Friday, October 06, 2006

Manfaat

            TERNYATA musibah mampu mengubah sikap seseorang. Yang saya maksud adalah perubahan positif. Saya memang tidak melihatnya langsung, melainkan mendengar dari cerita seorang teman, pada waktu sarapan pagi di sebuah villa di Puncak. Tentu sebelum tiba bulan Ramadan.

            Tetangga saya di Solo, juga beberapa keluarga yang menjadi korban gempa bulan Mei lalu, kini menjadi lebih relijius.” Katanya seraya menikmati nasi goreng.

            Apakah sebelumnya tidak beragama?” tanya saya.

            Maksud saya, ada perubahan besar pada sikap mereka dalam menghadapi hidup.”

            Saya pun minta penjelasan. Lalu iaseorang peserta training for trainers yang mewakili wilayah Solo – menyampaikan: “Orang-orang di sekitar tempat tinggal kami mulai menyadari bahwa segala yang mereka miliki itu semata pinjaman dari Tuhan.”

            Saya menyeruput kopi krim dari cangkir yang tak kuasa mempertahankan hangatnya. Udara Puncak, meski matahari semburat cerah, tetap saja mengembuskan hawa sejuk.

            Rumah yang mereka bangun demikian megah, jika Tuhan menghendaki, dalam sekejap rata dengan tanah. Tak hanya harta, anak-isteri pun dapat diminta sewaktu-waktu.”

            Saya setuju. Sangat setuju.Untuk itulah, sudah saatnya kita tidak pelit terhadap kebutuhan orang lain. Boleh jadi, uang yang ada dalam dompet kita ini sengaja dititipkan agar memudahkan seseorang untuk memberi bantuan bagi yang sedang dalam kesulitan.”

            Percakapan memang tak hanya berkisar pada masalah itu. Namun kesaksian teman saya dari Solo itu telah memberikan pelajaran, meskipun bukan hal yang baru saya dengar. Ia berhasil menyegarkan ingatan tentang kebersamaan. Pelatihan yang kami selenggarakan tak hanya bermanfaat bagi peserta training, melainkan sang fasilitator pun mendapatkan hikmah dari sepenggal perbincangan sembari makan pagi.

            Hidup ini, bahkan untuk yang paling transparan, masih mengandung rahasia. Kita kadang-kadang sulit percaya pada hukum sebab-akibat yang tak terbaca sejak awalnya. Mana mungkin milik kita tak hendak berkurang saat diberikan kepada orang lain? Ternyata matematik pun boleh gagal untuk perhitungan seperti ini. Kenyataannya, sering saya mengalami hal seperti itu. Ketika saya membagi tabungan yang tersisa untuk seorang teman yang kebingungan oleh masalah keuangan, langsung diganti dari sumber yang tak terduga. Yang saya maksud, tak terduga waktu datangnya, meskipun saya ingat: kapan mengirimkan tulisan yang kemudian dimuat majalah. Bahkan penggantian biaya telepon selular dari kantor pun seperti diatur datangnya di saat saya memerlukan.

            Mungkin kuncinya pada keikhlasan. Karena itu, saya selalu belajar ikhlas dengan sedikitbercanda’. Misalnya seperti ini: saat ingin membuktikan kemurahan Tuhan, saya pun singgah ke mesin ATM, laluisengmengirim uang ke rekening ibu saya. Mudah-mudahan beliau senang denganweseldi luar dugaan itu, meskipun saya tak tahu apa yang sebenarnya diperlukan. Saya pura-pura melupakannya, padahal menunggu keajaiban. Lalu, menjelang sore, ada telepon yang meminta saya jadi juri lomba cerita anak.

            Ah, pamrih ini saya tujukan hanya kepada Tuhan. Apakah keliru? Justru akan  dianggap sombong apabila tak pernah meminta bantuan kepada Sang Khalik.

