Thursday, June 01, 2006

Cinta Separuh Malam

Cerpen Kurnia Effendi di Tabloid Nova 8 Mei 2006

GERIMIS menyambut kedatangan Arifa di bandara Soekarno-Hatta. Titik-titik jarum air itu terus-menerus turun sampai ia tiba di teras rumah. Ia mendapatkan pintu tak terkunci. Diucapkannya salam seraya melangkah masuk dan meletakkan travel-bag.

Terdengar suara langkah lekas dari dalam kamar. Mama muncul dengan tangan terbentang dan Arifa segera tenggelam dalam pelukan.

"Kamu sehat, Nak? Mama tidak mendengar suara taksi datang." Mama memandang wajah Arifa dengan mata membasah.

"Rifa selalu merasa bugar. Justru Mama yang terlihat lebih ramping. Kenapa?" Arifa balik memandang Mama. Lalu seperti teringat sesuatu. "Mana Papa?"

Bukankah Papa yang mengatakan kangen padaku, pikirnya. Arifa bergegas menuju kamar tempat munculnya Mama. Dari pintu yang terkuak, ia melihat seorang lelaki pensiunan yang sedang terbaring di bawah selimut. Hei, sejak kapan rambutnya dibiarkan memanjang? Bertabur warna perak uban di sana-sini. Senyumnya merekah.

"Halo Papa!"

"Hai, Cemplon! Tambah cantik kamu!" Papa menyambut ciuman hangat Arifa.

"Meniru seniman, nih?" komentar Arifa, sambil membelai rambut Papa.

"Bukankah sejak dulu Papa seorang seniman?" Mama yang menjawab.

"Seorang pengarang dengan pekerjaan sambilan di perusahaan otomotif?" Arifa tertawa. "Rupanya ini yang dicita-citakan setelah pensiun..."

Papa hanya terkekeh. Sementara Mama keluar kamar membuatkan minum.

"Papa sakit apa sih? Sejak kapan? Tapi masih bisa menulis, kan? Ada buku baru lagi?" tanya Arifa beruntun, sambil memijat sepasang kaki yang terjulur di balik selimut. Pandangannya beredar ke rak buku di seberang ranjang. Hanya terpajang sejumlah novel favorit Papa dan buku-bukunya sendiri, untuk membanggakan diri. Ah, dasar narsistik!

"Papa tidak sakit, hanya kangen setelah setahun berpisah," ujarnya menghibur diri. "Buku baru itu masih setengah jalan, keburu harus istirahat. Padahal ingin selesai sebelum bulan purnama."

Tentu Arifa tergelak. "Kapan Jodi Givara berhenti jadi orang romantis?"

"Menurutmu?"

Arifa bicara dengan suara dibesarkan: "Saya tak akan pernah bosan menulis cerita romantis. Seumur hidup ingin tetap romantis."

Papa tertawa, mengacak-acak rambut Arifa. Buah hatinya ini sangat memahami degup jantung dan kuntum rahasia dalam hidupnya.

"Sana kamu ngobrol sama Mama. Papa menyusul. Rasanya jadi sehat mendadak, nih!" Namun ketika mencoba bangkit, terasa ada yang ngilu di pinggang, membuatnya meringis. Segera tangan Arifa menahan punggung Papa.

"Sudahlah, istirahat saja. Agaknya betul-betul menderita. Bukankah Rifa sengaja pulang untuk menemani Papa di kamar?"

*

SEHABIS mandi sore, Arifa menelepon beberapa teman masa lalunya. Ia tertawa-tawa. Tentu sedang membicarakan pacar masing-masing. Walaupun mereka sudah menjadi mahasiswa, gairah remaja masih saja bergejolak.

"Rifa," panggil Mama. Ia sejenak menghentikan percakapan teleponnya. "Mama mau beli bahan-bahan untuk bikin kue. Mumpung kamu ada di rumah, titip Papa ya? Jangan lupa obat yang harus diminum sesudah makan malam nanti."

