Tuesday, April 15, 2008

Berbincang dengan Nova Riyanti Yusuf

Psikiater Layak Duduk di Komisi IX

Melampaui pukul 20:00, di Starbucks lobi Hotel Ritz Carlton One Pacific Place kawasan Sudirman Central Business District, saya menanti kedatangan Nova Riyanti Yusuf. Memang tak mudah mencari waktu untuk mengobrol dengan Noriyu (panggilan akrabnya) di tengah kesibukannya sebagai Supervisor Bangsal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sembari menempuh spesialisasi Kesehatan Jiwa di Universitas Indonesia, yang juga penulis novel. Apalagi kini ia semakin aktif dalam tubuh partai.

Noriyu tiba dalam setelan hitam yang elegan. Senyumnya sudah terkembang dari jauh. Memesan teh rasa mint, menuang karamel ke dalam cangkirnya, lalu duduk di sofa.

“Puyeng aku!” katanya. “Ternyata acaraku nanti di Ritz Carlton Mega Kuningan. Jadi sesudah ketemuan ini, aku harus kabur.”

Aku memberi kesempatan Noriyu untuk duduk enak dan mulai mengajukan pertanyaan.

“Nor, cerita dulu tentang rencana bukumu, ya? Sudah berapa buku? Dan yang akan terbit ini buku ke berapa?”

“Ini buku ke-9. Ada 3 novel, 3 novel adaptasi film, 1 kumpulan esai, dan 1 skenario film. Buku yang akan meluncur 16 April ini merupakan kumpulan esaiku yang kedua.”

Tiga novel yang dimaksud adalah: Mahadewa Mahadewi, Imipramine, dan Three Some. Sedangkan novel adaptasi yang seluruhnya diterbitkan oleh Gagas Media adalah 30 Hari Mencari Cinta, Garasi, dan Betina. Kumpulan esai pertamanya diberi tajuk Libido Junkies. Merah Itu Cinta merupakan judul skenario film yang ditulisnya tahun lalu.

“Boleh tahu judul buku terakhir ini? Nama penerbitnya?”

Stranger Than Fiction, Cerita dari Kamar Jaga Malam…”

“Cerita misteri?”

“Haha, sebenarnya bukan. Itu cerita nyata, sehari-hari, beberapa curhat sahabat, tanggapanku terhadap peristiwa di sekitar kehidupanku sebagai dokter. Kebanyakan dimuat di free magazine Djakarta, ada juga yang di harian Koran Tempo, dan beberapa media lain. Rata-rata, itu kutulis saat aku piket dai RSCM. Setelah lewat tengah malam, biasanya tak ada lagi kesibukan, aku membuka lap top dan menulis. Penerbitnya kali ini Gramedia Pustaka Utama.”

“Ada editor?”

“Mirna, tentu saja. Eh, ternyata dia cukup hapal dengan beberapa istilah dalam tulisanku di buku esai sebelumnya, dan menganggap ada hal-hal yang tak perlu, kemudian tangan penyuntingannya bekerja terhadap 30 esaiku itu.”

Judul buku Noriyu mengingatkan saya pada ucapan Radhar Panca Dahana di suatu diskusi sastra. Akhir-akhir ini, katanya, kenyataan lebih mengerikan ketimbang fiksi. Kalau tidak percaya, baca saja berita kriminal di suratkabar, atau perilaku orang-orang putus asa yang kemudian mengakhiri hidupnya.

 “Baiklah, aku akan datang pada peluncuran bukumu. Siapa pembicaranya nanti?”

“GM, Budiman Sudjatmiko, Garin Nugroho, dan Sandi Uno. Tidak tanggung-tanggung, kan?” ujarnya. “Moderatornya Fadjroel Rachman. Ya, siapa lagi yang bisa mengendalikan diskusi mereka selain dia?”

Menarik pasti! Lebih menarik lagi karena penulisnya juga seorang aktivis partai.

“Ngomong-ngomong, sekarang sedang berkiprah di partai mana?

“Aku seorang demokrat, ya Partai Demokrat. Bukan baru-baru ini, lho. Aku sudah aktif cukup lama.”

“Adakah jabatan tertentu?”

“Aku menjadi pengurus DPP di bidang Pembinaan, Partisipasi, dan Pendidikan Politik Korwil DKI I. Aku jadi sekretaris Korwil DKI I, membantu Anas Urbaningrum.”

“Mantap! Bagaimana pendapatmu tentang syarat menjadi presiden? Soal kesehatan dan pendidikan, misalnya.”

“Mengenai kesehatan, tentu saja penting. Presiden kan bukan jabatan main-main? Seorang presiden diharapkan mampu mengatasi segala tekanan dan sanggup bekerja keras secara fisik maupun mental. Sedangkan pendidikan, tampaknya menjadi pendukung luasnya wawasan dan kearifan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini.”

“Tentunya dalam tubuh partai pun harus berisi orang-orang yang sehat lahir dan batin.”

“Persisnya, dalam partai harus lebih banyak good people.”

“Bagaimana kontribusimu terhadap partai?”

“Sejak lama aku punya idealisme tentang mental health. Ketahanan dan kesehatan jiwa. Tubuh yang sehat tak akan cukup tanpa jiwa yang sehat dalam membangun bangsa. Tak usah muluk-muluk dulu, aku ingin menyadarkan masyarakat untuk hal ini.”

