Monday, March 12, 2007

A l a r m

UNTUK menghindari kemungkinan melewati batas, perlu kiranya kita memasang alarm. Saat kita tak yakin dapat terjaga sebelum subuh, kita pasang alarm pada weker. Bagi yang pancaindranya senantiasa siaga bahkan di saat lelap tidur, bunyi alarm akan tertangkap oleh telinga. Dengan alarm, tujuan untuk bangun pagi tercapai, asalkan tidak tergoda untuk berbaring lagi, sehingga mata kembali terkatup dan lewatlah kesempatan yang pertama.

Alarm pada mobil berbeda fungsinya. Suaranya akan berguna untuk membuat kita waspada, ada sesuatu yang terjadi dengan mobil kita. Belum tentu seseorang sedang berusaha membongkar pintu, karena boleh jadi hanya terkena benturan akibat mobil lain mundur sembarangan. Akan tetapi, alarm itu menjadi alat yang mengabari kita.

Siapa masih ingat dengan mobil Colt yang diproduksi oleh Mitsubishi pada tahun 70-an? Saya masih SD atau SMP ketika itu. Mobil angkutan kota yang digunakan untuk transportasi antara Slawi dan Tegal, adalah si Raja Jalanan itu. Ah, ya, iklannya di televisi menggunakan ikon Kwartet Jaya, kelompok komedian yang dipimpin oleh Bing Slamet. Tiga Berlian yang selalu melesat kencang itu dilengkapi dengan alarm. Untuk apa? Rupanya, begitu sang sopir menggenjot gas hingga melewati angka speedometer 80 km per jam, terdengar bunyi: tit...tit...tit...

Pada sebuah lift gedung-gedung bertingkat, dipasang sistem alarm yang bertugas mengukur batas kemampuan mengangkat beban. Ketika jumlah orang dan barang yang masuk ke dalam kabin lift itu melebihi kapasitas yang diijinkan, ada bunyi alarm panjang. Sementara kotak lift sama sekali tidak bergerak. “Mogok“, kira-kira begitulah jika dia bisa protes. Setelah salah seorang keluar, suara alarm itu berhenti, disusul dengan gerakan lift, naik atau turun.

Pertanyaannya adalah: Apakah sebuah kapal ferry memiliki alarm serupa lift dalam apartemen? Andaikata demikian, kapal ferry yang kelebihan beban penumpang akan melakukanprotesdengan menyuarakan jeritan alarm, dan sama sekali tak mau meninggalkan dermaga. Saya yakin, sang nakhoda akan berkeringat dingin dan segera melakukan tindakan preventif. Meminta penumpang atau salah satu kendaraan turun dari dek. Dengan demikian, kewaspadaan tetap terjaga. Dengan demikian, setiap penumpang dalam kapal itu akan menikmati perjalanannya dengan lebih tenang.

Alarm dalam tubuh kita banyak sekali bentuknya. Rasa kantuk merupakan alarm bagi keletihan tubuh setelah sepanjang hari bekerja dengan mata terjaga. Rasa lapar menjadi alarm untuk segera mengisibahan bakar“ agar tidakmogokdan loyo. Alarm untuk vitalitas tubuh kita bisa dalam banyak rasa sakit: pusing, mual, berkunang-kunang, pegal-pegal, kaku, kesemutan... dan seterusnya.

Alarm untuk anak-anak kita yang masih sekolah terletak pada nilai praujian. Kewaspadaan harus ditingkatkan menjelang ujian yang sebenarnya dengan cara belajar. Bagaimana alarm untuk sebuah pemerintahan?

Negara, kita sepakat, tentu sebuah lembaga yang sangat besar. Lebih besar dari Rukun Tetangga, lebih besar dari sekadar kabupaten, juga masih lebih besar dibanding provinsi. Pemerintah yang mengelola negara tentu juga sebuah organisasi yang tidak dipilih secara main-main. Di sana ada tiga pihak (untuk sistem yang kita anut), yakni: Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Masing-masing memiliki tugas dan kewenangan, mungkin satu di antara skup pekerjaannya adalah mengawasi. Sepanjang tiga pihak itu sanggup berjalan harmonis, berpijak pada aturan main yang disepakati bersama, tak akan ada masalah. Bahkan, apabila timbul persoalan yang bersumber dari faktor eksternal, ketiganya akan mampu menyelesaikan dengan baik.

Namun ketika tumbuhnya problem justru dari dalam, akan menjadi semacam bibit tumor yang membahayakan di hari depan. Saya kira, persoalan yang berkembang di Indonesia sudah menyerupai penyakit seperti itu. Bercecabang, tumbuh liar, dan akarnya ke mana-mana. Adakah alarm yang segera memberi tahu kita mengenai bahaya itu?

Siapa tahu kita sudah mendengar alarm itu. Misalnya melalui pasal-pasal yang mengatur sebagai tindakan hukum. Tetapi, siapa tahu kita adalah seseorang yang memasang alarm pada jam weker kita, namun segera mematikan begitu mendengarnya, dan kembali menarik selimut untuk tidur kembali.

Ketika seluruh bagian organisasi pemerintahan yang mengelola Negara ini tidak lagi mendengarkan alarm, karena tertutup oleh hiruk-pikuk kepentingan pribadi, siapa yang harus cemas dan menanggung kerugian? Kita tak pernah berharap, seorang pemimpin menganggap pengelolaan Negara sebagai bagian dari try and error. Coba dulu, kalau salah direvisi. Jalan dulu, kalau keliru diulang dengan cara lain. Menteri-menteri yang bekerja di bawah standar kapablitas dengan mudah akan diganti melalui reshuffle kabinet.

Ada yang harus ditimbang lebih jauh. Dalam organisasi yang lebih kecil, ketika seseorang mengalami rotasi dalam bidang pekerjaan, ada sejumlah waktu yang diperlukan untuk penyesuaian. Pemegang jabatan yang lama menyerahterimakan semua tugas termasuk masalah yang sedang terjadi. Pemegang jabatan baru akan mempelajari dari segala sudut dan mungkin sebagian di antaranya luput dari jangkauannya. Walaupun demikian, tak ada yang buruk dengan perubahan-perubahan, sepanjang ada antisipasi yang memadai.

Nah, alarm itu bagian dari antisipasi, saya kira. Sungguh terpuji produsen mobil yang melengkapi alarm untuk penanda saat berjalan mundur. Semakin dekat bumper belakang terhadap objek, ritme alarm semakin cepat. Sang sopir yang waspada tinggal mengukur dari suara itu, untuk mengetahui jarak yang tersedia. Kecuali jika sopir itu tuli. Mau bagaimana lagi?

( Kurnia Effendi, untuk tabloid Parle, edisi 79)