Arifa mengisyaratkan dengan ibu jari, sebelum melanjutkan teleponnya. Lalu ia beranjak ke kamar Papa yang sedang membaca novel karya Akmal Nasery Basral. Virgo Desiderata. Rasanya itu bagian kedua dari trilogi Imperia. Langkah Arifa yang memang tak bisa terdengar pelan membuat Papa menurunkan buku dari depan matanya.

"Hai, sini Nak! Papa mau minta tolong." Arifa pun duduk di tepi ranjang. "Dua hari lagi tanggal 15. Apa yang kamu ketahui tentang itu?"

Arifa nyaris tertawa. "Kalau perhitungan bulan Jawa, tentu saatnya purnama. Itu malam paling romantis di dunia, sepanjang langitnya cerah. Ulang tahun pernikahan Papa dengan Mama kan sudah lewat? Dan ulang tahun Tante Maya, sahabat Papa di Singaraja juga sudah kadaluwarsa. Perlu dicarikan kartu pos?"

"Ada satu lagi yang perlu kamu tahu. Sebuah toko buku di depan Tamini Square! Namanya Perca. Manis, bukan? Kamu tahu artinya?"

"Perca? Yang kutahu, perca itu kain sisa guntingan di tempat tukang jahit. Atau getah pohon karet yang akan diolah menjadi berbagai barang, yang kemudian menjadi nama lain dari Pulau Sumatera," jawab Arifa.

"Ya, mungkin seperti itu. Serpih yang sangat bermanfaat ketika saling direkatkan atau apalah namanya. Tapi ada yang lebih penting dari itu."

"Itu yang ingin kudengar," Arifa menunggu Papa bicara sedikit terengah.

"Pemilik toko buku itu bernama Endah."

"Namanya indah?" potong Arifa.

"Endah! Endah Sulwesi..."

"Kenapa tidak Endah Sulawesi atau Kalimantan?" goda Arifa.

"Kamu mau dengar Papa bicara atau tidak?" Ayahnya pura-pura ngambek. Dan Arifa meminta maaf dengan cara yang sangat lucu. "Hampir setiap lepas siang, Papa berkunjung ke Perca. Di sana Papa punya meja khusus untuk membaca dan menulis. Endah selalu menyuguhkan secangkir teh hasil seduhannya dan sepotong brownies..."

"Tapi Papa tidak suka brownies, kan?" potong Arifa lagi.

"Ya, tapi Papa harus menghormati." Ayahnya merasa gemas. "Nah, sejak Papa terbaring seminggu yang lalu, tentu tak bisa berkunjung ke sana. Agaknya banyak orang mencari Papa, beberapa kali Endah mengirim pesan."

"Siapa yang mencari Papa?"

"Teman-teman yang singgah di sana. Beberapa bahkan dari luar kota. Kadang-kadang dicari mahasiswa sebagai nara-sumber untuk tugasnya."

"Ooo, begitu? Jadi apa yang harus kulakukan untuk Papa?"

*

HARI Sabtu sore, mula-mula Arifa menyusuri Jalan Cikini, melewati Taman Ismail Marzuki, dan memarkir mobilnya di pojok pasar bunga. Dua hari lalu, Papa menceritakan peristiwa yang terjadi bertahun-tahun lalu.

"Sepulang dari diskusi di Kwitang, kami harus mengejar acara peluncuran buku puisi Fatin Hamama di Kemang. Terpaksa Endah makan serba tergesa di dalam mobil, bukan candle-light dinner seperti rencana. Acara launching selesai menjelang tengah malam. Pulangnya kami singgah ke kedai bunga, tapi Endah menolak ketika Papa tawari untuk memilih. Papa tahu, dia ingin setangkai sedap-malam yang masih kuncup."

