Friday, May 26, 2006

Kolom Jeda Tabloid Parle Edisi 38, 22 Mei 2006

BANGKIT
kurnia effendi
ACAP kali kita merasa paling nelangsa, ketika mobil yang setiap hari kita kendarai ke kantor tiba-tiba mogok. Menit merambat cepat, tak dapat menghindar dari terlambat. Keringat mengalir membasahi kemeja karena tak terlampau paham perihal mesin, lalu-lintas pun terhambat gara-gara kendaraan kita. Padahal janji meeting tinggal sebentar lagi, masih banyak yang harus disiapkan pada sepenggal pagi. Menelepon montir untuk mengurus mobil? Menelepon teman sejawat untuk membantu ini-itu? Mencari taksi sebagai kendaraan pengganti? Saat itu, baru kita sadari, bahwa segala yang beres dan normal, merupakan kenikmatan. Begitu rutinnya nikmat, membuat kita lupa bersyukur.

Karena saya sedikit pandai menulis, segala pekerjaan yang melibatkan aksara dan makna, tidak memerlukan waktu lama buat merangkainya. Dengan satu atau dua buah buku sebagai hasil karya, sudah merasa bangga ke mana-mana. Terbiasa dengan komputer mutakhir, tentu bakal enggan menulis dengan piranti zaman baheula. Sedikit saja surut ke belakang: ketika lampu belum seterang ini, saat mengirim naskah harus melalui jasa tukang pos, manakala untuk membuat halaman rangkap terpaksa memasang kertas karbon di antara dua lembar dorslaag; ... uf, mana mungkin terlahir karya besar? Ya, saya telah menafikan sebuah sejarah asal-muasal dengan congkak.

Lalu pada suatu hari, saya melakukan perjalanan dinas ke Malang. Seorang teman, Lan Fang, mengajak saya untuk singgah di rumah perempuan pengarang bernama Ratna Indraswari Ibrahim. Kami ditemui di beranda kamarnya, yang menghadap kolam dengan air mancur kecil. Di sekitarnya tumbuh beberapa batang cemara. Sungguh sebuah tempat yang inspiratif. Pantas jika Mbak Ratna begitu produktif menulis. Tapi, bagaimana cara Mbak Ratna menulis? Sejak remaja dia lumpuh, sehingga separuh dari waktunya sehari-hari dihabiskan di atas kursi roda. Sedangkan tangannya tak bisa bebas bergerak. Serta-merta saya merasa malu melihat diri sendiri: bukankah saya seharusnya lebih produktif ketimbang dia? Apa yang kurang pada diri saya?

Bulan berikutnya saya duduk satu meja dengan seorang pengarang belia untuk bersama-sama menjadi pembicara. Siang itu, kami meluncurkan novel remaja. Saya gemetar saat menyadari bahwa Melissa Puspa Chandra, novelis berusia 18 tahun itu, ternyata tunanetra. Bagaimana cara dia menulis? Sedangkan untuk membaca catatan sebagai bahan bicara pun menggunakan huruf Braille? Saya merasa tak tahu diri, karena anugerah yang saya miliki belum optimal saya kerahkan. Apa yang kurang pada diri saya?

Dapat disimpulkan, selama ini saya masih tergolek malas di ranjang waktu. Padahal senantiasa tersedia kesempatan untuk bangkit dan mulai melakukan apa saja yang bermakna. Membaca, menulis, berkarya, menyingkap kabut yang membatasi pandangan kita terhadap cakrawala harapan di baliknya. Barangkali ada sebuah contoh menarik untuk memulai langkah baru justru ketika kita sangat lelah, agar tak pernah menyesal.

Ada seorang perenang wanita yang berambisi menaklukkan selat-selat dan teluk di dunia dengan cara berenang menyeberanginya. Dalam catatan sejarah, warga negara Amerika itu telah menaklukkan beberapa selat terkenal. Dan ia bermaksud menyeberangi Selat California.

Pada pagi musim dingin yang berkabut, di saat banyak orang lebih suka meringkuk di tempat tidur atau ngobrol di depan perapian, ia justru memulai debutnya. Segala persiapan dilakukan, termasuk dukungan pihak keluarga. Saat itu, musim dingin mencapai puncaknya. Manakala orang lain tak berminat keluar rumah, wanita perenang itu justru menceburkan dirinya ke dalam laut.

Mulailah pertarungan untuk mencapai rekor sebagai orang pertama yang menyeberangi Selat California. Namun pandangannya tak lebih dari seratus meter ke depan karena tebalnya kabut di atas permukaan laut. Perjuangan yang sungguh berat, tapi semangat perenang itu luar biasa. Sepanjang berenang, ia hanya memercayakan kepada arah yang dituju, di bawah kesaksian tim yang terus memberi dorongan. Setiap aral rintangan berupa ikan hiu dan binatang laut dihalau oleh tim pelindung. Ia terus berenang melawan ombak, menyongsong kabut yang tak pernah kunjung menipis, sampai akhirnya ia berputus asa. Sanak-saudara dan para sahabat beserta tim pencatat rekor terus memberi semangat agar ia meneruskan berenang. Air matanya tumpah dan ia sudah berada di puncak lelah, sementara di depan pandangannya terbentang kabut putih semata.

Akhirnya menyerahlah dia! Ketika tubuhnya dinaikkan ke atas kapal untuk meneruskan perjalanan ke tepi pantai, ternyata sisa jarak pantai tujuan tak lebih dari setengah mil. Jarak yang sungguh dapat ditempuh seandainya perenang itu bersedia bersabar beberapa saat. Kenyataan itu membuatnya kecewa luar biasa dan tak bisa memaafkan diri sendiri. Ia tak pernah menduga, di balik kabut itu terbentang hamparan pantai tujuan.

Meskipun pada kesempatan berikutnya ia mampu mengulang dan berhasil menyeberangi Selat California, peristiwa kegagalannya itu menjadi torehan luka yang tak terhapuskan. Kabut telah menipu pandangannya!

Dengan demikian, waktu yang telah saya sia-siakan tanpa sungguh-sungguh berjuang, sama halnya dengan membiarkan 'kabut' di depan mata terus menipu. Tak ada alasan buat saya untuk tetap tergolek di ranjang dengan selimut kemalasan. Sementara Ratna Indraswari Ibrahim dan Melissa Puspa Chandra tak henti menjalin karya. Bangkit adalah kata yang tepat untuk berdiri dan melangkah mengusir kabut. Sebagaimana kebangkitan kaum intelektual pendahulu kita, hampir seratus tahun lalu, untuk mulai menyingkap selimut penjajahan yang mengepung berlarut-larut.

Untuk menaklukkan malas, kesia-sian, rasa letih, putus asa, sekaranglah waktunya. Untuk bangkit, masihkah kita akan menunggu? ***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home