Monday, May 01, 2006

JEDA 1 Mei 2006

Sehamparan Harapan

Harap-harap cemas adalah perasaan paling logis yang tumbuh pada setiap karyawan sewaktu terdengar rencana pihak mamajemen untuk melakukan perombakan struktur. Pembicaraan pun berkisar kepada semacam spekulasi: berubah tugas, pindah tempat, masih terikat atau terlepas...oleh rasionalisasi. Sejak itu pula, masing-masing merasa perlu menilai diri sendiri, mencari kekurangan orang lain, membicarakannya dengan nada sengit. Mata dan telinga dibuka lebar untuk sebuah gosip sekecil apa pun, siapa tahu bisa menjadi modal untuk menelusuri arus besar kasak-kusuk. Tetapi, apakah itu berguna?
Memandang diri sendiri di tengah cermin yang mendadak dipasang hari ini, apakah bukan sebuah keterlambatan? Mungkin tidak; sepanjang yang menggerakkan niat itu adalah kesadaran ingin maju dan memperbaiki kinerja. Jika kepala kita telanjur dipenuhi pelbagai prasangka, nyaris tak ada tempat untuk memulai prestasi. Apalagi seandainya hal itu didasari dengan runtuhnya semangat.
Seorang yang putus asa, matanya seperti mendadak buta. Terutama, mata hatinya. Kita memang tak pernah tahu di mana harapan ditebar atas nama nasib manusia. Bagi si pendek pikir, ada semacam ketentuan yang diyakini, bahwa rajah di telapak tangan kita itu mutlak. Tercetak permanen. Dan hanya bisa diubah oleh, misalnya, reinkarnasi.
Sesungguhnya, apa pun yang hidup selalu membutuhkan perkembangan. Ada pertumbuhan, baik secara alamiah maupun rekayasa. Gurat pada telapak tangan pun akan mengikuti pola perilaku ikhtiar kita, karena ia berada pada lapisan daging yang akan terus berdenyut mengikuti irama bioritmik jiwa pemiliknya. Bahkan (jika boleh ngomongin orang) ada perubahan setahap demi setahap pada wajah Michael Jackson dan Krisdayanti, jika membandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Si pemilik wajah, pasti menginginkan sekaligus melakukan perubahan, untuk sebuah harapan.
Ketika seseorang merenung di sudut tangga darurat, seraya menuntaskan batang rokok yang dihisapnya, terpandang olehnya tentang nasib diri yang melayang-layang tak tentu bagai asap yang diembus dari mulutnya. Sekuat apa pun ia meniup, akan terurai oleh udara. Bagi si pendek pikir, ia merasa tercekam oleh kemandekan karirnya. Barangkali dia tak melihat buah-buah ilmu di sekitarnya. Cobalah ia petik: dengan sebuah kehendak untuk peningkatan diri, berpikir keras di antara yang lain, membaca semua tanda dari pelbagai sumber, memahami setiap proses... Tentu tak akan seburam itu lanskap di hadapannya.
Mungkin kita lupa, bahwa sejak awal, kehidupan ini dibarengi dengan kesepakatan persaingan. Dengan bekal ilmu, tentu ada upaya untuk menjadi unggul tanpa harus menjatuhkan lawan, dalam mencapai harapan. Namun tampaknya, banyak di antara kita melihat harapan hanya didasarkan kepada ego pribadinya. Padahal, keterbatasan diri biasanya hanya memberikan satu cakrawala, yang membuat kita terpesona pada wawasan tunggal. Misalnya saja, ketika diminta untuk menyebutkan sebanyak-banyaknya mengenai yang "panas dan berguna"; di kepala kita penuh dengan simbol: api, setrika, kompor, matahari, kuah soto... Lantas kita merasa surprise ketika muncul lambang lain, yang sebelumnya tidak singgah dalam benak, misalnya: kritik, emosi, demo RUU APP, breaking news, berita politik, ... Bukankah itu juga "panas dan berguna"?
Seolah-olah kini ada tirai yang disingsingkan, dan mata kita silau oleh cahaya di luar sana. Selama ini, mungkin kita hanya belajar dengan satu pola, tercekam dalam ruangan yang sama, sementara di balik dinding banyak meteor berlintasan. Di seberang memang terdapat hamparan luas. Barangkali belum kita kenal, namun tempat yang (semula) asing itu, tidak mustahil penuh taburan harapan. Dengan demikian, apakah perubahan harus diciptakan oleh pihak lain? Apakah kita akan menunggu sampai sesuatu jatuh dari langit? Bukankah harapan senantiasa terhampar di depan mata-hati yang selalu mencari? Kuncinya mungkin pada kata: kepercayaan!
Lagi-lagi saya teringat pada satu baris lirik lagu Leo Kristi yang berjudul Marga, Souvenir Pojok Somba Opu:
... kepercayaan pada esok dan lusa, aku suka.

***

(Kurnia Effendi)