Jadi, pikir Arifa, sekarang akan kubeli bunga sedap-malam yang sebagian besar kelopaknya masih kuncup. Ia pun turun dari mobil dan memilih bunga dalam keranjang besar. Langit sehabis gerimis membuat segala jenis floris tampak demikian segar. Sembilan batang sedap-malam dibayar, dan ia kembali menyusuri jalan.

Sedap malam itu melengkapi kotak berwarna merah marun berhias pita. Di dalamnya tersimpan manuskrip novel "Cinta Separuh Malam" karya Jodi Givara yang belum selesai. Ah, Arifa jadi berdebar. Ini seperti sebuah warisan menjelang ajal. Papa tentu akan baik-baik saja! Sakit pinggang yang dideritanya hanya lantaran terlampau banyak duduk dan kurang olah raga. Usia Papa juga belum terlalu tua, masih lebih muda dibandingkan panyair Rendra, atau trubadur Leo Kristi.

Mobil Arifa meluncur di atas aspal basah, di bawah langit abu-abu muda, menuju kawasan Taman Mini. Ia akan parkir di seberang Tamini Square, tepatnya di Galeri Pustaka Perca, toko buku yang ramah sejak dari beranda.

Arifa mengisi buku tamu, lalu bertanya kepada resepsionis. "Bisa bertemu dengan Tante Endah Sulwesi?"

"O, silakan masuk saja. Beliau ada di ruang diskusi. Kebetulan ada pemutaran film koleksi Perca."

Arifa melangkah masuk dengan menduga-duga arah. Ia berhenti di tengah ruang buku utama yang memiliki dua relung, kanan dan kiri. Di sisi kiri tidak terdengar suara apa pun kecuali keresek halaman buku yang dibuka. Sedang di sisi kanan tampak kelebatan cahaya yang lolos memantul ke luar. Barangkali film diputar di ruang itu.

Seorang perempuan anggun berdiri di sisi pintu. Pada jemarinya terdapat kartu pos dan pena. Sejenak Arifa ragu hendak menyapa. Perempuan itu berbalik, seperti tahu ada yang sedang memperhatikan punggungnya.

Keduanya berpandangan beberapa detik sebelum saling tersenyum. Masing-masing menyimpan tanda tanya. Karena Arifa membawa kotak kado dan sehimpun bunga sedap-malam yang wanginya tersiar lembut, sedangkan perempuan itu memegang kartu pos yang sepertinya hendak ditulisi kalimat-kalimat penuh pesona.

"Mencari siapa?" tanya perempuan anggun separuh baya itu.

"Saya ingin bertemu dengan Tante Endah," jawab Arifa.

"Saya sendiri. Ada apa?"

"Oh, kenalkan nama saya Arifa." Tangannya terulur. Disambut hangat oleh Endah. "Saya putri Jodi Givara."

"Ya ampun!" Endah mempererat genggaman tangannya. "Baru sekali ini kita bertemu, bukan? Saya dengar ayahmu sedang sakit."

"Benar. Karena itu, Papa tidak dapat menyampaikan sendiri bingkisan ini." Arifa menyerahkan serumpun sedap-malam dan kotak marun berpita.

"Ah, apa maksudnya ini?" Sepasang mata Endah melebar saat menerimanya.

"Kata Papa, ini kado ulang tahun untuk Tante Endah."

"Terima kasih. Ini sungguh di luar dugaan. Saya hampir saja mengirim kartu pos berisi doa agar lekas sehat kembali. Sekaligus untuk menambah koleksi kartu posnya." Mata Endah berbinar-binar. Tapi pipinya merona merah, tersipu. Diajaknya Arifa ke sebuah sofa. Lalu dia memanggil seseorang untuk menyuguhkan secangkir teh.

Lalu percakapan mengalir seperti telah saling bertemu beberapa kali. Bahkan Arifa juga diperkenalkan kepada tamu-tamu yang tidak ikut nonton film.

"Jadi Arifa kuliah di Melbourne? Mengambil jurusan apa?" tanya Endah.

"Arsitektur, Tante."

