Thursday, December 06, 2007

Syukuran Bela Studio

Meluncurkan Dua Buku Cerpen Rendra

Rendra menulis cerpen? Bagi sebagian besar pecinta sastra mungkin akan bertanya demikian sehubungan dengan kabar peluncuran dua buku kumpulan cerpen karya Rendra. Selama ini kita mengenal si Burung Merak (sebutan bagi Rendra) itu “hanya” sebagai penyair dan dramawan. Namun ternyata, di masa muda, menulis cerpen justru menjadi awal kariernya sebagai sastrawan.

            Cerpen pertamanya ditulis tahun 1954. Alangkah jauhnya masa itu dari hari ini, lebih dari 50 tahun yang lalu. Tetapi kita akan segera percaya begitu melihat setiap jejak tulisan cerpen Rendra di tahun-tahun 50-an yang dimuat di majalah Kisah, majalah Siasat, dan Minggu Pagi. Saat itu Rendra masih berusia dua puluh tahunan (lahir 7 November 1935). Menurut riwayat, bahkan para redaktur majalah sastra masa itu sering memesan cerpen dengan cara prabayar kepada Rendra—hal yang berusaha dihindari, karena Rendra secara pribadi ingin puisi-puisinya yang dimuat. Namun demikianlah, sejarah telah mencatat namanya menjadi penulis cerpen.

            Mengapa kemudian Rendra ingin mengubur dalam-dalam mengenai satu keahlian sastranya itu? Menurut Binhad Nurrohmat yang pernah bertanya langsung kepadanya menjelang buku cerpennya diterbitkan, adalah: “Karena saya sudah bisa hidup dari puisi.” Bercanda atau serius jawaban itu, Edi Haryono, penulis dan pemimpin Bela Studio yang pernah lama ikut Bengkel Teater Rendra menambahkan, bahwa Rendra ingin melepaskan “dekorasi” yang melekat pada dirinya. Cukuplah dengan nama Rendra, misalnya, lalu membuang embel-embel WS di depannya. Begitu pula soal identitas atau jati diri, cukuplah Rendra disebut sebagi penyair saja.

            Itulah, mungkin, ciri seorang yang semakin bijak dan waskita. Semakin tinggi ilmu, semakin tenar nama, semakin runduk pula jiwanya. Jadi, setelah sekian tahun yang lalu teman-teman sastrawan mengusulkan agar cerpen-cerpen Rendra dibukukan, sang empunya cerita tidak merespons. Barulah ketika penerbit Burungmerak Press yang didirikan oleh Edi Haryono tahun 2005 berhasil menerbitkan 6 buku, Rendra tergelitik untuk menerbitkan kembali sejumlah cerpennya di masa lalu. “Cerpen-cerpen itu ada hubungannya dengan keadaan diriku saat itu,” demikian alasannya.

            Akhirnya dua buku itu terbit bersamaan pada bulan Oktober 2007. Buku pertama, Ia Sudah Bertualang (berisi 9 buah cerpen yang ditulis antara 1954-1957) dianggap cetakan kedua karena di tahun 1963 pernah terbit sebagai buku dengan judul antologi yang sama. Buku ini diberi catatan kritik oleh Seno Gumira Ajidarma, cerpenis yang merasa pernah belajar dan karya-karya awalnya terinspirasi cerpen Rendra. Buku kedua, Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu, diberi pengantar oleh Binhad Nurrohmat, berisi 18 cerpen yang ditulis antara 1954-1961.

            Peluncuran kedua buku dilaksanakan Minggu malam 25 November 2007 di Bela Studio, Rawa Kuning, Cakung, Jakarta Timur. Acara tersebut sekaligus syukuran Bela Studio sebagai penduduk baru di Gang Kemun sejak empat bulan yang lalu (sebelumnya bergiat di Rawamangun). Edi Haryono, pendiri dan ketua Bela Studio, membuka sanggarnya untuk masyarakat sekitar yang berminat mendalami kesenian terutama sastra. Kelebihannya dengan sanggar-sanggar lain, Bela Studio juga memberi tempat untuk anak-anak belajar mengaji dan mendiskusikan tugas-tugas sekolah.

            Pada kesempatan launching buku Rendra, Erni Widayanti dan Ahmad Satrio dari Teater Merah membacakan masing-masing satu cerpen yang menjadi judul buku. Sebelumnya, Karang Taruna Rawa Kuning juga mempersembahkan pembacaan cerpen dengan narator dan tokoh-tokoh. Acara yang dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi Sutardji Calzoum Bachri (“Tanah Air Mata”) dan Chairil Anwar (“Persetujuan dengan Bung Karno”) dari anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Roda itu berakhir menjelang tengah malam. Pembicaraan mengenai Rendra sebagai seniman yang karya-karyanya lebih banyak bicara tentang manusia dari sisi romantik, berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer yang lebih ideologis; memang sangat menarik. Sayang, malam itu, Rendra tak bisa hadir karena berada di luar kota.

(Kurnia Effendi)