Monday, October 09, 2006

Pijar Para Penyair Muda di Kedai Kebun

Kedai Kebun Forum terletak di Jalan Tirtodipuran, wilayah Prawirotaman, Jogja Selatan. Tempat asri yang terdiri dari dua lantai, dengan dua ruang pertunjukan dan sebuah café, menjadi ajang bersuanya para penyair muda. Di sanalah acara peluncuran kedua, buku JOGJA 5,9 SKALA RICHTER berlangsung, pada malam Minggu 30 September 2006 sehabis shalat tarawih.

Lebih dari seratus orang hadir, agak di luar dugaan, duduk lesehan memenuhi ruang seluas lapangan badminton. Panggung yang dirancang sederhana dengan leveling berbalut kain hitam, sebagai latar belakang dipasang layar lebar untuk keperluan pemutaran puisi.multidimensi.

Acara yang dipandu oleh Widzar Al-Ghifary, penyair dan cerpenis muda dari Bandung, merupakan kelanjutan dari booklaunching yang diselenggarakan di MP Book Point Jakarta. Antologi puisi yang berisi 100 puisi dari 100 penyair itu diterbitkan dan diluncurkan dalam rangka memperingati 100 hari peristiwa gempa Jogja dan Jateng yang terjadi tanggal 27 Mei 2006 lalu. Tentu, puisi-puisi di dalamnya mengandung tema gempa, antara lain kesaksian, doa, dan ajakan agar Jogja bangkit kembali. 

Selain penyair Afrizal Malna, hampir seluruh penampil malam itu, adalah para penyair muda. Dengan semangat berkarya yang menggebu, mereka telah menyumbangkan puisinya untuk sebuah antologi yang diharapkan dapat menandai sebuah peristiwa bencana dramatik tanpa bermaksud memperpanjang kenangan pahit. Setidaknya, ini menjadi pemicu untuk mengingatkan pemerintah yang sudah seharusnya bergegas melakukan recovery lokasi gempa.

Saut Situmorang mengawali pembacaan puisi yang dilanjutkan dengan presentasi multimedia: foto-foto akibat gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter dengan iringan musik yang menyayat. Setelah itu berturut-turut naik ke atas pentas adalah Joko Pinurbo, Katrin Bandel (dikenal sebagai pengamat sastra Indonesia asal Jerman), Abdul Wachid BS, Agus Manaji, TS Pinang, Indrian Koto, R. Toto Sugiharto, Muhammad Fuad Riyadi, dll. Tampak di antara penonton adalah cerpenis Indra Tranggono, Joni Ariadinata, Dwicipta dan Dyah Indra Mertawirana, juga penyair Hamdy Salad dan Dina Oktaviani. Beberapa komunitas seperti Tanda Baca, Klub Sastra UII, Charm, Milis Apsas, turut meramaikan suasana. Di antara pembacaan puisi, Sanggar Jepit yang terdiri dari tujuh anggota menyanyikan beberapa musikalisasi puisi.

Penerbitan antologi puisi JOGJA 5,9 SKALA RICHTER ini awalnya diprakarsai oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang bekerjasama dengan Penerbit Bentang Pustaka. Untuk merealisasikan buku itu terbit dan diluncurkan, KSI merangkul PT. Excelcomindo Pratama yang sedang menjalankan program Pulihkan Jogja melalui XL-Care.

Malam itu, sambutan Komunitas Sastra Indonesia diwakili oleh Kurnia Effendi. Bersama-sama Adi Yuharman (mewakili XL Jogja), meluncurkan buku tersebut secara simbolik dengan menyerahkan kepada Saut Situmorang sebagai wakil tuan rumah Jogja.

Semoga hasil penjualan bukuJogja 5,9 SR” yang dimaksudkan untuk sumbangan bagi korban gempa Jogja sesuai dengan harapan bersama.

Acara yang mengalir itu berakhir menjelang pukul 23, ditutup dengan pembacaan puisi dan doa oleh penyair Amin Wangsitalaja. Sebetulnya, forum perbincangan para penyair muda, ibarat pijar api semangat sastra, terus berlangsung hingga menjelang sahur. Seperti pengakuan Saut Situmorang, Jogja memang memiliki suasana kesenian yang hangat.

 

***                                                                 

 

(Kurnia Effendi)