus menghiasinya dengan dekorasi yang mahal. ***

 

* Kurnia Effendi, Ketua Asosiasi Penulis Cerita (ANITA)

 

Thursday, September 10, 2009

MASA INKUBASI KARYA

Masa inkubasi tidak hanya berlaku bagi virus penyakit. Kata itu memang berasal dari istilah pengeraman, pembentukan, proses pembiakan, untuk kuman atau virus sejak benih sampai terjadinya penyakit. Dengan kondisi yang mirip, rentang durasi yang mengubah cikal bakal tumbuh dan ‘lahir’ sebagai bentuk yang berbeda (mengejawantah), disebut masa inkubasi.

Istilah itu disampaikan oleh Budi Darma, seorang novelis yang menjadi guru besar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan dosen Universitas Petra Surabaya, pada kesempatan diskusi novel Olenka. Ada beberapa pertanyaan dari peserta forum diskusi, berbunyi seperti ini: “Apakah ada hubungan antara novel Olenka dengan tren hippies di Amerika tahun 70-an? Siapakah Olenka sebenarnya? Apa yang menyebabkan novel Olenka ditulis begitu deras seolah tak terbendung?”

Sebelum menyampaikan jawaban dari ketiga pertanyaan itu, saya ingin berbagi pengalaman saat membaca novel Olenka.

Novel itu ditulis oleh Budi Darma di akhir tahun 70-an. Mendapat penghargaan sebagai buku sastra terbaik sekitar awal tahun 80-an. Diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka dengan kaver yang sederhana (bila dibandingkan dengan desain-desain sampul masa kini). Pertama kali saya membaca langsung terpesona. Di awal tahun 80-an itu, saya sedang keranjingan bacaan.

Saat itu saya masih duduk di STM Pembangunan Semarang, jauh dari urusan sastra. Pelajaran yang saya terima di kelas yang minim teman perempuan, dominan soal teknik. Namun dalam pelajaran bahasa Indonesia, saya memiliki ketertarikan lebih. Tak heran jika saya demikian aktif  mengisi majalah dinding bernama “Trio Dinamika”. Tak heran jika saya sering berlama-lama mojok di perpustakaan membaca buku-buku fiksi.

Apa yang saya baca saat itu? Karmila dan Badai Pasti Berlalu karya Marga T. Cintaku di Kampus Biru, Terminal Cinta Terakhir, Sirkuit Kemelut, karya Ashadi Siregar. Sejumlah puisi Toto Sudarto Bachtiar, Darmanto Jatman, dan Taufiq Ismail. Berlangganan majalah Hai dan menggemari Arswendo Atmowiloto. Menyukai novel dan cerpen Putu Wijaya yang absurd. Di antaranya Stasiun, Telegram, dan naskah-naskah dramanya. Kagum pada karya Iwan Simatupang seperti Tegak Lurus dengan Langit, Ziarah, Merahnya Merah. Membaca terjemahan indah Anton Adiwiyoto untuk novel Wanita karya Paul I Wellman. Lalu, di antara yang berserak itu… saya temukan Olenka!

Sebuah cara menulis yang tak biasa diakui oleh pengarangnya, Budi Darma, membuat saya ingin mendapatkan pemicu dan dorongan yang sama. Menulis dengan deras seolah tak terbendung tentu digerakkan oleh energi yang tak tampak. Keunikan novel karya Budi Darma itu terdapat pada bias antara proses yang merupakan fakta dan aliran kisah yang fiktif (fiksi). Ini sebuah skripsi atau cerita rekaan?

Di sana ada bab-bab dengan banyak catatan kaki. Dalam novel itu ada ihwal cerita yang masuk ke dalam cerita. Tokoh-tokoh utama dalam novel itu, Olenka, Wayne Danton, dan Fanton Drummon, adalah karakter yang tak dapat disebut normal. Mereka unik satu sama lain, dan secara psikologis bahkan dapat digolongkan ‘sakit’.

