Wednesday, September 05, 2007

Ulang Tahun

“Selamat ulang tahun, tabloid Parle. Semoga panjang umur dan selalu memberikan pencerahan bagi pembacamu.”

Ingin saya mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Dari kedalaman sumur hati. Dari luasnya laut perasaan. Mengapa demikian? Entahlah. Mungkin karena secara emosional hubungan saya dengan Parle tidak serupa umumnya seorang jurnalis terhadap medianya. Saya tidak direkrut karena saya melamar, atau sebaliknya saya tidak dipaksa karena saya tak mungkin punya waktu untuk menjadi wartawan.

Dengan demikian, untuk menceritakannya, saya perlu kembali mengenang masa ketika berkenalan dengan Parle. Untuk mengingat peristiwa itu, saya harus menyebut sebuah nama seorang sahabat. Ia mendadak jadi sahabat, pada suatu Rabu malam, karena sejak perkenalan pertama telah mencurahkan secara jujur sejarah tentang dirinya. Namanya R. Widjojo Hartono yang lebih akrab dipanggil Pak Toni. Siapa dia bagi saya? Seperti sosok antah-berantah yang mendadak muncul berupa e-mail.

Saat itu menjelang maghrib. Tanggal 12 April 2006, ketika saya telah melonggarkan dasi dan mulai membuka rombongan e-mail dari pelbagai penjuru. Syahdan, sebuah surat elektronik menyapa dengan hangat, atas nama Widjojo Hartono. Ia menyebut saya seorang penulis dan menjelaskan bahwa menemukan nama saya melalui mailing list LeoKristi. ”Kirimlah puisi atau cerpen ke tabloid Parle. Deadline setiap Rabu malam.”

Saya, sungguh, tidak pernah berpikir soal honor sejak awal. Selalu ada keinginan mengirim karya ke media-media baru, terlebih jika menawarkan kesempatan seperti itu. Tentu saja saya tak langsung tahu, media macam apa Parle ini. Jadi, seraya menebak-nebak, saya langsung membuka koleksi karya yang terhimpun dalam arsip komputer kantor. Sangat mengagumkan memang, dunia virtual memberi peluang untuk satu orang dengan yang lain saling berhubungan hanya dengan melihat identitas abstrak. Siapa Pak Toni bagi saya? Siapa Kurnia Effendi bagi dia? Keduanya, antara saya dan dia, hanya memiliki frekuensi yang di satu saat tertentu saling menangkap sinyal.

Saya menjawab dengan: “Jika memang deadline Rabu, berarti malam ini juga bisa saya kirim puisi.” Lantas saya lampirkan dalam surel balasan itu dua buah puisi: “Arus Cinta Cisadane” dan “Rubaiyyat Duka Nias”. Selepas saya kirim kedua puisi itu, Pak Toni kembali menanggapi dengan minta nomor telepon kantor. Saya pun memberikan dan pamit untuk salat Maghrib.

Sesudah twilight zone itulah kami berkomunikasi melalui telepon. Mengalir begitu saja kisah dari seberang sana, bahwa saya (Toni) pernah bekerja lama di Jawa Pos, dan seterusnya. Dia menerima naskah saya dan berjanji langsung dimuat. Saya sama sekali tidak bertanya tentang honor. Yang saya perlu tanyakan, kapan terbitnya dan saya minta nomor bukti. Bagi saya, dokumentasi lebih penting untuk jejak yang dapat dipandang kembali di masa mendatang. “Kapan kita bisa ngobrol? Jika Sabtu libur, datanglah ke kantor Parle.

Demikianlah, Sabtu tanggal 15 April 2006 saya bertandang ke Cempaka Putih, wilayah yang tak familiar sebelumnya karena saya tinggal di Jakarta Timur dan kantor pun di Jakarta Timur. Pertemuan pertama yang berkesan, karena hanya dalam satu jam setengah, kisah separuh hidup Pak Toni telah tercurah. Dalam waktu singkat tentu saya tak langsung paham. Namun lambat-laun, dari pekan ke pekan, saya mendapat gambaran yang lebih utuh dari Pak Toni. Lalu saa menyimpulkan, bahwa dia seorang yang ”semanak”, mudah menanamkan kepercayaan, optimis dengan langkah yang ditempuh, dan membuka pikiran lawan bicaranya untuk menemukan banyak hal yang bakal melepaskan dari sisi rutin.

Entah kenapa, begitu percayanya Pak Toni pada kapasitas saya untuk menulis secara rutin, tentang apa saja, di tabloid Parle. Saya lupa, apakah saya cemas atau kalap menerima tawarannya. Dan saya lupa bagaimana mulanya saya meminta sebuah kolom untuk menuangkan setiap gagasan yang bernuansa humaniora setiap minggunya. Lantas terpilih nama Jeda yang menjadi ”milik” saya sepenuhnya. Coba ditilik lebih saksama, bukankah itu model kepercayaan yang sungguh mengkhawatirkan, sementara hari Sabtu itu merupakan pertemuan face to face kami pertama kali?

Adalah rembulan berkeramas hujan.

Ia curahkan leleh emas di atas Cisadane.

Serupa lampu yang berenang dari hulu ke batang kuala

            Tak lelah ikan bercumbu, di antara

jarum air menembusi punggung sungai

Mungkin awan lupa sembunyikan mata bulan, yang

memandang penuh cinta

kepada sepasang tawanan yang pulang kemalaman

            Itulah bait pertama dari puisi pertama yang terpajang di halaman Seni Budaya tabloid Parle No. 33, yang terbit tanggl 17 April 2007. Pada Parle No. 34, saya resmi menulis untuk kolom Jeda. Saya merasa waktu dan peristiwa jalin-menjalin, mengalir berkelindan, dan nama saya terpasang pada jajaran redaksi sebagai Redaktur Khusus. Proses itu seperti perjalanan cinta sepasang kekasih. Saya melebur ke dalam Parle dan Parle menjadi bagian yang tak terlepas dari ingatan dari hari batas waktu masuknya seluruh naskah. Saya memang hanya menggarap liputan dan informasi budaya (terutama sastra) namun debaran hati saya sama dengan redaktur lain yang menangani laporan utama dan laporan khusus.

Perlahan namun pasti, Parle kini menjadi satu di antara media yang ingin ditilik halaman budayanya. Ada peristiwa kesenian apakah di sana pekan ini? Siapa sosok profil yang tampil Minggu ini? Wajah siapa menghias halaman infotainment? Adakah buku baru yang diresensi dan patut segera dibeli?

Memang kini Pak Toni jauh dari kami secara fisik. Tapi saya yakin, tetap ada chemistry yang menyatukan tiap frekuensi dalam kesamaan visi. Maka di pengujung larut pagi yang sunyi ini, ingin saya mengucapkan dengan tulus dari kedalaman sumur hati: “Selamat ulang tahun, tabloid Parle. Semoga kita selalu saling mencerahkan.”

(Kurnia Effendi)

 

 

 

 

 

0 Comments:

Post a Comment

<< Home