Wednesday, March 28, 2007

Reuni

HANYA orang-orang sukses yang bergairah datang ke pertemuan reuni almamaternya. Barangkali karena ada kesempatan untuk menunjukkan keberhasilan kariernya di antara teman-teman seluruh angkatan. Apalagi yang sudah kondang dalam pembicaraan media massa (secara positif, tentu) sebagai insan berprestasi. Sementara kawan-kawan yang terpuruk secara ekonomi bakal minder hadir di tengah-tengah kobaran pembicaran yang berapi-api. Mungkin bahkan ada yang terpaksa membuat kartunama fiktif, sekadar memenuhi harapan dipandang sebagai teman yang dihargai.

Benarkah demikian? Alangkah rendahnya nilai reuni bila dilihat dari sudut itu. Betapa malang orang-orang yang membanggakan diri atau sebaliknya, yang kehilangan harga diri, lalu mendadak jadi “orang lain“ di tengah para karibnya. Saya kira, spirit reuni tidak terletak pada perilaku elementer dan manipulatif seperti itu.

Boleh jadi, teman-teman kita ada yang sangat berjaya, katakanlah menjabat Menteri dalam pemerintahan atau menjadi developer dengan aset milyaran. Di sisi lain ada sejumlah sahabat yang kehilangan pekerjaan akibat PHK besar-besaran dan beberapa bulan kesulitan membayar cicilan rumahnya. Bagaimana kedua belah pihak dengan jarak status maupun ekonomi terentang jauh dapat bertemu dengan nyaman? Apa gunanya sebuah reuni diselenggarakan apabila kelompok terpecah menjadi dua? Kelompok sukses dan kelompok gagal?

Rahasianya ada dalam hati masing-masing. Idealnya, suasana pertemuan akan indah apabila setiap orang melepaskan seluruh atribut kepangkatan pada dirinya, kecuali untuk kepentingan saling membantu. Misalnya Sang Menteri akan duduk sama rendah, makan dalam satu meja dengan sahabatnya yang kini menjadi penganggur. Sementara itu, teman lamanya yang baru saja kehilangan pekerjaan itu melupakan sejenak kesedihannya, agar kesempatan meluapkan rasa kangen tidak terganggu. Berceritalah hal-hal yang menyenangkan, jika perlu dimulai sejak masa sekolah dulu, ketika membolos bareng atau naksir adik kelas yang sama. Akan lebih ideal lagi apabila acara reuni tidak hanya untuk hura-hura dan semata berpesta. Buatlah agenda acara untuk saling tukar informasi dan berbagi. Apa maknanya bagi kita? Yang di atas akan membantu yang di bawah. Yang di bawah berterus terang agar mudah mendapat pertolongan.

Reuni digagas untuk kembali mempersatukan kita yang telah tersebar ke berbagai arah sejak lulus sekolah. Jangankan kita yang pernah mengalami kebersamaan sepanjang tiga, empat, atau bahkan tujuh tahun; Akademi Fantasi Indosiar atau Indonesian Idol dalam satu semester saja sanggup menciptakan perasaan saling memiliki yang mendalam. Begitu gugur satu, meskipun sebagai pesaing, timbul rasa kehilangan yang membuat air mata menetes. Saya kira itu lantaran intensitas dari hubungan mereka satu sama lain. Sementara dalam skala yang besar, ratusan mungkin ribuan orang dalam setiap angkatan di sekolah menengah, kualitas hubungan tidak seerat kelompok-kelompok kecil. Tapi bukan berarti tanpa romantika. Bahkan, kebandelan seorang siswa yang membuat gurunya berulang-kali naik darah pun, dalam suasana reuni menjelma kenangan yang lucu. Bahkan terbukti, siapa yang ketika sekolah selalu membuat kasus atau para bintang kelas, akan lebih dikenal dan diingat dibanding murid-murid yang standar.

*

SEPEKAN yang lalu saya menghadiri reuni STM Pembangunan Semarang (yang kini telah beralih nama menjadi SMK 7), meskipun tetap menempuh pendidikan selama 4 tahun. Sepekan yang lalu saya kembali menemukan suasana masa lalu, suara-suara yang tak terlupakan, meskipun wajah-wajah kami sebagian besar telah berubah. Sepekan yang lalu saya mendapatkan kehangatan, di antara orang-orang yang sukses dan yang kembali berangkat dari bawah. Sepekan yang lalu saya bertemu orang yang saya kagumi, Insinyur  Bagiono Djokosumbogo, yang pernah menjadi Direktur STM Pembangunan sejak angkatan pertama hingga angkatan ke enam, dan saya beruntung mendapat dua tahun dalam asuhannya.

Pak Bag, demikian kami memanggil, adalah orang yang melakukanbabat alas” membangun institusi sekolah menengah 4 tahun. Satu di antara 5 STM sejenis: di Jakarta, Bandung, Pekalongan, dan Temanggung. Dalam reuni, Pak Bag menjadi teman kami, karena tak pernah memosisikan diri sebagai orang yang gila hormat. Justru sepekan yang lalu, di antara teman-teman, saya justru sedang berpikir keras untuk mencari kader agar ada banyak Pak Bag di antara kami. Kami tahu persis, Pak Bag tak pernah lelah untuk sengaja singgah atau mengajak bertemu setiap muridnya (bukankah tidak ada bekas murid atau bekas guru?) di setiap kota yang dikunjungi. Yang paling mengharukan, siswa STM Pembangunan Semarang yang tidak pernah berada dalam naungan Pak Bag, begitu karibnya dalam pertemuan itu, seolah-olah di masa lalu pernah dalam satu kelas yang sama atau dalam lapangan upacara yang sama. Kenapa? (Ya Allah, saya hampir menangis ketika menulis esai ini).

Pak Bag menganggap semua alumni STM Pembangunan Semarang adalah muridnya, anak-anaknya, termasuk yang tak pernah bertemu semasa pendidikannya. Begitu besar rasa cinta itu, Pak Bag mengenal nama hampir setiap alumnus, termasuk kegiatannya. Mobilitasnya yang tinggi menyebabkan selalu ada pembaruan informasi di kepalanya menyangkut anak-didiknya. Sementara, setiap kali membangun institusi (beliau telah membangun 6 pusat pendidikan dan pembinaan guru kejuruan) selalu hanya berpikir untuk masa depan pendidikan Indonesia, bukan untuk bisnis pribadi.

Itu pentingnya punya mimpi,“ katanya sesudah mengimami kami shalat maghrib. Ceritanya bisa sangat panjang, namun yang paling membekas dalam hati saya adalah: cinta tak pernah bisa disembunyikan jejaknya. Terus terang, Pak Bag memiliki disiplin yang keras dan tidak kenal kompromi. Terus terang, ketika sekolah dulu, kami semua takut. Tapi, terus terang, kami tidak memiliki figur seorang bapak yang tulus menjalin kebersamaan selama lebih tiga puluh tahun kecuali pada diri Pak Bagiono Djokosumbogo.

( Kurnia Effendi)