Tuesday, April 18, 2006

Kepada Para Tamu

Kepada Para Tamu

Kepada para sahabat yang telah berkunjung ke halaman rumah blogge saya, terima kasih saya sampaikan. Mohon maaf belum dapat saya balas, tegur sapa anda semua, karena (uhuk!) dari kantor saya tidak dapat melihat blogger saya sendiri (ini kebijakan departemen IT kami, yang tidak perlu dibahas di sini). Sementara saya termasuk orang yang lebih lama berada di kantor ketimbang di rumah pada hari kerja. Tiba di kantor pukul setengah delapan bahkan kadang lebih awal dari itu, dan pulang setelah lepas senja atau lebih dari itu.

Pokoknya saya gembira dan selalu berharap anda tak bosan-bosannya singgah. Karena kehadiran anda itu akan membuat saya terpacu untuk terus menambah isinya. Jadi saya juga berusaha terus membuka beranda selebar-lebarnya bagi siapa saja.

Melalui kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada: Endah Perca Sulwesi, Tarlen Tobucil, Hernadi Tanzil, Citarayani, Hasan, Dewi , Anwar Rizal, Dinay, Yoyok, dan mungkin ada yang belum saya sebut namanya.

Baiklah, di bawah ini, saya cantumkan dua buah puisi (Rubaiyyat Duka Nias dan Arus Cinta Cisadane) yang dimuat pada tabloid PARLE yang beredar Senin, 17 April kemarin. Tentu tidak semua sempat membaca, kecuali yang kebetulan membeli tabloidnya.

Rubaiyyat Duka Nias

Lompati susunan batu itu sebelum terkubur batu
Sejauh ini tak ada tanda, kecuali duka yang datang lebih dulu

Belum sempat kering airmata yang lalu
Guncangan dasar bumi telah menerbitkan raksasa lindu

Gugurkan seluruh tempat berteduh
Tak ada waktu untuk mengaduh

Perasan daun nilam bertukar tangis sedu-sedan
Di sudut tanpa atap, kami menanti bantuan yang beringsut perlahan

Azab apakah ini? Azab siapakah ini?
Mengapa pemilik tubuh tak pernah mengerti pertanda ini?

Lompati waktu agar terlupa semerbak perkabungan
Menggali reruntuhan untuk melahirkan kembali perkampungan

Jakarta, 2005

Arus Cinta Cisadane

Adalah rembulan berkeramas hujan. Ia curahkan leleh emas
di atas Cisadane. Serupa lampu yang berenang dari hulu ke batang kuala
Tak lelah ikan bercumbu, di antara jarum air menembusi punggung sungai
Mungkin awan lupa sembunyikan mata bulan, yang memandang penuh cinta
kepada sepasang tawanan yang pulang kemalaman
"Aku harus menyeberang, melawan arus yang membentang," ujar sang pelarian.
"Bayiku menunggu dalam demam. Sementara kutanam benih dendam."

Subuh tertunda oleh kabut yang bersusun-susun. Muadzin di sudut surau
merasa matanya rabun. Ia terlambat membangunkan jemaah dari lelap mimpi ngungun
"Hujan semalam melindungi langkah maling dari penglihatan siskamling,"
Sang imam tertunduk: ragu pada petunjuk. Dua batang kelapa rebah
menjadi jembatan. Sepasang pencuri selamat dari kejaran

Pagi pecah oleh tangis bocah. Arus sungai seperti kekal membuncah
Matahari sumringah menatap pohon dan rumah, perahu dan sampah,
sayur-mayur tumpah-ruah
Sejumlah pertengkaran tak selesai, namun hidup menuntut damai
Sungai melukis sejarah dengan kuas kemarau dan warna musim hujan
Dusun dibangun dari keringat orang lurus dan para penjahat.
Cisadane mengaliri abad demi abad dengan cinta yang
tak setiap sukma sanggup membalasnya

Adalah senja yang berlindung pada sutra lembayung. Agar cahaya terakhir
tak sentuh kulit perawan di tepi bengawan. Sisa air mandi
menetes menjadi jejak cinta yang dikuntit setiap perjaka menjelang petang
Mereka beranak-pinak, lahir dan mangkat, bersetubuh dan selibat,
berdoa dan khianat, tak lepas dari aroma sungai
"Apakah penarik riba yang loba itu telah menjadi rangkaya?"
tanya seorang teraniaya.

Gemuruh pabrik menjadi cerita, buruh memekik berbuah canda.
Sepasang di antara mereka, berjanji jumpa di tepi kali.
Hendak menyerahkan buah dada, sebagai upeti
Hikayat pun mengalir seperti arus mendesir: Cisadane pernah
membasuh tubuh centeng, juga memandikan jenazah penunggu benteng.
Cisadane membesarkan bulir-bulir padi, namun sekali waktu
kerontang seperti wadi.

Bercermin kemilau air sungai: wajah lazuardi Tangerang.
Pesawat terbang seperti belalang terperangkap cuaca.
Cetak biru pencakar langit di benak kaum arsitek, memesan
tempat di tepi Cisadane.
"Selamat datang keluarga urban, tinggallah di sini sampai merata uban."
Air ketuban rasa kelapa puan. Tak tercatat jumlah liter air yang terminum,
amis sungai telah membentuk sumsum.

Adalah sungai yang rindu menggenangi kota, setelah sewindu
tak diajak bicara
"Kemari, Nak. Kenalkan ini arus cinta, yang telah membuat kita
melepaskan kasta. Kenalkan ini arus cinta, yang mengubah duka menjadi bahagia."
Di seribu pematang bercecabang, masih tertera jalan pulang
Di atas gelombang Cisadane, masih tersimpan pundi harapan

Jakarta, 2005