Friday, August 31, 2007

Sekali Lagi tentang Andrea Hirata

Film “Laskar Pelangi” sebagai Langkah Berikutnya

            Sabtu petang, 25 Agustus 2007, Café Omah Sendok di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, tampak ramai pengunjung. Lebih dari malam-malam biasa. Di sekeliling kolam renang, kebun belakang, separuh kapasitas kursi dan tikar telah ditempati para tamu, seraya menikmati siomay sebagai hidangan sebelum acara utama. Musik minimalis mendayu merdu di salah satu sudut memperdengarkan petikan gitar dan gesekan biola.

            Rupanya, malam itu, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tidak semata dibicarakan sebagai novel fenomenal, tetapi lebih pada rencana pembuatan filmnya. Sebagai pembicara, tampil Mira Lesmana (pihak Miles sebagai produser), Riri Riza (calon sutradara), dan Andrea Hirata sendiri sebagai pengarang novelnya. Acara diskusi dipandu oleh Gangsar Sukrisno yang juga mewakili Bentang Pustaka sebagai penerbit buku Laskar Pelangi (LP).

            Di antara sekitar 100 orang yang hadir, tampak Din Syamsudin (Ketua Umum Muhammadiyah) dan Cici Tegal (artis dan pelawak). Kita tahu, novel LP mengisahkan perjuangan 11 anak yang pernah “menyelamatkan” SD Muhammadiyah tempat mereka sekolah di Belitong sehingga tak jadi ditutup. Cerita semacam roman, satu dari tetralogi yang kini telah sampai pada bagian ketiga, Edensor (bagian kedua: Sang Pemimpi), yang mengharukan karena tak hanya mengangkat kekuatan persahabatan, namun juga memotret situasi sosial-ekonomi masyarakat setempat di tahun 80-an.

            Mira Lesmana mengatakan: “Kami semua ini para pemimpi. Justru karena selalu ada kesulitan untuk sebuah proses adaptasi dari buku ke film. Sebagai medium yang berbeda, keduanya punya kelebihan masing-masing. Mudah-mudahan kerjasama ini cocok dan bersifat sinergi. Kami berjanji akan membuat film yang baik.”

            LP hadir sebagai novel tentu saja atas kejelian Gangsar Sukrisno sebagai pembaca “pertama”. Awalnya ada semacam under-estimate atas kiriman naskah itu di bulan Mei 2005. Tiga hari didiamkan karena ia tak kenal siapa Andrea Hirata, tetapi akhirnya tergerak juga untuk membacanya. Dari situlah terjadi interaksi emosional yang luar biasa. Kris merasa sangat terharu sampai menitikkan air mata, sekaligus juga bisa tertawa terpingkal-pingkal, saat membacanya hingga tengah malam. Lalu lahir keputusan untuk segera menerbitkan naskah itu menjadi novel. Bahkan sejak awal, pada adegan-adegan tertentu, ia membayangkannya sebagai sebuah film.

            Menurut Riri Riza, novel LP telah memberikannya sebuah pengetahuan baru. Ia tak pernah menyangka bahwa Belitong merupakan tempat yang terasa ajaib. Di sana, dalam novel dan kenyataannya, ia menemukan gap antastrata masyarakatnya. “Ini film periodik 80-an yang harus diungkap ulang.” Upaya untuk memperoleh chemistry dari kerjasama antara dirinya dengan sang novelis, Riri saling tukar film favorit dengan Andrea.

            Ketika dibuka sesi tanya-jawab, ada seorang peserta diskusi yang merasa “keberatan” jika LP dibuat film. Ia, seperti juga ribuan email yang datang ke alamat Andrea, merasa khawatir film itu justru mengecewakan dan akan mengurangi keindahan cerita pada bukunya. Bagimanapun ini merupakan beban berat bagi Riri Riza dan juga Salman Aristo, yang akan menulis skenarionya. Tetapi, sebagaimana disampaikan Mira Lesmana, bahwa film yang mungkin gagal tidak akan menjatuhkan nilai novelnya.

            LP, menurut Riri adalah kisah tentang orang-orang miskin, tetapi bukan orang-orang yang menunjukkan ajah duka dan sengsara. Sebagai contoh, karakter Ibu Muslimah, guru yang bila malam bekerja sebagai penjahit dan sampai kini kenyataannya masih mengendarai sepeda dari rumah menuju sekolahnya, adalah pribadi yang bersemangat. Miskin adalah takdir dan tidak untuk dijalani dengan putus asa. Rasanya, kesulitan awal dari proses pembuatan film Laskar Pelangi justru saat mencari sepuluh atau sebelas karakter yang akan menjadi tokoh-tokoh penting dalam cerita.

            Acara malam itu juga menandai peresmian kontrak kerjasama antara Andrea Hirata sebagai penulis novel yang didampingi oleh Renjana (event organizer yang selama ini memanajeri kegiatan Andrea) dengan Miles Films dan  Mizan Sinema dari pihak Bentang Pustaka. Cici Tegal mewanti-wanti, agar LP yang di dalamnya terkandung kuat unsur Islam (Muhammadiyah) dan mistik (keajaiban yang sering muncul dalam folklore Belitong) tidak jatuh pada gaya sinetron dakwah dalam televisi. Riri berjanji akan membuat film semacam itu. Dengan potensi cerita yang kaya petualangan kanak-kanak dan perjuangan sekitar pendidikan, diharapkan akan menembus seluruh usia penonton.

            Akankah Laskar Pelangi menjadi film yang laris manis? Bayangkan dari sekarang calon penonton yang akan menyerbu bioskop. Hitung saja jumlah anggota aktif Muhammadiyah di seantero Indonesia. Sekitar 20 juta! Jadi, bayangkan saja dari sekarang…

(Kurnia Effendi)   

 

 

 

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Mas udah ada kepastian pembagian peran yang main film LP belum? Jadi penasaran... ^^

10:29 PM  
Blogger ekspresi said...

saya harap segera difilemkan. sememangnya novel ini imaginatif dan briliant.

11:48 AM  

Post a Comment

<< Home