"Kata ayahmu, kamu juga berbakat menulis. Kenapa tidak memilih Sastra?"

"Papa juga tidak kuliah di Sastra, tetapi novel-novelnya cukup digemari."

"Ah, benar juga." Endah tertawa. Seperti teringat sesuatu, ia pun mengajak Arifa ke sebuah sudut yang ditempati seperangkat meja dan kursi. Letaknya dekat jendela, menghadap ke timur. "Ini meja tempat ayahmu membaca dan menulis. Bahkan kadang-kadang tertidur."

Arifa pun mencoba duduk di situ. Matanya dapat memandang sebuah rak yang memajang buku-buku terbaik menurut versi Perca. Di antaranya Gabriel Garcia Marquez, Virginia Woolf, James Joice, Budi Darma, Emily Dickinson, Pramoedya Ananta Toer... Selain ruap khas aroma buku-buku, di ruangan itu juga tercium wangi teh.

Menjelang maghrib Arifa pamit. Sekali lagi mengingatkan kepada Endah, bahwa yang tersimpan dalam kotak adalah manuskrip novel Jodi Givara yang belum usai.

"Nanti akan saya baca," janji Endah sambil mengantar Arifa ke depan pintu.

Begitu mobil Arifa menghilang, Endah bergegas ke dalam. Tak sabar ingin segera membaca novel Jodi Givara. Pada halaman pertama, sesudah judul "Cinta Separuh Malam", Endah mendapatkan kalimat ini:

"Aku terbangun ketika embun berkerumun di permukaan daun. Ada desir angin yang lolos melalui sela jalusi jendela, membawa serta aroma kabut. Sisa malam membiarkan titiik-titik terakhir gerimis gugur. Kusentuh serat halus pada selimut rajutan buatan tanganmu, yang menutup dadaku hingga ujung bahu. Kuhirup sayup wangi jeruk nipis yang merebak dari setengah cangkir teh, yang tersisa setelah sekian jam terlena dalam tidur. Tinggal segaris cahaya lampu menerangi sisi rak buku, yang ditempati lima belas novel terbaik. Cahaya itu pasti berasal dari pintu kamarmu yang dibiarkan sedikit terbuka. Untuk meyakinkan diriku, bahwa di dalam gulita ruang pustaka itu aku tidak sendiri. Ada alunan nafas lain, ada denyut mimpi yang lain..."

Setetes air mata Endah meluncur begitu saja dan jatuh ke atas halaman aksara itu. Selekas yang ia mampu, segera dihapusnya. Ia tak ingin ada huruf yang luntur atau kertas itu menjadi bergelombang karena basah.

"Ya. Akhirnya kau tahu," bisiknya sendiri. "Selalu ada denyut mimpi yang lain!"

***
Jakarta, 2006

4 Comments:

Anonymous perca said...

Terima kasih, Kef, telah 'mengabadikan' namaku dan Perca ke dalam cerpenmu. Sungguh, sebuah kebanggaan tersendiri bisa menjadi tokoh cerpenmu. Sukses selalu untukmu, Sahabat!

7:45 PM  
Anonymous reygreena said...

Wow! Cerpen ini bikin aku berkhayal... Mungkin karena nama tokoh-tokohnya terdengar sangat akrab :)

10:06 PM  
Anonymous kef said...

Rey, andai aku mengenal dirimu lebih dekat, tentu suatu waktu akan menjadi tokoh dalam cerpenku, dan giliran temanmu yang akan mengucapkan kata senada: rasanya aku karib dengan tokoh dalam cerpen itu...
Hehe, trims, salam dari bumi pertiwi (kef)

10:12 AM  
Anonymous kef said...

Endah, terima kasih doanya. Salah satu cara saya menunjukkan rasa sayang kepada sahabat adalah dengan memasukkan nama mereka ke dalam cerpen. Sama halnya saya memasukkan pribadi sahabat ke dalam kehidupanku

10:23 AM  

Post a Comment

<< Home