Ada penciptaan metafor yang asyik, misalnya si Drummon menganggap Olenka sebagai sebuah peta. Digelar di mana saja: meja makan, dapur, di atas lemari. Terbayang betapa liarnya mereka bercinta. Bagaimana mungkin keliaran tokoh-tokoh itu muncul dari pribadi yang santun dan tenang semacam Budi Darma? Kenyataannya seperti itu. Sikap sopan, ramah, dan selalu menghormati orang lain itu tidak menghalangi pikiran dan imajinasinya untuk kelayapan ke mana-mana. Gabungan antara energi dan kreativitas telah membangun sebuah masterpiece karya sastra. Dan ternyata, saya telah membaca Olenka lebih dari 4 kali, dengan kesan yang selalu baru.

Cerita dengan latar tempat Bloominton, Indiana, Amerika itu  toh tidak serta-merta menyembunyikan Budi Darma sebagai orang Jawa (Surabaya). Percakapan dalam novelnya itu selalu menggunakan kata ‘sampeyan’ sebagai kata ganti ‘kamu’ yang terkesan Jawa banget.

Mari kita simak jawaban Budi Darma untuk tiga pertanyaan di atas. Fakta pertama, di tahun 70-an Budi Darma bersama Sapardi Djoko Damono berada di San Fransisco, kota pusat ledakan hippies yang terjadi sebagai dampak dari kebijakan wajib militer bagi setiap warganegara Amrik, yang ditolak oleh salah satunya petinju Muhammad Ali.

Fakta kedua, Olenka adalah seorang warga Rusia dengan nama panjang Olga Semionova, yang menjadi tokoh dalam cerpen “The Darling” karya anton Chekov. Budi Darma membaca bertahun-tahun sebelum novel Olenka ditulisnya. Dalam waktu yang berbeda, gerakan hippies di Amerika dan nama Olenka mengendap dalam alam bawah sadarnya.

“Ada seorang penumpang pesawat yang terbang dari Honduras ke Amerika,” kata Budi Darma. “Penumpang itu telah terjangkit virus flu babi yang pada hari keempat atau kelima akan merasakan sakit. Setelah tiba di Amerika, pada hari kelima ia merasakan sakit dan oleh dokter divonis mengidap flu babi. Jarak sejak virus itu mengeram sampai meledaknya rasa sakit itulah yang disebut masa inkubasi. Endapan nama Olenka itu mengeram dalam masa inkubasi yang panjang sampai meledak sebagai tokoh novel di Bloomington bertahun-tahun kemudian.”

Pertanyaan kita berikutnya: apa yang memicu terbukanya keran kreativitas dan energi untuk menuliskannya?

Fakta ketiga, suatu hari ketika Budi Darma pulang ke apartemennya, bertemu seorang wanita dan tiga gembel dalam sebuah lift. Budi Darma membayangkan nama perempuan itu Olenka! Sesampai di kamarnya, ia membuka mesin ketik dan menulis seperti kesetanan. Mengalir deras tak henti-henti.

Jadi antara endapan memori dan trigger itu merupakan faktor yang menentukan lahirnya karya bagi seorang seniman. Budi Darma mengaku tidak memiliki tendensi khusus novel-novelnya akan ditujukan kepada sekelompok pembaca tertentu. Ia hanya menulis saja, sesuatu yang sangat nikmat baginya. Saya mengenal karya-karyanya yang lain: Orang-Orang Bloomington, Nyonya Talis, Rafilus, Harmonium, dan Kritikus Adinan. Dan novel Olenka diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka tahun 2009 ini.

Setiap kali saya bertemu dengan Budi Darma, selalu bertambah ilmu, selalu merasa dipompa energi untuk menulis lebih baik. Ia seorang bapak yang dermawan berbagi pengalaman dan pengetahuan. Setiap kali saya berdinas ke Surabaya, selalu saya sempatkan singgah di rumahnya. Setiap kali Budi Darma memiliki agenda di Jakarta, Depok, Puncak, atau di mana pun yang sanggup saya sambangi, selalu saya usahakan untuk bertemu. Kadang-kadang terlibat dalam acaranya atau sengaja mengobrol sembari minum kopi di lobi hotel tempatnya menginap. Itu pasti lebih hikmat dan nikmat.

