Thursday, March 29, 2007

LAPTOP

PADA ulang tahun saya yang ke-19, ketika masih sekolah di STM Pembangunan Semarang, saya mendapat hadiah dari Ibu sebuah mesin ketik merk Olympia (jauh di bawah Remington). Warnanya broken dan ringan dijinjing. Saya sangat terharu karena Ibu mengantarkannya sendiri dari Slawi ke Semarang. Yang lebih mengharukan, Ibu datang ke sekolah saya, diterima di kantor guru, lalu pulang bersama-sama ke tempat kos.

Rupanya ada tiga hal yang melatari kejadian itu. Pertama, kata Ibu: “Ini kado untuk anakku yang telah menjadi pengarang. Kamu harus memiliki mesin ketik sendiri, agar tidak selalu menunda waktu pulang karena mesti menulis di kantor OSIS.“ Memang sejak setahun sebelumnya, persisnya November 1978, tulisan saya yang pertama tampil di majalah Gadis edisi ulang tahun. Selanjutnya beberapa cerpen saya menghiasi majalah remaja waktu itu.

Yang kedua, karena beliau meninggalkan rumah sesudah subuh, naik angkot ke Tegal kemudian menyambungnya dengan bis sampai di Semarang, tiba di terminal tujuan masih sekitar pukul 11. Tentu saya masih belajar di kelas. Menuju ke tempat kos akan lebih rumit dibanding mencari alamat sekolah yang saat itu sungguh terkenal, apalagi terletak di sudut Simpanglima.

Latar ketiga, antara sengaja dan tidak, Ibu bermaksud menunjukkan prestasi anaknya ke sejumlah guru yang mungkin ditemui di sekolah saya. Setidaknya pasti ada pertanyaan dari tuan rumah, semisal: “Apakah ada yang sakit sampai menyusul ke sekolah saat tidak libur? Apakah kiriman uang bulanan tidak melalui wesel pos agar tidak merepotkan?” Saya tidak tahu persis jawaban Ibu. Tapi kemudian beberapa guru tahu, bahwa saya mendapat hadiah mesin ketik dari ibunya karena prestasi pribadi. Bukan atas nama sekolah, bukan pula atas nama lembaga lain.

Saya sangat gembira menerima hadiah itu. Berulang kali tersipu ketika berada di ruang guru, mengingat sebutan bagi siswa yang sering dikunjungi ibunya sebagaianak mami”. Padahal, tak mungkin Ayah yang akan datang mengantarkan mesin ketik itu. Karena beliau telah meninggal sejak saya berusia 12 tahun. Ibu, tanpa disadari, telah menjadi single parent, membesarkan saya dan ketiga adik saya sendirian. Benar-benar sendirian karena Ibu adalah anak tunggal.

Nah, sekarang akhirnya terbongkar rahasia, mengapa saya memilih STM Pembangunan, yang hanya menerima maksimum 300 orang setiap angkatan. Karena STM Pembangunan, yang memiliki kurikulum 4 tahun (sampai kelas IV), menjamin alumnusnya langsung bisa bekerja. Saya berniat sungguh-sungguh agar setelah saya lulus, beban Ibu menjadi lebih ringan.

Kembali kepada hadiah dari Ibu, bahkan saya tak ternah terbayang untuk mengharapkannya. Gagasan itu sangat orisinal dari Ibu yang terketuk nuraninya untuk membekali sang anak ketika menunjukkan bakatnya sebagai potensi. Ibu, dalam pandangan saya kini, seperti sebuah lembaga pembiayaan yang melihat potensi kios rumahan akan semakin berkembang bila disuntik modal. Wah, keren juga jangkauan pikiran Ibu. Mungkin akhirnya saya akan berulang-kali terharu setiap memikirkan kejadian itu karena setiap kali tumbuh nilai baru.

Rasanya, setelah saya pikir secara dewasa, hadiah mesin ketik jarang disalahgunakan. Berbeda dengan hadiah DVD player untuk anak-anak kita misalnya. Begitu kita terlena, boleh jadi mengajak atau diajak teman-temannya yang nakal untuk memutar film porno. Atau misalnya hadiah sepeda motor bagi anak kita yang lulus SMP. Pasti sangat manfaat karena sebagai alat transportasi akan meringkas jarak tempuh dari rumah ke SMA-nya yang mungkin lebih jauh ketimbang SMP. Tapi siapa yang tahu, ketika setiap Sabtu sore sang anak tergabung dalam kelompok remaja penggemar kebut-kebutan? Jika tak beruntung, cepat atau lambat akan mendapat kabar kecelakaan yang membuat anak kita dirawat di rumah sakit atau terpaksa mengantarnya ke pemakaman.

Mesin ketik, mudah-mudahan, jauh dari kejadian semacam itu. Kecuali jika saya berbakat menjadi tukang pukul dan selalu menggunakan mesin ketik sebagai alat menyiksa orang. Atau, ini yang paling dekat kemungkinannya, saya bakal giat menulis cerita stensilan ala Enny Arrow atau novel detektif dengan bumbu seks seperti serial Nick Carter. Alhamdulillah tidak demikian citarasa saya.

Mesin ketik itu sangat berjasa bagi karier kepenulisan saya. Setidaknya telah membuat saya lebih produktif, bahkan ketika bekerja di Konsultan Perencana Arsitektur Niti Pola Chandra Semarang selama tiga tahun. Cerpen-cerpen cinta lahir dari entakan jemari saya siang atau malam, tersebar di majalah Gadis, Puteri Indonesia, Nona, Anita Cemerlang, Fimela, dan suratkabar Suara Merdeka. Saat saya kemudian melanjutkan kuliah ke Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB Bandung, mesin ketik itu menjadi harta paling berharga yang menjadi penopang biaya hidup. Honornya, termasuk hadiah-hadiah lomba fiksi memang selalu dikirim menggunakan alamat Ibu di Slawi, namun Ibu membaginya kepada saya untuk membayar biaya kos.

Sayang sekali, mesin ketik itu raib sudah, dicuri oleh pembongkar kamar kos saya di Bandung, ketika saya menginap di rumah teman saat mulai belajar bekerja di Studio Grafis. Ya sudah, saya toh dapat membeli mesin ketik baru, seraya terus mengenang yang lama. Pertanyaannya: Mengapa saya sengaja menceritakan memori lama ini?

Saya hanya ingin turut bertanya, sebagaimana rakyat menggugat. Mengapa anggota DPR akan mendapat fasilitas laptop dengan harga 21 juta per buah, sementara rakyat masih dirundung kesulitan ekonomi?” Ada jawaban, bahwa laptop berguna untuk meningkatkan kinerja anggota DPR. Saya hanya ingin bercermin pada diri sendiri dengan kisah masa lalu, sehingga dapat menyumbang pendapat: “Tunjukkan dulu kinerja dan prestasi yang baik, kami rakyat yang anda wakili tentu akan memberi hadiah laptop.“

(Kurnia Effendi)