Tuesday, June 06, 2006

Menjawab Surat Alma

Alma, salam kangen
Mengapa Shinjuku? Tentu karena aku tak tahu daerah yang lain yang lebih indah dari itu. Ceritanya begini. Suatu malam setelah kami check in di Keio Plaza, teman-teman mengajakku ke Shinjuku. Kami berangkat pukul 11 malam, berjalan kaki. Untunglah yang dilewati adalah jalan aspal dan trotoar yang bersih, tidak seperti di Jakarta yang bertebar sampah atau terlampau polusi.
Aku penasaran karena Shinjuku, seperti yang Alma sampaikan: daerah 'lampu merah'. Benar juga. Aku takjub melihat suasana 'pasar malam' yang tak biasa. Begitu banyak manusia, dengan dandanan yang funky, berjubel mulai dari stasiun subway, perempatan jalan raya, dan gang-gang seperti di daerah Kota (di Jakarta). Semua gedung menyala oleh lampu iklan yang mungkin memboroskan berjuta-juta watt. Suasana seperti siang hari, padahal itu sudah lewat tengah malam.
Di salah satu tikungan, bersandar tiang lampu, di tengah lalu-lalang kaum muda yang tak jelas ngomongin apa, aku merasa teralienasi. Maka menulislah aku, 13 puisi berjudul Shinjuku. Mengapa aku kemudian merasa sendiri? Karena sebagian yang lain larut dalam live show yang mempertontonkan adegan telanjang. Aku sempat juga masuk ke deretan sex shop dan melihat pelbagai benda mulai dari yang normal seperti kondom sampai cambuk untuk kaum masokis / sadis.
Terpikir saat itu, bahwa aku sebagai tokoh dalam cerpen atau novel harus bertemu dengan seseorang di tempat itu. Tentu bukan pertemuan itu yang menjadi sangat penting, namun proses untuk ketemu, atau segala peristiwa sepanjang menunggu.
Selain tempat itu, aku juga terkesan dengan Ginza. Itu pun hanya satu jalan yang kususuri siang hari (waktu itu berdua Chandra Juniastanty) sejak dari showroom Nissan di ujung perempatan dengan sculpture berpuncak jam sampai ke restoran dimsum John Manjuro di Ginza Nine, di bawah jembatan penyeberangan. Kami lewati toko fashion Pal Ziteri, toko buku Fukuya, dan singgah di kedai souvenir yang cukup lengkap menyediakan aneka macam kado.
Untuk persentuhan emosiku dengan tempat itu sudah kutuangkan dalam bentuk cerpen yang kemudian kuhadiahkan buat ulang tahun Seiji Itayama. Cerpen itu kukirim pada Alma, baca dan berikanlah semacam komentar ringkas. Dan setidaknya, aku akan membuat cerita-cerita sejenis dengan latar-latar yang berbeda. Di situlah peran Alma kuperlukan. Dengan demikian, suasana Harajuku, Shibuya, atau Sibolga (eh, kalau ini kota di Sumatera Utara ya?), akan menjadi bagian yang memperindah cerpenku.
kurnia effendi