***

Kurnia Effendi

 

 

 

 

 

Wednesday, September 09, 2009

INKHEART

Ia disebut si Lidah Perak, Silvertounge. Mengapa? Karena saat ia membaca cerita dari sebuah buku, setiap tokoh di dalamnya akan keluar dari teks dan menjadi wujud nyata dengan karakter yang persis sesuai keinginan pengarangnya.

Ini cerita dari sebuah novel berjudul Inkheart karya Cornelia Funke, tetapi saya menontonnya dalam media film. Audi visual. Ditunjukkan di sana, ketika Mortimer si Lidah Perak itu sedang membacakan cerita bagi Meggy, anak perempuannya yang masih berada dalam kereta dorong, ada sesuatu yang aneh. Ia membaca bagian yang menyebut “selimut merah”, dan datanglah selimut merah dari langit diantar cuaca mendung penuh petir.

Ringkas cerita, ada sebuah buku fiksi fantastik yang melepaskan sejumlah tokoh. Satu di antaranya memburu Mortimer ke segala penjuru. Apa tuntutannya? Ia ingin dikembalikan ke dalam buku itu. Risiko yang lain, entah mengapa, istri Mortimer atau mama Meggy yang merupakan tokoh nyata, masuk ke dalam buku Inkheart. Sejak itu Meggy menjadi piatu, diasuh oleh ayahnya hingga remaja.

Petualangan Mortimer memburu buku Inkheart (diceritakan selalu mengunjungi pameran dan bursa buku-buku lawas) adalah untuk mengembalikan istrinya ke alam nyata. Namun di sebuah kota di Prancis, ia harus berurusan dengan tokoh dalam Inkheart yang ahli menjadi pengelola api. Petualangan itu sampai kepada peristiwa terbakarnya perpustakaan besar milik nenek Meggy dan diculiknya keluarga Mortimer bertemu dengan para tokoh fantasi dalam Inkheart yang dikurung kerangkeng besi. Di tempat itulah sebetulnya Resa berada, namun dalam keadaan kehilangan suara.

Film ini sangat menggugah karena berkaitan dengan buku: sebuah dunia yang saya akrabi sejak kecil. Buku adalah sahabat yang menghibur di pelbagai tempat. Buku adalah jendela dunia, kata Nehru. Buku adalah gudang ilmu. Buku adalah petunjuk hidup (terutama jika itu kitab suci), pedoman untuk melakukan banyak hal (jika itu buku-buku praktis). Buku adalah bagian dari industri masa kini.

Menurut seorang pembaca ‘gila’, film Inkheart tak sekuat novelnya. Tentu saja, karena buku bisa memancing imajinasi kita ke mana-mana hanya dengan buaian kata-kata. Sementara film, selain durasinya terbatas, imajinasinya telah diwakili oleh sutradara melalui artistik visual. Namun demikian, tidak semua film gagal menerjemahkan buku. The Goodfather masih cukup baik dan berhasil.

Pengarang novel Inkheart yang juga sempat bertemu dengan tokoh-tokohnya, begitu kagum mendapati “kenyataan” itu. Ini semacam simbol, bahwa buku-buku fiksi yang bagus (termasuk Harry Potter dan karya-karya Ernest Hemingway), yang menampilkan tokoh-tokoh dengan karakter kuat, serupa anak-anak kandung bagi sang pengarang. Tokoh itu begitu hidup. Seperti orang-orang yang berada di sekitar kita.

Entah energi seperti apa yang ditiupkan oleh para pengarang hebat, sehingga Don Carleone (The Goodfather), Hercule Poirot (novel-novel detektif Agatha Christie), Ikal (tokoh sentral novel memoar Laskar Pelangi), Musashi dan masih banyak lagi, menjadi ikon yang melekat dalam ingatan banyak orang. Barangkali, Inkheart juga ingin memberi tahu kepada kita, bahwa setiap goresan pena sang pengarang adalah benih energi yang dapat dihidupkan oleh siapa pun kapan saja.

