Tuesday, May 06, 2008

Nirwan Dewanto Melepas Jantung Lebah Ratu

BEGITU lulus dari ITB, Nirwan Dewanto mengabdikan dirinya sesuai dengan latar pendidikan formalnya: geologi. Sebagai seorang geolog selama beberapa tahun, ternyata hatinya tidak terlalu semarak, karena terlalu kepincut pada dunia seni (terutama sastra), sehingga awal tahun 90-an ia pun beralih profesi. Namanya berkibar sejak Kongres Kebudayaan 1991, selanjutnya bergabung dengan Komunitas Utan Kayu. Di sana banyak pekerjaan seni yang dilakoninya, termasuk mendirikan Jurnal Kalam bersama teman-teman di kawasan Utan Kayu dan menjadi Ketua Redaksi.

Setelah bertahun-tahun menjadi penyair, eseis, bahkan redaktur halaman seni Koran Tempo, Nirwan Dewanto tidak juga menerbitkan buku yang kedua. Buku pertamanya, Senjakala Kebudayaan diterbitkan Bentang Pustaka (sebelum diakuisisi oleh Mizan Group) dan kini tidak terpajang lagi di toko buku. Manuskrip Buku Cacing yang pernah digarapnya saat kuliah dan aktif di Grup Apresiasi Sastra ITB, tampaknya cukup terdengar luas, sehingga masih banyak yang menunggu-nunggunya terbit. Ternyata, kerinduan para sahabat terobati dengan buku antologi puisinya yang lain: Jantung Lebah Ratu.

Diluncurkan di Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat, 17 April 2008, buku Jantung Lebah Ratu mendapat perhatian dari banyak kalangan. Ada dua tengara atas ramainya hadirin pada malam itu. Pertama, Nirwan Dewanto memiliki jaringan yang cukup luas. Kedua, karyanya memang ditunggu-tunggu. Bagaimanapun, seorang redaktur dan pengamat yang kritis selalu membuat penasaran orang: seperti apa puisinya?

Acara peluncuran yang disponsori oleh Sutrisno Bachir, pengusaha sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional, berjalan anggun dan tertib. Beberapa kali berbincang dengan Nirwan, ia berpendapat bahwa launching event adalah peristiwa pesta, jadi jangan membebani hadirin dengan diskusi. Maka malam itu, satu per satu pembaca puisi dan pengulas tampil di panggung tanpa diganggu kecerewetan teknis dan MC.

Anya Rompas membuka panggung dengan membaca puisi halaman pertama, sebelum membacakan aturan ketat: dilarang keluar-masuk ruangan, dilarang menyalakan ponsel, dilarang memotret dengan lampu kilat. Melanie Budianta memberikan ulasan dengan cerkas tak berpanjang-panjang. Maya Hasan memetik harpa di antara dua puisi yang dibacanya. Sitok Srengenge, Linda Christanty, Andi Mallarangeng, bergiliran membaca puisi di panggung. Arianto Patunru, seorang ekonom, memberikan ulasan untuk buku Nirwan dengan humor yang menggelitik.

Meski sedang tidak berada di Indonesia, Ubiet Nyak Ina Raseuki, istri Nirwan, mempersembahkan lagu keroncong melalui rekaman video. ”Kroncong Tenggara” judulnya, dipetik dari sajak Nirwan dalam buku itu, dengan aransemen dan iringan musik Dian HP. Pembacaan puisi diakhiri oleh penampilan penyairnya sendiri yang membaca ”Keledai”. Acara yang ringkas dan minimalis (terlihat dari dekor yang sangat memperhatikan komposisi) itu cukup mengesankan.

Demikianlah, 46 puisi yang ditulis Nirwan sepanjang tahun 2005-2007 telah dibekukan dalam sebuah antologi yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Konon, sesudah malam itu, Nirwan akan menyusul istrinya ke Amerika Serikat dengan membawa bukunya untuk jejaring di sana. Selamat!

(Kurnia Effendi)