Friday, October 02, 2009

Penanda Pengukuhan Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia

Kurnia Effendi:

 

BATIK

 

Mungkin aku hanya selembar mori, awalnya

Sebagai pembungkus jenazah, mengantarnya ke liang lahat:

Lorong yang menghubungkan ke semesta yang lebih keramat

 

Namun suatu hari tangan seni membentangkan diriku

Seuntai garis, seberkas corak, menghias tubuhku serupa tatu

Dirundung lilin cair dengan tekun, seperti prosesi embun

Direndam dalam gelimang warna, mengisi ruang benang

yang tak terlindung. Sebelum sorot surya mengekalkannya

Demikian silih berganti, berhari-hari, berhati-hati

 

Aku pernah menjadi mori, katun, kain satin, cita sutra

Dan serat nenas menyusup ke dalam jalinan

Dicium bibir canting dengan kesungguhan dan tiupan ruh

sang juru sungging. Mata yang teduh menatap sabar penuh kasih

Agar tiap bercak, lengkungan, dan tebal-tipis rona, memiliki irama

 

Berbeda antara satu dan tangan mumpuni yang lain, tercipta sejumlah nama

Untuk tiap kelahiran di pedalaman maupun pesisiran

Bermacam cara membentuk citra tak serupa, antara tulis dan tera

Ke pelbagai negeri keluargaku bermuhibah, hingga antah-berantah

Tercatatlah tempat lahir yang menjadi buah bibir:

Surakarta, Yogyakarya, Pekalongan, Cirebon, Banyuwangi, Garut,

Tegal, Lampung, Palembang, Makassar, Banjar, dan seantero yang lain

 

Mungkin aku pernah ningrat dalam buaian sayang pemilik darah biru

Namun tak menolak turun anjangsana ke pelataran rakyat jelata

Mengiringi perjalanan para saudagar, menghias tubuh pengantin,

Menjadi selendang penari, mewarnai pelbagai festival dan karnaval

 

Janjiku dari Tanah Pertiwi:

”Kepada siapa pun aku ingin mengabdi

sebagai jati diri.”

 

 

Jakarta, 2 Oktober 2009

Menandai pengukuhan seni batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia