Thursday, April 10, 2008

SULUK HIJAU

Seperempat Abad Rimbawan Indonesia

Departemen Kehutanan telah berusia seperempat abad. Ulang tahun perak itu diperingati oleh para rimbawansebutan bagi jajaran pegawai negeri di bidang kehutanandi Manggala Wanabhakti, pada Kamis malam 27 Maret 2008. Gedung yang mencerminkan hasil hutan: lembaran-lembaran kayu jati tanpa cela diukir oleh tangan-tangan piawai menghiasi dinding auditorium utama.

Tahun ini, peringatan ke-25 kementrian kehutanan itu mengusung tema Suluk Hijau. Ada kesadaran yang hendak ditanamkan kepada seluruh masyarakat pecinta lingkungan untuk bekerja keras dalam melestarikan hutan, menjadikan Bumi ini tetap hijau, agar terlindung dari segala bencana sebagai efek dari pemanasan global. Suluk Hijau ditafsir sebagai kontemplasi mistis mengenai kehidupan. Terkandung nilai religius dengan menempatkan Allah mutlak sebagai Maha Pencipta yang tak tersamai dalam jagat raya, sementara manusia sebagai salah satu ciptaan-Nya selalu bersujud dengan kesadaran terhadap nilai-nilai yang tidak melanggar sunatullah. Suluk Hijau adalah penyadaran akan hal-hal yang berhubungan dengan manusia dan alam lingkungannya.

Adakah ini hanya slogan atau sungguh-sungguh sebagai niat yang perlu didukung oleh semua pihak? Hanya dapat dibuktikan oleh waktu dan tindakan yang menunjukkan ketulusan dalam memelihara Bumi. Dalam gedung yang dihadiri oleh hampir lima ratus undangan itu, himbauan masih ditunjukkan melalui teks peringatan dalam spanduk. “Merusak sejuta lahan gambut untuk lahan sawah yang ngawur adalah kejahatan terhadap alam dan bangsa.”  Semoga saja pernyataan itu bukan sekadar retorika. Selain itu, direntang juga spanduk yang menyinggung bencana semburan lumpur Lapindo sebagai kejahatan pada alam dan umat manusia.

Acara yang dibuka dengan paduan suara itu mempersembahkan karya tematik yang dikemas dalam bentuk musik, tarian, nyanyian, dan pembacaan puisi. Musik karya dan pimpinan I Wayan Sadra menutup sederetan sambutan sekaligus membuka pentas acara utama. Mengiringi pembacaan puisi “Koyan yang Malang” oleh Ayu Azhari. Pesona Ayu tentu bukan lantaran cara membacanya, melainkan oleh dandanannya: kain warna hijau dan coklat yang dibalutkan ke tubuhnya dan menyisakan hampir seluruh punggungnya terbuka. Pada kesempatan setelah tampil, ia mengatakan bahwa warna “baju”nya itu melambangkan hutan dan tanah.

Pada kesempatan berikutnya Gus Mus (Mustofa Bisdri) membacakan kisah para hewan yang kehilangan rimba raya akibat ulah manusia. Disusul dengan penampilan teater gerak, tari dari kelompok Wayang Akarawa pimpinan Ken Zuraida yang  memasukkan dialog dengan Menteri Kehutanan Malam Sabat Kaban dalam tanya jawab mengenai nasib hutan di Indonesia. Ini bagian yang agak membosankan meskipun sarat informasi.

Sebagai puncak acara, Rendra si Burung Merak tampil membacakan puisi. Masih dengan kharismanya, ia membawakan cerita muasal manusia Indonesia dari silsilah panjang. Namun kini secara moral sungguh terpuruk dalam kasus-kasus korupsi.

Sebelum dan sepanjang acara berlangsung, sajian bagi para tamu terus mengalir. Saat pulang, setiap tamu mendapat kenang-kenangan berupa buku tebal bertajuk Indonesia Menanam, A Gift to The World. Dicetak mewah dengan sampul keras, berisi tentang kiprah Departemen Kehutanan, kehidupan hutan, dan segala jenis variannya.

(Kurnia Effendi)