Tuesday, April 29, 2008

Sosok Gangsar Sukrisno

Bangga di Belakang Layar.

Apa yang menarik dari dunia penerbitan? Yang dapat menjawab pertanyaan itu tentu seorang yang bertugas mengelola penerbitan. Salah satunya Gangsar Sukrisno, CEO Penerbit Bentang Pustaka.

“Tantangannya! Itu yang menarik. Memang berat menggelindingkan roda penerbitan karena buku bukan kebutuhan utama. Bagaimana cara menjadikan buku sebagai bagian kehidupan masyarakat? Selain itu, fungsi penerbit mirip sebuah klub sepakbola. Untuk mendapatkan naskah dan penulis hebat, kita harus punya seni dan kemampuan manajemen yang hebat pula. Terutama untuk merekrut dan mengakuisisinya.” Demikian ungkap Kris, sapaan karib Gangsar Sukrisno.

Tetapi rasanya nama “Bentang” pernah berkibar sebelum ditanganinya sejak tahun 2004. Benar adanya. Bahkan menurut pandangan beberapa kawan dalam dunia perbukuan, “Bentang” pernah membuat perubahan gaya penampilan sampul dalam khazanah buku sastra, dengan melibatkan para perupa grafis, sehingga kini muncul varian yang lebih kaya pada cover.

Lelaki yang hobi melakukan travelling ini lahir tanggal 12 Agustus 1966. Kuliah di Universitas Padjadjaran, Fakultas Jurnalistik, Jurusan Ilmu Komunikasi. Sebuah bekal yang pantas untuk pekerjaannya saat ini. Pergaulannya yang luas, di samping memang senang bicara (rasanya bakal sakit jika sempat kesepian), juga terkait dengan tugasnya dalam mencari bibit-bibit pengarang berbakat.

“Penciuman”nya yang tajam itu, di bulan Mei 2005, menemukan sebuah naskah manuskrip novel, yang kini jadi mega best seller. Laskar Pelangi. Pengarangnya, Andrea Hirata, mengaku tulisannya itu merupakan persembahannya kepada guru SD-nya, Ibu Muslihah. Tetapi tentu tak akan pernah menyesal ketika Bentang Pustaka berniat menerbitkannya sekitar tiga tahun yang lalu.

 Bagaimana dengan iklim pembaca sekarang? Kris menilai, minat pembaca masyarakat Indonsesia sekarang sudah membaik. “Sebetulnya, kalau mau sukses, kita buat agar pembaca bisa tahu ada buku bagus. Jadi kita harus pintar mengemas produk. Sebab, bagaimanapun buku adalah salah satu produk gaya hidup,” kata Kris.

Sebenarnya Kris memasuki dunia penerbitan tahun 1992, bergabung dengan Penerbit Mizan di Bandung. Setelah mendapatkan kepercayaan mengendalikan Bentang Pustaka yang dibeli oleh Mizan Group, kantornya pindah ke Yogyakarta. Pernah pula nyambi mengelola MP Book Point (toko buku dan kafe milik Mizan Publika) di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Namun sampai kini, minimal 3 kali dalam sebulan ia terbang ke Jakarta untuk rapat grup. Tak lupa istirah di Bandung setiap akhir pekan untuk berkumpul dengan istri (yang menjadi dosen di Unisba) dan kedua anaknya.

Ingin jadi pengarang? “Dulu, waktu kuliah, ada keinginan. Tapi, seperti manajer klub sepakbola, biarlah sekarang ini saya cukup menjadi bagian dari kesuksesan seorang penulis. Rasanya bangga dan bahagia kalau melihat penulis yang bukunya saya terbitkan bisa sukses,” ujarnya rendah hati.

Peran tokoh di belakang layar juga sangat penting. Penyandang nama Gangsar (dalam bahasa Jawa bermakna: lancar) ini, diharapkan oleh orangtuanya akan lancar hidup dan rejekinya, kebalikan dari saat kelahirannya yang sulit. Nah, nama memang sebentuk doa yang terabadikan, bukan?   (Kurnia Effendi)