Friday, December 08, 2006

Poligami

TANPA pengalaman, berbicara tentang poligami tentu tidak meyakinkan. Namun demikian, jika harus mengalami terlebih dahulu, ada sejumlah bekal yang harus saya (kebetulan seorang lelaki dan menjabat sebagai suami dan ayah) dipersiapkan sekaligus sejumlah resiko yang harus saya tanggung, dalam waktu yang memanjang ke depan.

Poligami sebagai sebuah solusi melembagakan hubungan seksual dan perasaan antara seorang lelaki dengan lebih dari satu perempuan (dalam Islam), ketika itu menyangkut nama seorang kyai yang kondang sebagai panutan, membuat pembicaraan tentang perkawinan itu marak di seantero Indonesia. Kebetulan pula, bersamaan dengan beredarnya video hubungan seks seorang pejabat DPR ‘melawanseorang penyanyi dangdut. Seolah-olah Tuhan sedang berkenan memberikan pelajaran kepada manusia (Indonesia) yang harus disikapi dengan kearifan luar biasa.

Siapa yang tak benar dalam kasus keduanya? Mana yang cocok untuk lelaki dan wanita Indonesia dengan dua contoh kasus di atas? Bagaimana jika tetap bersitahan untuk tidak memilih keduanya?

Rasanya Puspowardoyo, yang dengan bangga bahkan memberikan piala bagi poligamian teladan, juga bukan kasus yang pertama. Karena hampir semua pemimpin pesantren merasa lebih afdol jika memperistri lebih dari satu perempuan. Lebihdihormati’, sebagaimana raja-raja di zaman dahulu (maupun yang tersisa sekarang). Bahkan pernah ditampilkan dalam acaraCanda Sindendi sebuah stasiun televisi, seorang saudagar batik yang memiliki 9 isteri, dan konon rukun-rukun saja. Dalam kelakar yang mungkin tulus, diceritakan, setiap Lebaran mereka akan menyewa bis untuk bersilaturahmi kepada seluruh mertua tanpa memisahkan masing-masing isterinya.

Yang penting adil, bukan? Padahaladil’, rasanya hanya milik Allah. Karena Rasulullah, sepanjang berpoligami (sepeninggal yang terhormat Siti Khadijah), juga tak pernah henti meminta ampun kepada Allah. Bagaimana kita yang manusia biasa, dapat memanipulasi nafsu syahwat menjadi sebuah cinta yang ‘lil alamin’? Dalam sejumlah riwayat, setiap kali Muhammad SAW sedang bersama salah satu isterinya, sang isteri merasa dialah satu-satunya yang dimiliki oleh Sang Nabi. Kesan ini membutuhkan tak sekadar seorang lelaki yang piawai menciptakan ‘drama’, melainkan juga karena ada petunjuk Allah.

Kini poligami menjadi pembicaraan yang kembali hangat, dipicu justru oleh penggemar Aa Gym yang kecewa. Saya dan dua orang teman pun ikut bergosip pada suatu kesempatan makan siang. Apa kira-kira alasan Aa Gym? Jika Aa membutuhkan teman dalam perjalanan dakwahnya yang kadang-kadang berminggu-minggu, mengapa dipilih seorang janda dengan anak tiga yang tentu akan sulit pula pergi berlama-lama? Andai tujuannya meredakan gejolak kompetisi para santrinya yang sedangmemperebutkanwanita cantik itu, dengan cara menikahinya, barangkali ada cara lain yang lebih elegan. Misalnya: mengumpulkan semua santri yang berminat, lalu meminta sang wanita memilih yang paling dia cintai, dan Aa bertindak sebagaiwali’nya. Eh, kami kok jadi tukang saran… memangnya ilmu kami sampai di mana?

Akan tetapi, tentu jauh lebih buruk bila memilih jalan seperti yang ditempuh oleh YZ dan ME – kebetulan keduanya menyandang nama indah Islami dan salah satunya bekerja untuk menjaga moral bangsa (kerohanian).

Pagi ini saya bertanya kepada rekan sejawat wanita, bagaimana sebenarnya sikap perempuan terhadap poligami? Sementara Dewi Yul yang pernah mendukung namun terempas juga pada akhirnya. Teman saya menjawab: “Dari hati yang paling dalam, seorang perempuan tak bisa menerima poligami.” Lalu ia mencontohkan, bahwa dalam ungkapan keikhlasan Teh Ninih, isteri pertama Aa Gym, terselip kata: “Ini cobaan terberat.” Artinya, dengan tingkat keimanan yang kuat pun masih memandang ini sebagaicobaan’, belumanugerah’. Lantas bagaimana halnya dengan perasaan isteri kedua dan berikutnya?

Baiklah, tanpa pengalaman, pembicaraan tentang poligami tentu nyaris nonsens. Untuk menasihati diri sendiri, mungkin sebaiknya saya ucapkan sesuatu yang juga tidak perlu menjadi amanat.

Wahai para lelaki yang telah berpredikat suami, setialah anda kepada satu-satunya isteri anda sampai akhir hayat. Wahai para wanita yang (kebetulan lebih banyak jumlahnya ketimbang lelaki) belum menemukan suami, setialah pada kelajangan anda sampai mendapatkan jodoh yang tidak akan mengganggu perasaan wanita lain.”

Ucapan di atas tentu karena sang penulis miskin pengalaman dan pengetahuan.

 

(Kurnia Effendi, untuk kolom JEDA tabloid PARLE, edisi 66)