Wednesday, November 01, 2006

Pojok Kafe Simpang Lima

            Hanya keajaiban yang mempertemukan kita di sini.

Di pojok Kafe Simpang Lima.

Dan katamu, selalu, tetap ajaib!

 

APA yang sebenarnya kita tunggu setelah mereka, anak-anak kita, memiliki sayap masing-masing dan terbang jauh dari rumah kita? Apa lagi yang mesti kita tunggu beribu jam berjuta detik di tempat sunyi ini? Bukankah kesepian itu semakin indah ketika kita mampu menikmatinya tanpa keluhan? Sepi itu semakin membahagiakan ketika kita punya banyak waktu luang untuk seutuhnya menatap matahari senja turun perlahan ke punggung perbukitan. Sepi itu menjadi sangat berharga saat kita dapat berlama-lama duduk dengan dua cangkir teh di atas meja marmar tua. Meja itu, dengan paras abu-abu muda penuh cecabang urat yang dibentuk oleh endapan sendimen tahun demi tahun, bervariasi antara hitam muda dan kelabu tua, menjadi buku harian yang mencatat waktu berjalan. Semua itu kemudian mengingatkan kita pada sebuah kafe di pojok Simpang Lima…

 

Pojok kafe Simpang Lima

Sepanjang sore dan petang hari

Kaki lima rumput kota

Semarang… **

 

Syair yang ditulis oleh Leo Kristi itu seperti melagukan percintaan kita yang tak pernah surut lelatunya. Senantiasa meletik-letik. Kini kita tak muda lagi, kita menyadari benar, seperti juga lagu romantik itu, yang melayang-layang pada gelombang radio nyaris sepenuh tahun 1979. Tahun ketika semua pasangan merayakan cintanya dengan cara yang tak terpikir sebelumnya. Tahun ketika kapal-kapal pesiar mulai menghiasi dermaga pelabuhan-pelabuhan besar, menawarkan pelayaran asmara yang hanya pernah mereka temui dalam mimpi-mimpi berwarna. Bulan madu yang tercatat pada almanak biru, terkenang hingga anak-cucu.

Dan kita tenggelam di dalamnya. Bukan! Bukan dalam kapal pesiar atau balon udara yang melayang di atas pegunungan bersalju. Bukan dalam iringan musik Led Zeppelin atau Deep Purple yang sayatan gitarnya membuat jiwa melayang-layang, diberondong cinta hingga arang-keranjang. Seolah kita adalah sang musafir cinta yang akan mendaki tangga surga, bertemu dengan Tuhan yang telah menganugerahi sekaligus mengutuk kita dengan cinta. Cahaya itu, yang kadang memancar dari sepasang matamu saat berbicara, ah, telah menyihirku hingga tak lagi mendengar setiap kalimat yang terucapkan kecuali genangan kasih sayang yang terus saja meleleh dari pandanganmu. Lalu aku mirip sebatang lilin yang bersedia terbakar hingga habis demi apimu.

Kini, apa lagi yang kita tunggu setelah semua terpisah dari genggaman? Mereka, anak-anak kita, dengan sayap-sayap yang gagah merentang lebar, terbang jauh dan tak mudah diharap untuk kembali. Bahkan dalam Lebaran tahun ini.

Ada sebentang kontinen yang memperlebar jarak tempuh, ada sehampar lazuardi yang harus diseberangi dengan kesungguhan hati, ada samudera membiru yang telah menyerap rasa kangen mereka sebelum mulai berlayar. Dan kita di sini, seperti kotak surat yang tak mungkin mendapatkan kiriman sepucuk kartu pos, ketika semua peristiwa menjadi sangat gegas dan hanya mampu diikuti oleh berita nirkabel yang melintas melalui satelit, yang entah di mana sisik-sisiknya berhamburan. Kita, wahai kekasih, hanyalah tumpukan sejarah yang mulai diawetkan pada rak-rak pustaka. Mungkin dihampiri kembali untuk disentuh, dibaca, saat mereka, anak-anak kita itu ingin sesekali menziarahi asal-usul mereka.

Lihatlah, hari demi hari bergerak terlepas dari kemampuan kita menghayati. Gerimis yang kita tunggu tak juga turun ke bumi. Kemarau memanjang seperti ular yang melepaskan tidur panjangnya, mengurai lilitan tubuhnya dari sebatang pohon tua yang meranggas. Menimbulkan retakan-retakan tanah di sawah-sawah tadah hujan, mengeringkan bukit-bukit kapur, dan membuat kota Semarang bagai terpanggang api dalam temperatur tinggi matahari yang nyalang. Ekor retakan itu juga mencium pembaringan kita.

