Tuesday, September 05, 2006

Puisi Palestina

Kurnia Effendi:

 

PERANG

 

Inilah perangseperti cerita keseharian – yang

tak pernah diumumkan

Telah habis halaman untuk menuliskan nama-nama

: Jumlah korban tak terjumlahkan

 

Bayi-bayi dilahirkan

Di bawah hujan abu

mesiu

 

Disematkan pada mereka:

Nama

yang selalu ingin mengelak sebagai

sarang peluru

 

Anak-anak dibesarkan

pada lengkung tahun yang muram

Seperti bendera yang dikibarkan

Hanya separuh gagah, di setengah tiang

Melalui gambar rajah

di tangan yang kelak bersimbah darah

 

Mereka belajar membaca peta

Yang tak pernah kekal

batasnya

Angin gurun selalu menghapus

jejak dan gugus

Dengan kelopak hangus

jiwa yang terluka

 

Orang-orang ditahbiskan

menjadi pahlawan

pada genangan dendam

Karena perang iniseperti sebuah rutintak

pernah diumumkan

Bahkan pada beranda rumah

Tempat mereka selalu berkemah

 

 

2006

 

 

BERJUTA LARIK PUISI

 

Berjuta larik puisi pulang ke rumah sunyi

Mereka tak sanggup bercerita tentang para pengungsi

Di mana mesti diletakkan tanpa perasaan sangsi

Tubuh Palestina yang ditopang gemetar sepasang kaki

 

Ketika terpandang oleh mereka awan jingga senja

Seolah isyarat untuk terus terjaga

Ketika terdengar oleh mereka derap langkah tentara

Tiba waktunya untuk tak sekadar berjaga

 

Jalan yang mereka tempuh tak memiliki udara

Gua panjang penderitaan setia mengelilingi

Udara yang mereka hirup adalah jalan perang

Lukisan kepedihan dipahat pada ruh yang pergi

 

Luka terlampau nyeri karena nyaris tak terpahami

Darah terlampau merah karena tak ingin menyerah

Hidup begitu gugup berpetak-umpet dengan maut

Mati tak lagi ditakuti seperti janji yang harus ditepati

 

Akhirnya berjuta larik puisi kembali ke rumah sunyi

Mereka ingin tinggal di sudut rak perpustakaan

Untuk sekali waktu menjadi alamat ziarah

Tempat berhimpun para syuhada yang tak  pernah

sungguh-sungguh mati

 

2006

 

 

DI TEPI TIGRIS

 

Di tepi Tigris, perang itu berlangsung

Di tepi makam kami, kalian menangis

Untuk apa?

 

Ke tepi Tigris, kami semua dikirim

Penuh semangat sekaligus ketakutan

Menggembungkan dada dan ransel kami

Ke tepi Tigris, di masa lalu

Kalian tamasya. Menabur bunga, puisi

Dan surat-surat cinta

 

Ke tepi Tigris, kini tinggal ziarah

Kalian menabur bunga untuk mengenang

Karena saudaramu, kami yang malang,

pernah dijemput maut di sini

Untuk sesuatu yang sia-sia dan

berkepanjangan

 

Di tepi Tigris pasir bergelora

Mengubur sekaligus menumbuhkan

dendam-dendam baru

Tapi, untuk apa?

 

 

1992

 

 

JERUSALEM

 

Kami selalu berbondong dalam kubah rasa takut, juga

cemeti yang rajin melecut, berjalan lurus menuju plaza

tanah perjanjian itu. Kami selalu memaklumi diri sebagai

prajurit dengan pemimpin sebayang impian untuk sampai

pada Jalan Keselamatan, Darussalam yang tak pernah diketahui

titik bujur dan lintangnya dalam perjalanan hidup kami.

Kami selalu menjadi hikayat sebelum dilahirkan, dan tak

terbaca lagi nama kami setelah kematian. Kami adalah sebuah

garis takdir yang beredar pada orbit di luar peradaban, bermandi

debu dan darah, bermain peluru dan granat, yang kisahnya

senantiasa dibaca penuh hikmat oleh hampir seluruh umat,

dielu-elukan dalam puisi yang gemetar, meski mereka hanya

melihat secara samar-samar

 

Mungkin di jejak pendahulu kami ini ada sisa sujud untuk

diteruskan.

 

Perjalanan tak putus pandangan adalah shaf-shaf gaib yang

gema suara imamnya terlampau lirih untuk dicatat

pada buku perdamaian. Mereka belum sempat mendengar jelas

untuk menuliskan maklumat, terburu tinta itu kesat

 

Kota itu, entah apa namanya, telah mengubur dirinya

dalam timbunan jenazah kami

 

 

2006

 

 

CINTA TETAP TUMBUH

 

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan bunga

Ia tak bertanya, dari mana gerangan kuperolah kuntum lili itu

Ia terlalu tenggelam dalam perasaan yang megah

Seolah dunia memandangnya dengan mata berbinar

Sejenak terlupa, angin tetap mengirim debu

Pada antero derita yang ditanggungnya

 

Pipinya merah dadu

Sebuah paras yang luput dari lukisan perang

Bibirnya terbasuh kesumba

Oleh gemetar kata-kata yang hendak diucapkannya

 

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan mahkota

Yang terbuat dari kertas surat kabar, terlampau sederhana

Lalu ia janjikan sebuah pasmina

Yang pernah berbulan-bulan menutupi rambutnya

Seolah aku, dalam tiupan angin kering ini, telah mencium

aroma wangi lehernya yang melekat di ujung rajutannya

 

Matanya mengandung cahaya

Tentu itu api harapan yang sengaja dinyalakan

Sebelum aku pulang, istirah dari kemelut

Seraya merasa bersalah telah meninggalkannya

Dalam marabahaya

 

Tapi cinta tetap tumbuh

Seperti lumut yang mendekap batu

Ah, tidak!

Seperti butir pasir yang selalu kembali ke

hamparan gurun

 

 

2006

 

(puisi-puisi ini tampil di majalah AZZIKRA edisi September 2006)

 

 

6 Comments:

Blogger Iswara said...

Saya sangat menyukai tema-tema puisi seperti ini. Saya juga menulis puisi tentang Libanon, Palestina, dan Iran.
Silakan mampir di blog saya, http://jurnal-sastra.blogspot.com

9:23 PM  
Anonymous ibnukus said...

Bang saya minta puisinya satu ya...biar orang lain ikut baca ...trims

1:13 AM  
Blogger fadhillah-voe said...

Assalamu'alaikum
numpang copy puisinya ya buat pementasan ujian seni budaya di skul. thanks pecinta sastra

5:47 AM  
Blogger fadhillah-voe said...

Assalamu'alaikum
numpang copy puisinya ya buat pementasan ujian seni budaya di skul. thanks pecinta sastra

5:47 AM  
Blogger saranganta said...

izin copas ya....terima kasih

5:16 PM  
Blogger izzad mustaqim said...

Mas, mohon izin ngutip salah satu dari puisi diatas mas..

7:53 PM  

Post a Comment

<< Home