Thursday, May 15, 2008

Berbincang dengan Arya Gunawan

Paradoks Total Kebangkitan

Secara jujur, makna seabad kebangkitan nasional yang jatuh tahun ini tidak cukup menggembirakan bagi sejumlah besar kalangan. Seorang sahabat yang mencintai sastra dan film, dan terlibat dengan banyak kegiatan sosial budaya secara internasional, menjawab lugas setiap pertanyaan saya mengenai makna kebangkitan bagi bangsa ini. Tentu saja pendangannya merupakan pendapat pribadi, namun demikian itu merupakan proyeksi dari segala kejadian yang menjadi perhatiannya. Namanya Arya Gunawan, kini aktif menjadi pengamat media.

Ketika secara to the point saya tanyakan tanggapan dia terhadap nilai-nilai yang dapat dikaitkan dengan upaya memperingati seratus tahun kebangkitan nasional, jawabnya cukup telak.Kebangkitan untuk Indonesia sungguh merupakan paradoks total!”

Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan paradoks? Bukan menyimpang atau berbeda dengan harapan, melainkan bertolak belakang.

”Coba bayangkan!” ujarnya berapi-api. ”Negara ini sudah sangat terpuruk. Baru saja saya membaca berita pagi ini, seorang tukang mi ayam beralih menjadi pemulung karena tak sanggup lagi mempertahankan usahanya. Ini dari sisi ekonomi. Masalah pendidikan juga kian parah. Ada murid yang meninggal pada hari terakhir UAS (Ujian Akhir Sekolah – Red), mungkin karena stress tinggi. Saya kira hal ini disadari oleh pemerintah, tapi tetap saja akan menaikkan harga BBM. Negara ini seperti tidak memiliki visi lagi.”

Momentum penting pada Mei 2008 ini seolah tak ada artinya karena tidak akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas, kecuali mungkin, berupa jargon-jargon belaka. Saya mengenal Arya Gunawan sebagai seorang yang emosional, dengan kata lain sangat sensitif dalam merespon kondisi masyarakat, sejak menjadi wartawan di Kompas berpuluh tahun lalu.

Penilaiannya terhadap kinerja pemerintah ini bukan berdasarkan sentimen pribadi tetapi karena kenyataan yang dilihatnya sehari-hari. Bagaimana peran DPR sebagai pihak yang mengontrol jalannya pemerintahan? Arya menganggap DPR sekarang sudah tak dapat diandalkan, justru masalah banyak timbul dari lembaga wakil rakyat akhir-akhir ini.

”Bagaimana dengan lembaga judikatif yang seharusnya menjadi penegak hukum?”

”Itu pun parah. Kasus Mahkamah Agung tentang biaya perkara yang tidak transparan, mencemarkan lembaga peradilan. Kasus penyimpangan fungsi hutan lindung, dan lain-lain. Rasanya banyak sekali problem di negara kita, tak kunjung selesai. Semua ini akhirnya tergantung dari kharisma pemimpin.”

”Maksudnya?”

”Terlepas dari sisi buruknya, di masa Soeharto tampaknya lebih tertib. Pemimpin sangat dihargai, kebijakannya dapat dirasakan sebagai kesejahteraan bagi orang banyak...”

”Apakah saat ini diperlukan tangan besi atau sistem demokrasi merupakan kesalahan?”

”Rasanya tak harus dengan tangan besi,” jawab Arya Gunawan. ”Kembali lagi pada kharisma seorang pemimpin...”

”Bagaimana mungkin kharisma dapat terbentuk, katakanlah pada 100 hari menjadi Presiden, sebagaimana yang sering dipakai sebagai ukuran oleh Amien Rais? Sementara kondisi bangsa yang diestafetkan sudah memburuk? Soeharto barangkali berbeda karena ia memanfaatkan sebuah momentum.”

”Menurut pendapat saya, Soeharto menjadi pemimpin karena ada faktor lucky. Saat itu tidak seorang pun, termasuk Abdul Harris Nasution yang berani mengambil risiko. Tentu saja kharisma itu dibentuk dengan cara menabung. SBY saya kira sudah punya modal cukup besar. Sekitar 60% rakyat memilihnya sebagai figur pemimpin yang diandalkan, track record-nya bagus, sejak awal bicaranya bisa dipercaya, parasnya menunjukkan kewibawaan, tapi kemudian... ya beginilah yang kita rasakan.”

”Jangan-jangan karena salah memilih wakil, sehingga yang muncul justru disharmony?” Saya mengejarnya.

”Sistem yang berbeda dengan pemilu masa lalu memang menyebabkan presiden tidak bebas memilih wakilnya. Saat itu mungkin ada juga perhitungan untuk memenangkan pemilu, seorang calon wakil dari partai terbesar akan mendongkrak suara. Tetapi yang perlu dijaga adalah ketegasan dan perhatian terhadap rakyat.”

”Jadi apa yang harus kita lakukan, terlepas dari momentum kebangkitan nasional?”

”Revolusi!” Arya Gunawan tertawa. ”Bukan, bukan itu. Saya pribadi sebagai seorang yang masih aktif menulis, ya terus ingin menyuarakan keprihatinan ini. Bagi aktivis yang bekerja di lapangan, lakukan terus gerakan untuk mengingatkan pemerintah. Dari berbagai sektor, sebaiknya jangan berhenti berjuang. Kontribusi berupa kritik dan solusi mudah-mudahan akan membuat pemerintah berpikir sebelum menjalankan kebijakan.”

”Bagaimana dengan bidang kebudayaan, apakah lebih baik?”

”Sebenarnya semua bidang mengalami hal yang sama. Tetapi setidaknya kesenian masih dapat kita harapkan. Sastra, film, dan musik, masih terus dikerjakan dan berkembang. Secara kuantitas terutama. Pada bidang film ada perkembangan produksi yang menggembirakan, tetapi sayangnya baik tema maupun genre tidak bergerak. Jadi antara jumlah dan mutu belum seimbang.”

”Apa pesan Anda untuk generasi muda sekarang?”

”Saya kebetulan sekarang mengajar mata kuliah jurnalistik di UI. Saya melihat semangat mahasiswa sekarang tidak seperti dulu. Mereka cenderung pragmatis, ingin serba instan, etos perjuangannya kurang. Saya selalu berpesan kepada mereka untuk belajar banyak hal dan melakukan eksplorasi intelektual. Sementara itulah yang bisa saya lakukan.”

Lalu saya merenung. Kharisma seorang pemimpin... bagaimana citra itu bisa kembali diraih, dan tentu saja upaya untuk membereskan moral anggota dewan dan penegak hukum harus didahulukan juga. Jadi, apakah kita belum pantas ”bangkit” kembali?

(Kurnia Effendi)