Friday, May 26, 2006

Peristiwa Sastra 19 Mei 2006

Launching Buku Puisi Gus tf
di QB Kemang
19 Mei 2006, pukul 20.00 WIB

Mula-mula saya dikabari oleh Endah, bahwa tanggal 19 Mei 2006, Gus tf meluncurkan bukunya yang terbaru. Kumpulan puisi. Itu tiga hari sebelumnya. Tentu saya kirim sms kepada Gus tf untuk memastikan. Rupanya benar, Gus tf berencana mengundang via sms keesokan harinya.

Jumat yang ditunggu tiba. Endah mampir ke kantor saya, dan kami berangkat bersama ke QB Kemang, tempat acara akan berlangsung. Sejam sebelumnya Akmal sms, membatalkan kehadirannya, sekaligus membatalkan kongkow di Tamani Café. Ia kirim permintaan maaf jika Tarlen ada di acara Gus tf. Di jalan, kami kabari Joko Pinurbo, siapa tahu berada di Jakarta dan bermaksud hadir juga. Jokpin yang juga diharapkan datang oleh Gus tf , ternyata tak dapat memenuhi harapan itu, ia kirim salam saja (untuk Endah, bukan untuk Gus tf).

Setiba di QB Kemang, saya menelepon Tarlen. Ah, rupanya pemilik Tobucil itu sedang ngopi di Bakoel Koffie dan hendak nongkrong di TIM. Ya sudahlah, ternyata memang bersimpang jalan. Saya sampaikan saja pesan Akmal. Selanjutnya kami naik ke lantai dua, tempat QB bercokol. Saya menulis buku tamu di urutan pertama... ah, sepi betul? Pasti lantaran kemacetan kota Jakarta. Dengan sedikit bujuk rayu Endah, kami mendapat masing-masing sebuah buku Gus tf, antologi puisi "Daging Akar" yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas.

Kami memasuki café yang menjadi tempat diskusi. Seluruh kursi masih dibiarkan kosong. Saya segera melihat sosok Gus tf. Dan di meja yang dipasang di sudut depan, sudah ada Radhar Panca Dahana bersama Karlina Supeli Leksono sedang menikmati santap malam kentang goreng. Saya menyapa Gus tf, dan kami berpelukan melepas kangen. Lalu saya kenalkan dengan Endah, yang sejak keberangkatan ingin foto berdua dengan penyair Payakumbuh itu.

Lantas mata saya tertumbuk pada Nurzain Hae (Zen Hae) dan Melvi Yendra yang sedang berdiri di balik sebuah rak buku. Saya menghampiri mereka, bertukar kabar. Sejenak kemudian Nirwan Ahmad Arsuka muncul, dan selintas ngobrol soal Azzikra. Karena acara akan mundur, dan Endah (walaupun sudah berbagi donat dalam perjalanan) masih merasa lapar, kami pun pesan santapan di café QB.

Akhirnya pukul 20 acara dimulai. Dibuka oleh moderator Zen Hae, yang memanggil kedua pembicara: Nirwan Arsuka dan Karlina Leksono, untuk duduk di sofa yang diatur layaknya panggung. Acara diawali dengan pembacaan dua puisi oleh Radhar Panca Dahana. Dengan pengantar, bahwa persahabatannya dengan Gus tf dimulai dari saymebra menulis puisi dan menang bersama beberapa tahun silam.

Nirwan Arsuka mendapat giliran pertama bicara. Ia menganggap Gus tf adalah penyair yang menulis puisi dengan memikirkannya (seperti halnya Subagyo Satrowardoyo dan Radhar Panca Dahana). Pandangan keterasingan manusia dalam puisi-puisi Gus tf, juga tentang kosmos, sudah dianggap ketinggalan zaman. Gus tf seolah mengambil Demokritus sebagai gagasan spiritual. Seperti juga yang terdapat pada karya Edgar alan Poe. Namun menurut kajiannya, pada puisi-puisi Gus tf terkandung nilai pantun. Terlihat dari ciri adanya gelombang imaji pertama yang didorong oleh gelombang imaji kedua, dan seterusnya (semacam sampiran dan isi).

