Friday, June 27, 2008

Pesta Rakyat Tahunan

Pekan Raya Jakarta

Ulang tahun Jakarta yang jatuh pada 22 Juni, selalu dimeriahkan dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ), berlangsung selama satu bulan penuh. Nama lain event tersebut adalah “Jakarta Fair”, yang kini telah terelenggara ke-41 kalinya. Sebuah pasar malam yang menjadi ajang pesta rakyat, jadwalnya ditunggu-tunggu oleh masyarakat banyak. Sejak lima belas tahun belakangan ini, tidak lagi diselenggarakan di kawasan Tugu Monas, melainkan di bilangan Kemayoran. Sengaja, setelah Kemayoran tak lagi menjadi bandar udara, lokasi yang luas itu dijadikan sebagai pusat perdagangan dengan nama Jakarta International Expo (JIEX) dan Trade Centre. Di atas tanah terbuka yang semula jauh dari jangkauan hunian, kecuali beberapa menara apartemen itu, dibangun beberapa gedung dan hall yang berfungsi sebagai arena pameran dan pertunjukan musik.

Tahun ini, Pekan Raya Jakarta dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Kamis petang, 12 Juni 2008. Presiden menyatakan bahwa kehadiran PRJ diharapkan dapat menghibur rakyat Jakarta dan sekitarnya, sebagai pusat tontonan rakyat dan belanja, dalam rangka memperingati ulang tahun Jakarta yang ke-481. Pemerintah juga menyediakan kemudahan bagi masyarakat dari berbagai penjuru DKI dan wilayah di sekitarnya untuk mengunjungi PRJ dengan jaringan transportasi yang langsung menuju pusat lokasi pasar malam.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, layaknya pasar malam, PRJ menyajikan aneka produk yang dijual dengan harga khusus. Mulai dari makanan dan minuman, busana, barang-barang kerajinan, home appliances, alat-alat elektronik, sampai dengan otomotif (motor dan mobil). Masing-masing menyajikan produknya dalam stand dan boot yang dibuat semenarik mungkin, banyak di antaranya menggunakan daya pikat artis untuk mengundang hasrat pembeli. Di antara kegiatan utama menjual aneka barang, gerai-gerai itu menggelar pertunjukan, dengan para penyanyi dan penari yang atraktif.

Tak hanya itu, untuk melengkapi kesemarakan pesta rakyat, beberapa peserta mengadakan lomba-lomba ringan yang dapat diikuti oleh setiap pengunjung. Antara lain tebak angka, lomba foto digital dengan obyek suasana Jakarta Fair (jurinya tak tanggung-tanggung, Darwis Triyadi), adu panjang meneriakkan yell-yell iklan produk, teka-teki dengan door prize menarik, dance competition, dll.

Pada lembaran tiket masuk, para pengusaha tidak mau kehilangan kesempatan untuk beriklan sekaligus membagi hadiah. Banyak kupon-kupon yang dapat dipotong untuk ditukar dengan paket minuman maupun diskon paket makanan. Semua itu sebagai pemancing agar pengunjung memasuki kawasan food court dan mengajak keluarganya menikmati menu-menu yang disajikan. Tentu saja dengan harga yang lebih mahal dibandingka bila kita membelinya secara normal di luar kawasan PRJ.

Pihak penyelenggara menyediakan lahan yang sangat luas di kedua sisi pasar malam untuk parkir ribuan mobil. Relatif cukup aman dengan para petugas yang tersebar dan memungut biaya sukarela di luar tarif resmi yang ditetapkan Rp. 10.000,- /mobil untuk sekali parkir tanpa batasan waktu. Tampaknya dua tahun terakhir ini, pedagang asongan hanya beroperasi di luar pagar PRJ, sehingga terasa lebih tertib. Bagi pengunjung yang ingin membawa oleh-oleh makanan khas tradisional Betawi, seperti kerak telor, bisa mendapatkannya di pinggir jalan di luar kawasan.

Menurut para pedagang itu, bila mereka berjualan di dalam lokasi PRJ, harus membayar lebih dari tiga juta rupiah untuk satu bulan. Sedangkan bila berjualan di luar kawasan, “hanya” dipungut biaya sekitar Rp. 250 ribu dalam satu bulan. Seorang penjual kerak telor mengaku hanya memanfaatkan event PRJ saja, selebihnya dia menjalani “profesi” yang lain sebagai penjahit. Segelintir pedagang kerak telor lain ada yang beruntung punya tempat di pusat-pusat perbelanjaan modern seperti Carrefour dan Giant (supermarket Hero).