Maka berbahagialah para pembaca yang menemukan kisah-kisah bagus, yang ditulis bukan dengan sambil lalu, namun mengerahkan semua imajinasi dan pertimbangan rasional untuk menemukan logika (fantasi) yang dapat diterima secara luas. Pembaca-pembaca pintar selalu memberikan nilai tambah pada buku yang dibacanya. Membeli buku bagi yang punya uang tentu persoalan gampang, namun yang sulit adalah memilih buku yang baik.

Bagaimana cara mengenali buku yang baik? Ada banyak bantuan kalau kita mau membuka blog-blog para reviewer buku. Di sana, para pembaca ‘gila’ itu memberi kesan pembacaan mereka dengan cukup terbuka. Jika bagus akan dibilang bagus, jika buruk juga bisa terus terang dinilai buruk. Bahkan komentar-komentar yang hadir sesudah rilis resensi buku itu akan membimbing kita ke arah pendapat yang cukup solid.

Di masa kini buku menjadi semacam gaya hidup. Kalau tidak pernah membaca buku, tampaknya akan berkurang gengsinya. Kalau ada eksekutif muda yang tidak tahu siapa John Grisham atau Sidney Sheldon, rasanya kurang gaul. Jika ada kaum intelektual yang luput membaca Goenawan Mohamad, Pramoedya Ananta Toer, atau sejarah sukses Starbucks, bisa dibilang ketinggalan. Bahkan para santri pun mulai membaca buku-buku di luar teks agama. Mungkin saja diawali dengan novel Ayat-Ayat Cinta, selanjutnya terjemahan karya Julian Barnes pun dilahap.

Buku akan bertambah indah oleh imajinasi pembaca. Inkheart akan lebih indah bila kita lepaskan ingatan dari filmnya. Filmnya sendiri sudah mewakili bayangan takjub tentang tokoh yang “tersesat” di bumi dan menuntut pembacanya dengan kekerasan demi dapat kembali ke dalam teks. Meggy, anak Mortimer yang mewarisi kemampuan ayahnya dalam menghidupkan tokoh, di pengujung cerita telah menyelamatkan umat manusia. Dengan cara apa? Membaca teks yang ditulisnya sendiri, menghancurkan tokoh-tokoh jahat, dan mengembalikan keluarganya dalam satu pelukan kebahagiaan.

Berbeda dengan film-film vampire yang selalu mengakhiri dengan sebuah awal (menyisakan tanya: “Wah, bagaimana selanjutnya?”), Inkheart ditutup dengan happy ending. 

Dalam hal ini, seorang pengarang wajib pintar dan komunikatif. Kalau tak pintar, tak mungkin menghasilkan karya yang sanggup memukau pembacanya. Kalau tidak kreatif dan komunikatif, mana mungkin kisahnya terasa hidup, diterima, dan dikenang oleh banyak orang, nyaris sepanjang zaman. Dulu tentu berawal dari para sastrawan bangsawan, karena merekalah yang memiliki kesempatan menjadi pintar dibanding rakyat jelata. Kini hampir semua kalangan dapat menjadi pengarang, dengan panduan bakat dan ilmu yang diperlolehnya secara akademis maupun informal.

Inkheart mungkin salah satu contoh saja yang memadukan antara otoritas pengarang dan manifestasi para tokohnya. Di masa lalu ada dongeng yang selalu menyelamatkan penceritanya dari hukuman mati dari Sang Raja (Kisah 1001 Malam). Beberapa memoar juga berkisah atau terabadikan lantaran buku, seperti “Buku Harian Anne Frank” atau kisah perjalanan Mayan, memoar yang ditulis dalam bentuk novel oleh Sanie B. Kuncoro.

***

(Kurnia Effendi, penulis memoar “The Four Fingered Pianist”)