Sedangkan Karlina merasa cemburu terhadap Gus tf, yang dengan kosa kata tak sekaya prosa, mampu membuat kesan mendalam pada puisi-puisinya. Sebagaimana pengakuannya, ia jarang membaca puisi sampai dua kali, sedangkan untuk beberapa puisi Gus tf ia sempat tertegun dan merenung. Dari sisi kosmologi, Gus tf menyebutnya sebagai "kawasan entah" terdapat sisi gelap manusia: yang dingin, sepi. Menggambarkan jatuhnya manusia dari keabadian, yang merindu, dalam dirinya berebut ketegangan antara yang hancur dan yang kekal. Di situ terdapat pergulatan antara materialisme dengan idealisme. Dengan kata lain, menurut Karlina, puisi-puisi Gus menggambarkan kejatuhan manusia yang kedua kali.

Susi, tokoh rekaan dalam tiga puisi Gus tf dalam antologi "Daging Akar" mendapat sorotan dari kedua pembicara. Di sini Susi adalah simbol, yang ditulis dalam tiga setting waktu, sejak sebelum Masehi sampai tahun 2000. Sebenarnya, Gus tf ingin menceritakan pergolakan budaya dan sikap manusia sesuai dengan latar waktu peristiwanya.

Malam itu, Karlina Leksono ingin menggunakan kebebasannya sebagai pembaca, ia tak hendak mengintip isi keranjang balon udara yang sedang dikendarai Gus tf. Dengan pengalamannya mendengar dongeng, ia merasakan sajak Gus tf membawa manusia dari kawasan entah, menarik dari kosmos yang luas menuju kosmos yang paling gelap, lalu... merasa gentar.

Ketika dibuka sesi tanya jawab, Radhar memberikan tanggapan: Gus tf mengajak pembaca untuk berpikir melalui puisi-puisinya. Akan berbeda dengan para pembaca yang sudah biasa menikmati puisi Sapardi, tentu akan merasa asing berhadapan dengan puisi Gus tf. Terlepas dari itu, sebenarnya kekuatan imajinasi masyarakat sanggup melampaui itu semua karena kenyataan sehari-hari kadang lebih fantastis. Radhar memberikan contoh mengenai dua berita yang pernah dibacanya:

1. Ada berita tentang seorang homo yang memakan daging pasangan seksualnya, tetapi polisi tidak dapat menjeratnya ke dalam hukum. Kenapa? Karena peristiwa itu sudah menjadi perjanjian mereka dalam semacam upacara. Setelah melakukan hubungan seksual sesama lelaki, satu di antaranya bersedia dipotong kelaminnya untuk dikunyah mentah-mentah, lalu tubuhnya diiris-iris agar dapat dimasukkan ke dalam kulkas, dan setiap hari menjadi menu santapannya. Yang mengherankan, ada beberapa lelaki homo lainnya yang siap antre menjadi korbannya.

2. Di kolong jembatan sekitar Rawamangun, seorang ibu melahirkan anaknya tanpa bantuan orang lain. Setelah tali pusar disayat, dilepaskan dari ari-ari, bayi yang baru menghirup udara dunia beberapa menit itu dipelintir kepalanya hingga tewas. Lantas dengan tenang jasad yang tak lagi mampu menangis itu dihanyutkan di sungai keruh, mengalir lambat ke arah utara. Tentu heboh ketika ditemukan oleh warga daerah yang dilewati arus sungai. Setelah polisi mendapatkan ibunya untuk dituntut hukuman, sang ibu menjawab tanpa rasa bersalah: "Saya tak punya uang untuk memelihara bayi itu. Saya juga tak tahu, bayi itu dari sperma lelaki yang mana."

Binhad bertanya ringkas tapi tampaknya tak mendapatkan jawaban yang memadai dari siapa pun. "Rahasia puitik apa yang terdapat pada puisi-puisi Gus tf?" Dia menganggap yang ditampilkan adalah keindahan kognitif, bukan afektif... (Ah, kok bermain istilah psikologi?)

Adi Wicaksono, setelah secara berkelebat membaca puisi-puisi dalam "Daging Akar" menemukan semacam benang merah antara Dorothea dan Gus tf. Dalam puisi Dorothea terungkap perjuangan manusia, ketika manusia kalah, ia bisa merebut kembali kemenangannya yang dicapai melalui 'daging' sebagai penakluk dunia. Dalam hal ini, daging identik dengan seksualitas. Tampaknya Gus tf meneruskan gagasan itu.

