Thursday, May 22, 2008

Kebangkitan bagi Leo Kristi

Ternyata, 100 tahun Kebangkitan Nasional sudah beberapa tahun lalu terpikir oleh Leo Kristi. Penyanyi troubadour Indonesia yang bernama lengkap Leo Imam Soekarno, memang tak benar-benar surut hingga hari ini. Bahkan, berkat para penggemarnya yang aktif menggalang komunikasi melalui mailing list LeoKristi@yahoogroups.com, sosok dan nama Leo Kristi seperti bangkit kembali. Ia serupa magma, yang terus bergolak di perut gunung, terus berkarya  meskipun tak serta-merta dipublikasikan dalam album rekaman.

Apakah momentum seabad kebangkitan Indonesia ini menjadi titik balik kehadirannya di tengah-tengah penggemar musik balada? Ini sebuah pertanyaan yang juga bergelora dalam benak pencinta aliran musiknya yang khas. Mungkin kita ingat awal kemunculan ke tengah publik: melalui rekamanNyanyian Fajar” yang diperkenalkan secara luas oleh Remy Sylado saat memimpin majalah Aktuil di Bandung, 1976.

Memang sudah cukup lampau. Oleh karena itu, generasi muda sekarang sungguh sulit mengingat siapa Leo Kristi, kecuali jikameskipun langkaorang tuanya pernah menjadi penggemar Konser Rakyat yang dikibarkannya dari panggung ke panggung. Terutama setiap peringatan kemerdekaan RI, karena sebagian besar lagunya mengusung semangat dan tema nasionalisme. Barangkali, Leo Kristi adalah satu-satunya musisi Indonesia yang beberapa kali diundang menyanyi di istana Negara.

Ketika diajak ngobrol melalui telepon Jakarta-Surabaya, dengan gaya khas berpikir panjang setiap kali mau bicara, Leo Kristi menyampaikan bahwa pada seabad kebangkitan nasional ini, perlu ditandai dengan keseimbangan baru.

Sejumlah kalimatnya memang tidak langsung dapat dicerna. Seperti juga lirik lagunya yang multi tafsir, mendalam, dan memiliki “gelombang panjang” (meminjam istilahnya untuk mengatakan terus dikenang).

“Setelah lewat dua presiden,” demikian ungkapnya. “Keadaan negeri kita semakin parah. Seharusnya dengan datangnya gelombang globalisasi yang membuat perubahan begitu cepat, kita harus memperkuat tiang-tiang bangsa. Dasar yang paling besar kekuatannya adalah rakyat jelata. Lihatlah bagaimana para petani kita, nelayan kita, yang seolah sudah tidak kita pikirkan.”

Salah satu lagunya yang berjudul “Salam dari Desa” (album Nyanyian Tanah Merdeka, 1978), mengisyaratkan tentang itu. “Kita ini awalnya orang desa. Bercerminlah ke sana. Jika kita ingin bangkit kembali, tentu harus seimbang dan sehat antara jiwa dan raga. Kita kurang antisipasi, padahal perubahan itu sudah tampak sejak tahun 70-an.”

Mungkin memang sensitif pandangan seorang seniman. Mata batin dan pikirannya sanggup menerawang jauh ke depan. Leo Kristi, yang lahir 8 Agustus 1949,  tidak memikirkan dirinya sendiri. Ketika diingatkan untuk menyembuhkan kerinduan para penggemarnya dengan merilis album baru pada tahun kebangkitan ini, ia justru mengesampingkan “hal-hal kecil” itu.

Iku gak ono urasane karo kondisi bangsa iki,” ujarnya dengan bahasa Jawa Timuran yang kental. “Mari kiita berikan kontribusi pemikiran untuk kembali berpijak di bumi. Biru Emas Bintang Tani adalah kesungguhan kasih yang mungkin mengalir dari masa ke masa. Anggun biru emas bara unggun itu mencerminkan martabat. Sementara hitam belanga itu menunjukkan rakyat jelata. Sekarang sedang dicari kesungguhan cinta kepada rakyat. Tentu saja dengan keharmonisan dan keterpaduan. Itu yang disebut sebagai keseimbangan.”

Lalu, seperti ketika pentas di Wapres Bulungan dalam acaraNyanyikan Cinta di Bulan Cinta” (17 Februari 2008), Leo kembali menyampaikan bahwa sudah saatnya merah dan putih memiliki posisi yang seimbang. Bukan lagi mendahulukan merah. Barangkali maksudnya: putih menjadi jiwa bagi merah. Ah, kita tak tahu persis.

Tanggal 20 Mei 2008 nanti, Leo Kristi bersama penggemarnya yang menyebut diri sebagai LKers akan tampil membawakan 20 lagu di panggung Teater Kecil (Teater Studio) Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya mau, pertunjukan ini gratis!”

Ini pasti berita gembira untuk saling melepas rasa kangen. Bagi kaum muda yang tak mengalami kejayaan Konser Rakyat Leo Kristi, kini saatnya menikmati seabad kebangkitan Indonesia bersama pelantun lagu-lagu bertema kepahlawanan dan semangat cinta kemanusiaan yang universal.

(Kurnia Effendi)