Apakah mereka sadar bergiat di situ dalam rangka ulang tahun Jakarta? Tidak. Mereka semata mencari keuntungan dagang dalam keramaian dengan harapan mendapatkan penghasilan lebih dibanding hari-hari biasa. Selanjutnya mereka akan mencari event lain, misalnya acara-acara pameran yang berkesinambungan di JHCC, atau pameran bunga di kawasan ex Lapangan Banteng.

Dalam event Jakarta Fair, tidak semua produsen otomotif membuka stand. Mobil-mobil kelas mewah (seperti Mercy, BMW, Audy, Volvo, atau Renault) tentu merasa bukan di situ tempat untuk menggelar image. PRJ lebih menitikberatkan pada kegiatan dagang untuk segmentasi kelas menengah. Suzuki dan Mitsubishi, adalah ATPM yang secara rutin menggelar penjualan dengan program khusus di PRJ. Kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh para konsumen dengan keuntungan hadiah dan syarat kredit yang lebih ringan, misalnya down payment rendah. Dalam liputan Parle, pada malam ketujuh, Suzuki mobil telah mendapatkan purchasing order 130 unit mobil aneka tipe (mulai dari APV sampai dengan Neo Baleno). Untuk jenis motor, seperti Yamaha dan Honda, sudah menyentuh angka 500-an.

Tidaklah lengkap apabila suasana ulang tahun Jakarta tidak disertai panggung musik dan aneka wahana bermain, seperti komidi putar dalam berbagai jenis. Jutaan watt lampu menjadi bagian utama yang memeriahkan setiap stand dan panggung, juga persaingan suara sound system yang digunakan untukmemanggilpengunjung melalui MC yang aktif bicara. Beberapa produsen mesin (pompa, alat penjernih air, pembuat donat, dll) melakukan demo-demo simulasi. Perusahaan jamu, minuman, makanan kering, dan mi instan memberi kesempatan kepada para pengunjung untuk mencicipi langsung hasil ramuannya. Gratis.

Dalam deretan hall ruang pamer yang sangat benderang, pemerintah daerah berpartisipasi membuka gerai kerajinan dari para pengrajin tradisional masing-masing. Kain batik, songket, tenun sasirangan, batu-batu cincin, biji mutiara, perangkat mebel ukiran, sampai dengan lukisan. Bagi utusan daerah, kesempatan satu bulan menjajakan hasil karya khas itu menjadi kebanggaan. Pengunjung yang berpikir strategis, biasanya akan memanfaatkan hari terakhir untuk memborong, karena umumnya para pengisi stand ngin pulang tanpa bawaan yang merepotkan. Masalahnya, masihkah tersedia jenis-jenis yang terbaik pada pekan terakhir itu?

Melengkapi suasana hiruk-pikuk festival pasar malam, ada sekitar limarangkaian kereta” yang secara terus-menerus berkeliling lokasi, membawa pengunjung dari sisi satu ke ujung lokasi yang lain. Bertebaran pula badut-badut dengan aneka pakaian binatang lucu, yang kerap diajak foto bersama anak-anak.

Berapa omzet harian yang diterima seluruh peserta Pekan Raya Jakarta? Tentunya milyaran juta rupiah. Siapa yang hendak menanam investasi jangka pendek (sewa tempat dan membangun stand senilai sampai ratusan juta rupiah) tanpa mengharapkan keuntungan? Sebagaimana layaknya ajang pesta rakyat, itulah saatnya pengunjung membelanjakan uangnya dengan suka-cita. Pekan Raya Jakarta yang akan berakhir 13 Juli mendatang menjadi alternatif wisata keluarga, sembari memberikan pengalaman bagi anak-anak menonton berbagai atraksi. Menjadi tempat pacaran yang relatif murah, dengan harga tiket Rp. 15.000 dan Rp 20.000 (untuk Jumat, Sabtu, dan Minggu), dapat menikmati berbagai sajian tontonan.

Dengan menyaksikan suasana Pekan Raya Jakarta, seolah tak ada pengaruh yang cukup signifikan atas kenaikan harga BBM. Penjualan mobil dan motor tetap menunjukkan kegairahan. Gadis-gadis yang bertugas sebagai Sales Promotion Girl (SPG) baik untuk produk otomotif, elektronik, maupun rokok, memperindah pesta tahunan itu.

Dirgahayu Jakarta!

(Kurnia Effendi)

 

 

 

2 Comments:

Blogger Enno said...

mas, sekali-kali nulis cerpen dong di blog ini :)

6:13 PM  
Blogger Roy Thaniago said...

kangen nih dah lama ga ke jakarta fair.. Salam kenal, Mas!

12:23 AM  

Post a Comment

<< Home