Monday, December 10, 2007

Acapella Mataraman

Kesegaran di Tengah Kejenuhan

Memelihara kesenian tradisional memang tak gampang. Serbuan budaya Barat telah menyihir masyarakat kita berpaling ke wilayah yang dianggap modern. Mulai dari musik, seni lukis, sastra, bahkan teater atau pertunjukan. Kehadiran televisi, yang pernah menjadi faktor kecemasan bagi Pramoedya Ananta Toer terhadap perubahan budaya baca, akhirnya memang jadi kenyataan. Telaah yang pernah dibuat oleh Taufiq Ismail, sastrawan Angkatan ’66, memperkuat bukti bahwa orang Indonesia malas membaca. Padahal, menurut Nehru, ayahanda Indira Gandhi, buku adalah jendela dunia. Tanpa perlu melangkah ke luar benua, kita dapat memetik informasi dari seberang terjauh. 

Nasib kesenian tradisional nyaris di ujung tanduk. Barangkali akan segera punah, tinggal menjadi artefax sunyi, ditinggalkan para pewarisnya. Kita baru merasa terpanggil secara moril, terbangun dari ’tidur panjang’, ketika negeri jiran tiba-tiba mengakuinya sebagai karya leluhur mereka. Sebut saja keris, batik, angklung, dan lagu-lagu daerah kita.

Di tengah hiruk-pikuk khazanah seni modern, membanjirnya musik pop yang berkiblat pada Amerika dan Eropa, kemunculan Acapella Mataraman yang menamai kelompoknya sebagai Cangkem Kuadrat (dari bahasa Jawa yang boleh diterjemahkan sebagai Mulut Ganda) sungguh sebagai surprised. Mereka terdiri dari orang-orang sederhana namun telaten merawat kesenian adilihung. Memang tidak murni menyajikan pertunjukan sesuai kesenian yang menjadi akar muasalnya: tembang, tari Jawa, dan karawitan; tetapi ada upaya untuk melestarikan citra tradisional gaya Mataram (Yogyakarta).

Di bawah pimpinan Pardiman, kelompok yang terdiri atas 9 orang itu mampu memukau penontonnya di Teater Utan Kayu pada Jumat dan Sabtu malam (30 Nov-1 Desember 2007) yang lalu. Mereka menyajikan 9 komposisi (Pardiman menyebutnya repertoar, mengundang tawa di awal pertunjukan), dengan masing-masing tembang memiliki daya tarik tersendiri.

Mari kita simak judul lagu-lagunya. ”Jursengsong”, ”Jinengan Uler Kambang”, ”Rasa Sayange”, ”Empring”, ”Iku Ono Iku”, ”Dolibret”... Mereka menyebut ”musik” itu sebagai orkescang (bukan orkestra). ”Apa itu?” tanya penonton. ”Orkes Cangkem, hahaha...”

Memang seluruh musik menggunakan mulut. Bergantian mereka (enam lelaki dan 3 perempuan) menyuarakan kata-kata dan meniru bunyi alat musik. Bunyi-bunyi aneh yang lahir dari kreativitas mereka sering tak terpikir oleh penonton. Konfigurasi antara dagelan gaya Mataram dengan sisipan tari yang dipetik dari khazanah dangdut saling mengisi lirik lagu yang kadang bercerita, namun kadang berupa kalimat panjang sang vokalis tanpa kandungan makna, dengan irama blues pula.

Sindiran muncul pada beberapa tembang. Misalnya tentang lagu Rasa Sayange: “Kalau bukan milik kita lagi, ya sudahlah….” Juga tentang Reog Ponorogo dan Sinarko. Kata Pardiman di awal nyanyian: “Nanti anda akan tahu judul dan maknanya di akhir lagu.” Rupanya mereka sedang berkisah tentang pengaruh (si)narkoba. Pada komposisi ini, Tere Wulandari berjoget dengan gerakan lentur-luwes tak kalah dengan Inul Daratista. Dari sisi ini, Cangkem Kuadrat tidak “kuper” (kurang pergaulan), justru menunjukkan keterlibatannya dengan masalah sosial dan perkembangan Indonesia secara up to date.

Kata “pelajempol” yang merupakan plesetan dari “pelajari”, atau “bertubi-tubi” yang diganti dengan “ber am-is-are” (to be dalam bahasa Inggris) disampaikan dengan mimik yang bersahaja, tidak bermaksud ingin benar-benar lucu. Celoteh penonton yang kemudian ditanggapi, merupakan adegan yang melengkapi kesempurnaan sajian mereka. Sembilan lagu yang telah direkam dalam bentuk compact disk (CD) itu tandas dibeli oleh penonton pada malam pertama. Malam kedua, banyak penonton yang mengulang hadir, di antaranya membawa handycam. Ternyata, penampilan mereka yang mengangkat unsur tradisi mataraman menjadi kesegaran tersendiri di tengah kejenuhan kesenian pop. Bagi kalangan tertentu, misalnya suami Debra Yatim yang kerap terpingkal-pingkal, mungkin merupakan bentuk klangenan yang sulit ditemukan akhir-akhir ini.

Konon mereka adalah sempalan dari kelompok Kua Etnika yang dipimpin oleh Djaduk Ferianto. Dan konon mereka yang menyempal ini termasuk orang-orang paling kreatif mengolah humor. Soimah Poncowati, salah satu primadona, awalnya adalah seorang sinden bersuara menakjubkan. Lantaran ia menjelajah wilayah pop dengan menyanyi untuk banyak aliran musik, “rusak” sudah pakem kesindenannya. Tetapi jangan khawatir, kita masih terpesona dengan lantunan suaranya yang bening dan tinggi.

Pertunjukan sepanjang satu setengah jam itu terasa terlampau cepat karena seolah mengalir tak berjeda. Setiap perpindahan lagu selalu berubah blocking. Kekompakan gerakan mereka menunjukkan keseriusan dalam menggarap tontonan. Masing-masing menunjukkan kemampuan yang seimbang. Sejak awal hingga akhir tidak berubah energi. Sebagai lagu pamungkas—mungkin merupakan komposisi paling panjang—dimulai  dengan tembang Pangkur. Klimaksnya berupa adegan wayang yang diperankan oleh manusia dengan dalang, yang akhirnya terbunuh oleh tokoh wayangnya. Bahkan untuk undur diri, mereka “mengutip” gaya bersalaman di masjid seusai salat jamaah: sambung-menyambung keluar pintu. Penonton dengan sisa tawa di mulut, ditinggal dalam ruang teater berkapasitas 80 orang, masih terpesona hingga akhir suara…

Kiranya patut dipuji Teater Utan Kayu yang telah mengundang mereka tampil. Setidaknya, karya mereka sejajar dengan monolog Butet di Taman Ismail Marzuki, Wayang Suket kreasi Slamet Gundono, atau tari topeng Cirebon. ***

(Kurnia Effendi)