***

 

Cintaku, aku ingin tempat yang seperti dulu.

Ketika angin bebas menerobos tubuh muda kita.

 

ENTAH kenapa, aku selalu begitu percaya pada kata-katamu. Ucapan memabukkan yang telah menghamili dinding perut kerinduanku. Dalam tikaman waktu yang meruncing bulan demi bulan, melahirkan anak-anak yang riang. Anak-anak yang selalu memuja petualangan di dalam maupun di luar rumah. Melalui gambar-gambar yang tak terbatas dalam ruang kepala mereka. Atau dengan sepeda menyusuri kota tua menjelang pelabuhan kumuh di pesisir utara. Bermain layang-layang di ladang terbuka, seolah Juru Sungging bertahta di atasnya, melukis tubuh permaisuri dengan tahi lalat tertera di busung dadanya.

Aku tahu, kita memang selalu sama-sama merindukan tempat itu, sebuah sudut kafe di Simpang Lima. Yang sekarang tak ada lagi, kecuali jika menitis pada sebuah hotel bernama Horison. Seolah lambang cakrawala yang mempertautkan pandangan kita pada harapan yang sama. Kita memang selalu sama-sama merindukan tempat percik asamara itu dimulai, di pojok kafe itu. Ketika kedai lesehan belum menjamur di kaki-lima. Ketika Gedung Olah Raga belum menjadi tilas dan kini bahkan menjelma pusat perbelanjaan yang megah. Dengan berjuta lampu yang tampak bagai kunang-kunang dipandang dari bukit Gombel. Ketika di sudut tersembunyi ada sebuah sekolah ternama, tempatmu mengajar. Namun yang menjadi kepintaranmu adalah merayuku hingga sekujur tubuh bergetar tak tahu malu.

Menjelang pertengahan Ramadan, aku selalu merasa gelisah dan berdebar, bukan karena kitab yang kubaca tak akan tamat. Aku memang tak pernah khatam, sekalipun saat mengawalinya begitu bersemangat. Bukan juga karena selalu ada sekitar enam hari yang harus kulewati tanpa menjalankan puasa, dan tidak melakukan shalat. Bahkan saat ini, debaran itu tak kunjung henti, saat menstruasi tak pernah hadir lagi. Semua seperti sebuah kantung kisut yang hanya berisi cinta membara. Yang membuatmu selalu percaya, bahwa pertemuan kita selalu berharga. Acap kali aku ingin melupakannya, tapi selalu dirimu mengingatkannya. Melalui tembang yang seolah abadi dalam pikiran kita.

 

Pojok kafe Simpang Lima

Masihkah hangat seperti dulu

Kembang senyum kembang hati

Kaki-nini…**

 

Ah, tiadakah kita sadari, usia yang meluncur deras membuat kita lebih lekas sampai pada kerentaan? Inilah kenyataan yang tak mungkin kita pungkiri. Seluruh belulang merapuh oleh kapur yang terus-menerus menggerus. Ada sebutan yang layak untuk kita hari ini: kaki-nini. Sudah setua itukah kita? Apakah harapan yang kita kandung juga turut renta dan merapuh sebagaimana jumlah keriput pada wajah kita? Andai itu tampak oleh mata anak-anak kita?

Lalu apa yang sebenarnya kita tunggu setelah mereka, anak-anak kita, masing-masing memiliki sayap dan terbang jauh dari hati kita? Apa lagi yang mesti kita tunggu bertahun-tahun di tempat lengang ini? Bukankah kesepian itu semakin indah ketika kita mampu menikmatinya tanpa keluhan? Sepi itu semakin membahagiakan ketika kita punya banyak waktu luang untuk seutuhnya menatap rembulan berlayar di langit yang melengkung sempurna dengan sapuan warna indigo. Sepi itu menjadi sangat berharga saat kita dapat berlama-lama berbaring dengan masing-masing sebuah buku dongeng untuk dibaca. Buku itu, dengan kertas yang mulai menguning, namun tak pernah kisahnya membosankan, tentang seorang pangeran yang dengan kata-kata rayuannya selalu membuat sang puteri merasa hidup seribu tahun. Semua itu kemudian mengingatkan kita pada sebuah cinta yang pernah dan selalu kita miliki.