Ketika Nirwan Dewanto didaulat untuk menyampaikan pendapat, dia 'menyerang' Nirwan Arsuka. Dia menganggap Arsuka selalu berposisi sebagai pengamat yang harus mencari ide-ide dari sebuah buku atau karya. Diingatkan bahwa dalam puisi Gus tf tidak ada ide telanjang. Sebagaimana cirri-ciri puisi modern, umumnya penyair tidak serius dengan gagasan penciptaan. Tujuan utama penyair adalah mengosongkan ide dari tubuh puisi. Yang lahir adalah simbolisme. Gus tf, dalam hal ini, bermain tangkap dan lari dengan citraan itu. Sebagai contoh, satu citraan yang dicuri dari arkeologi (menggali, menemukan), yang digali adalah lapis-lapis yang tidak ragawi. Sebenarnya Gus tf tidak sedang bercerita tentang arkeologi atau kosmologi. Senjata utama Gus tf adalah paradoks, misalnya: suara di segala sepi... dsb. Sejak awal, dalam diskusi ini, kata Nirwan, tidak membahas masalah sastra. Justru yang perlu kita tahu, lanjut Nirwan, dari mana sajak Gus tf ini bersumber? (tentu dari pendahulunya, tak mungkin lepas dari pengaruh itu). Siapa precursornya? Tidak lain Sapardi, begitu pendapat Dewanto. Selain Joko Pinurbo, Gus tf adalah penyair yang mencoba mengembangkan gaya Sapardi.

Nah, tentu makin panas ketika Nirwan Arsuka membalas tuduhan itu. Dan Nirwan Dewanto menegaskan lagi: "Dalam James Joice atau Samuel Becket, kita tak akan mendapatkan ide kecuali bentuk. Kita akan sia-sia mencari ide misalnya pada lukisan abstrak atau musik atonal..."

"Tapi tidak setiap lukisan itu abstrak, dan tidak setiap musik atonal," balas Arsuka, dst. Sampai kemudian Chavcay dari Media Indonesia turut nimbrung, dengan mengambil terminologi karya pada abad-abad lampau.

Sementara Gus tf yang kadang duduk di antara Martin Aleida dan Hamsad Rangkuti, kadang di depan bersama Radhar, tetap saja tersenyum-senyum. Sementara Endah tetap duduk di kursi tinggi bar sambil ngobrol dengan Farah yang wajahnya khas bintang sinetron.

Benar, yang hadir pada acara itu tak banyak, sekadar memenuhi jumlah kursi yang ada. Namun para tamu itu rasanya 'bukan orang sembarangan'. Tercatat oleh saya: Hamsad Rangkuti, Nirwan Dewanto, Ubiet, Martin Aleida, Chavcay Syaifullah (Media Indonesia), Sori Siregar, Binhad Nurrohmat, Melvi (Matabaca), Adi Wicaksono, Eka Kurniawan, Ratih Kumala, Ica (istri Ignatius Haryanto), Farah (artis sinetron), Edy A. Effendi (redaktur budaya Media Indonesia), Hasif Amini, Lulu (penyair), Arie F Batubara (pengamat teater)

Karlina Leksono pamitan sebelum terjadi polemik lisan, karena kakinya mulai kesemutan. Hasif Amini juga menghilang diam-diam sebelum diminta menjadi penanggap selaku 'pawang' puisi di Kompas Minggu.

Saya memilih sebagai penikmat saja. Melvi Matabaca yang duduk di sebelah saya juga menggeleng-geleng, mungkin pusing dengan perdebatan tingkat tinggi, yang tak semuanya dapat saya tuliskan di sini. Rupanya diskusi mereka (dua Nirwan, dikelilingi para 'ahli' sastra) berlanjut secara lebih intens seusai acara diskusi resmi. Tapi saya perlu pulang, tak tahan dengan asap rokok yang mulai menyesaki ruangan. Tentu saya pamit setelah: 1. Memotret Endah berdua dengan Gus tf, dan 2. Memastikan Gus tf menginap di mana (rupanya ia bermalam di rumah Edy A Effendi).

Malam melarut, suhu susut, waktu beringsut...

(Kurnia Effendi)