           

            PROSES menjadi juri lomba cerita anak yang mengambil materi dari legenda atau hikayat di ranah Nusantara, berlangsung tiga minggu. Andai pekerjaan saya hanya membaca, waktu yang disediakan itu cukup memadai, untuk menyelesaikan 55 naskah dengan rata-rata 70 halaman. Namun karena banyak pekerjaan lain, diperlukan siasat sekaligus mengurangi kesempatan tidur separuh malam.

            Pekerjaan itu kembali memberikan pelajaran pada saya. Pada salah satu kisah yang ditulis peserta lombadi antara banyak cerita atau dongeng keteladananmenceritakan tentang riwayat Ki Ageng Tembayat. Siapakah dia? Tidak lain adalah Ki Ageng Pandanaran(g), yang sangat dikenal oleh warga Semarang. Ketika Ki Ageng Pandanaran(g) menjadi Bupati Asem-arang, ternyata (baru saya tahu) perilakunya tidak terpuji. Pemerintahan di bawah kekuasaannya terasa meresahkan, mencekam, serba menakutkan. Rakyat wajib memberikan upeti dari hasil panennya, walaupun separuh ladang diserang wereng. Para pejabat begundalnya yang setia menjadi tukang siksa bagi yang membangkang. Sampai suatu hari datang pemangkas rumput ke Kabupaten.

            Kakek pemotong ilalang itu ternyata tak mau dibayar ketika pekerjaannya selesai. Bupati Pandanaran(g) lebih tersinggung saat bayarannya minta diganti dengan menabuh beduk setiap tiba waktu sembahyang. Dengan jumlah uang berapa pun sang kakek tetap menolak. Saya akhirnya tahu, bahwa sang kakek adalah Sunan Kalijaga yang menyamar. Ringkas cerita, Ki Ageng Pandanaran(g) menyadari kekeliruannya selama ini. Bahwa harta yang ditumpuk sesungguhnya milik banyak orang yang membutuhkan.

            Ki Ageng Tembayat adalah nama lain Ki Ageng Pandanaran(g) setelah belajar ilmu keagamaan. Selanjutnya ia menjadi manusia baru yang tak lagi silau pada gemerlapnya harta. Di awal tulisan, saya menyampaikan, bahwa perilaku seseorang berubah setelah musibah. Gempa telah membuat banyak orang menyadari, segala milik kita adalah pinjaman dari Tuhan. Ki Ageng Tembayat juga bentuk kesadaran dari manusia tamak yang pernah mengemban jabatan Bupati.

            Lantas seharusnya kita ini menjadi siapa bagi siapa? Andai setiap orang memahami hakikat ini, lalu setiap orang ingin berbagi, siapa lagi yang hendak dibagi? Biarlah itu urusan Tuhan, pikiran kita tak sanggup menjangkaunya. Yang terpenting barangkali, adalah upaya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, bahkan bagi makhluk lain.

            Ada cerita tentang seorang pemikul air yang setiap pagi naik ke bukit untuk mengambil air dari sumbernya dengan sepasang tempayan yang memberati bahunya. Saat turun ke lembah pemukiman, selalu tinggal satu tempayan air yang sampai ke rumahnya. Rupanya satu tempayan yang lain berlubang sehingga air mengucur sepanjang jalan pulang. Diam-diam, si tempayan berlubang itu merasa dirinya tak bermanfaat. Namun apa sesungguhnya yang telah dihasilkannya? Di sisi jalan setapak yang selalu dilaluinya telah tumbuh beratus pohon pelindung terik mentari. Tunasnya bersemi dari hari ke hari oleh kucuran air yang menyirami tanah, dan menjadi lahan subur bagi pertumbuhan batang pohon. Kini kita tahu, kedua tempayan telah melakukan tugasnya masing-masing. Keduanya bermanfaat bagi manusia, bagi makhluk lain.

            Pertanyaannya adalah: kapan kita bermanfat bagi orang lain? Bagi makhluk lain?

 

(Kurnia Effendi, Jeda untuk Tabloid PARLE, edisi 57)