 

Di sini kita tak akan berpisah lagi, cintaku

Seperti ketika angin bebas menerobos tubuh muda kita

 

Uh, sudah tak ada air mata. Telah kering dari sumbernya. Seluruh hari yang berombak bagi kita adalah nyanyian ilalang yang merintih ditiup angin. Tapi, bukankah kita selalu bahagia? Bukankah kita akhirnya mendapatkan keajaiban itu? Bukankah akhirnya kita selalu bertemu seperti yang  sesungguhnya kita inginkan bersama? Dalam deru asmara yang tak akan pernah memusnahkan tubuh kita, kecuali menjadi cahaya seperti yang pernah kuserap dari tatapan matamu. Aku tak tahu, karena kau tak pernah mengaku, apakah aroma tubuhku telah membuatmu bertahan untuk tidak menjadi murca oleh usia? Cinta kadang-kadang membuat kita saling berahasia.

 

Kemarin, hari ini

Hari esok, lubuk hati

Cintaku tak kan sepi

Dalam mengabdi

Kakek oh kakek, kakek

Nenek oh nenek, nenek…**

 

Bukankah kita selalu tersenyum mendengar lagu itu? Hal yang membuat kita sedikit cemas adalah kepulangan anak-anak kita, dengan sayap-sayap mereka yang merentang gagah. Kita tak sepenuhnya tahu isi hati mereka, apakah akan menjadikan kunjungan ke Semarang itu semacam ritual?

Ini tahun ke sembilan, ketika seharusnya setiap kejadian yang sama dan berulang akan terasa biasa. Atau, bahkan, bisa saja ini tahun keajaiban bagi kita, yang menghiasi Lebaran dengan pertemuan besar orang-orang tercinta. Tahun yang ditunggu-tunggu sekian lama. Ah, apakah sembilan tahun telah cukup lama? Bukankah kita selalu bahagia dalam kesepian agung ini? Sepertinya hanya senandung romantik itu yang selalu terngiang untuk menghibur perasaan kita…

 

Hari Raya kembang api

Lembar hari kembang hati

Pojok kafe lembar sepi

Sendiri… **

 

***

ANGIN pun reda.. Seperti takbir yang surut. Cuaca begitu santun. Ada beribu langkah kaki jamaah shalat Ied, meninggalkan lapangan. Meninggalkan halaman-halaman masjid. Suara ramah orang-orang adalah sebuah keajaiban. Sama sekali tak terdengar pertengkaran di antara mereka. Hati mereka, entah kenapa, seperti dilapis agar-agar, begitu lembut. Barangkali hanya untuk hari ini. Hari yang memalukan untuk berbuat kasar. Hari yang memalukan untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain, sekalipun sebesar gunung. Ah, tapi siapa sanggup menduga kedalaman hati manusia?

Kita nyaris tak peduli dengan semua itu, bukan? Kita hanya ingin ziarah pada bekas kafe di Simpang Lima, pada sudutnya, tempat benih cinta mulai tumbuh rimbun. Andai itu sebuah pohon, mungkin telah ditebang oleh gergaji waktu. Tapi rantingnya telanjur menjulang ke langit biru. Akar-akarnya telah merambat jauh ke dasar bumi. Buah-buahnya telah dipetik orang, dan mereka, dengan sayap-sayap yang lebar telah jauh terbang dari pohonnya.

Pada tahun 2025 itu, rasanya kita terburu saling berpelukan, untuk saling melupakan harapan kita. Biarlah mereka, anak-anak kita, bahagia dengan pikiran dan kesibukan masing-masing. Dengan demikian, kita pun bahagia di ranjang kubur ini. Sembilan tahun menanti, hanya doa dalam wangi melati yang turun ke bumi.

Barangkali kita tak lagi peduli, saat kaki-kaki mungil menginjak kerikil dan daun-daun kering yang berserak di halaman rumah kita. Ketika para ayah dan bunda mereka khusyuk memanjatkan tahlil dan shalawat. Kita pura-pura tak mendengar, saat mulut-mulut mungil mereka menyebut nama kita, yang dibaca pada nisan marmar abu-abu, sebagai mendiang kakek dan nenek. ***

 

 

Jakarta, Ramadan 1427 H

Kurnia Effendi

 

* Judul cerpen diambil dari judul lagu Leo Kristi, “Pojok Kafe Simpang Lima”, dari album “Nyanyian Cinta” tahun 1979.

** Petikan lirik lagu “Pojok Kafe Simpang Lima” ciptaan Leo Kristi.

 

(Cerpen ini dimuat Suara Merdeka Semarang, Minggu tanggal 22 Oktober 2006)

1 Comments:

Anonymous Dhika said...

waktu cerpen ini dimuat saya sudah di pekalongan, setelah baca saya sms-inlah sampeyan. cuma kok ndak respon :)

7:24 AM  

Post a Comment

<< Home