“Lewat parlemen?”

“Itu salah satu cita-cita. Target 2009 memang ke arah sana.”

“Komisi yang disasar?”

“Komisi IX. Itu komisi yang membidangi kesehatan. Menurutku seorang psikiater layak mendapat tempat di DPR Komisi IX. Tugasnya sangat jelas.”

“Kalau mengenai kuota 30% untuk kaum perempuan, apakah setuju?”

“Setuju, sepanjang kuota itu tidak dinilai sebagai semata jumlah. Kalau tidak salah ada semacam komposisi, bahwa setiap 3 anggota dewan akan terdiri dari dua laki-laki satu perempuan. Tetapi jika perempuan itu tidak berkualitas, patut dipertimbangkan. Yang dinilai adalah kapabilitasnya.”

“Jalan menuju ke arah itu?”

“Dari sisi aku sendiri, partai bukan organisasi yang membentuk aku jadi berpotensi. Sebelum masuk partai aku sudah punya kapasitas tertentu. Partai menjadi tempat aku memberikan sumbangan melalui profesi dan kemampuan yang kumiliki.”

“Nah Partai Demokrat mendukung SBY, bagaimana dengan pemilu berikutnya?”

“Bagaimanapun Partai Demokrat memang identik dengan SBY. Sementara kita tahu, prosentase keterwakilannya di DPR sangat kecil dibanding Golkar dan PDIP. Ini yang membuat kondisi wakil rakyat kurang solid.”

“Pada pemerintahan SBY tampaknya ada kesan bahwa kesulitan hidup masyarakat bertambah. Menurutmu?”

“Sebenarnya soal krisis itu terjadi pada hampir semua negara. Misalnya kenaikan harga minyak. Di sisi lain banyak hutang-hutang negara yang sudah terbayar, tetapi tidak terekspos karena kondisi rakyat sekarang ini sedang susah. Seharusnya anggota DPR melakukan check & balance, bukan malah menjadi “musuh”. Kurang solid dan bersatu. Langkah SBY jadi seperti terhambat, padahal banyak yang sudah dikerjakan. Ya itulah, karena berasal dari dukungan partai kecil.”

“Apa yang dilakukan oleh SBY, semacam konsolidasi terhadap partai?”

“Beliau pernah memanggil kami, 15 perempuan, untuk berdialog di Cikeas.” Noriyu mengaku. “Ya, antara lain kami diminta untuk berpolitik dengan baik, kreatif, dan tetap etis.”

“Itu saran yang baik, tentu saja. Sesuai semangat Kartini, sudah waktunya pula perempuan terjun ke dunia politik dengan kesempatan 30% itu.”

“Benar. Tetapi sekali lagi menurutku bukan sekadar mengejar jumlah. Jangan merasa diuntungkan dengan porsi 30%. Lebih penting kualitas perempuan itu sendiri. Artinya, para perempuan berkualitas harus mepresentasikan dirinya, tidak lagi menunggu diminta. Emansipasi juga bukan berarti segalanya ingin disamakan dengan laki-laki, melainkan harus sesuai dengan kodrat dan kapasitas. Mungkin lebih pada intelektual dan nilai demokrasinya yang setara.”

“Wah, ngomong politik tak akan ada habisnya. Mengingat jumlah kesibukanmu aneka ragam, bagaimana membaginya dalam bentuk prosentase?”

Noriyu seorang dokter yang berniat menyelesaikan spesialisasinya dalam bulan Oktober tahun ini juga. Panggilan profesinya telah ditunggu oleh banyak pihak. Semester ini ia melepaskan tugas menjadi dosen di Universitas Paramadina demi fokus mengejar tesis dan target ujian akhir. Sebagai politisi, sebentar lagi akan semakin sibuk, menjelang pemilu 2009. 

“Apakah masih punya waktu untuk pacaran?” tanyak.

Noriyu terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Percaya nggak, sih? Aku kalau pacaran bisa intens sekali, tetapi suatu saat, ketika harus sibuk dangan banyak pekerjaan dan kewajiban, menelepon pun bisa tak sempat. Ada seseorang di RSCM, dokter bedah, yang sudah demikian serius, tapi kini kami jarang bertemu.”

“Serius?“

“Ya, misalnya sampai menyiapkan cincin.“

“Lalu, apakah tidak ingin dilanjutkan?”

“Tentu ingin! Banyak teman-teman mengingatkan agar aku memikirkan pernikahan. Siapa yang tak ingin? Masalahnya tinggal jodoh atau tidak, haha.”

Satu jam lewat. Aku teringat Noriyu akan segera bergabung dengan komunitas sosialitanya di Ritz Carlton Mega Kuningan—konon hendak melepas beberapa teman yang akan pulang ke Amerika—aku tak ingin berlama-lama. Kami berfoto-foto sebentar. Dekorasi lobi yang luas itu di lantai 4 itu sangat menarik untuk ajang berfoto.

Kopi di gelasku sudah tandas, teh di cangkirnya pun sudah mencapai dasar. Setelah bercium pipi, kami berpisah di lobi karena mengambil lift yang berbeda.

(Kurnia Effendi)

.