Friday, December 19, 2008

Nungki Kusumastuti, Masih Menari

Pesta pertunjukan tari, International Dance Festival (IDF) 2008 memang sudah berlalu. Namun pekerjaan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat, terutama para siswa SMU, terhadap seni pertunjukan tak boleh berakhir. Nungki Kusumastuti bersama Ratna Riantiarno berusaha mengatur jadwal agar dapat melaksanakan program pengenalan itu ke sekolah-sekolah.

”Sudah mencapai 300-an sekolah lho! Di Jabotabek saja ada 400 SMU. Kami belum merambah ke wilayah provinsi lain, walaupun sudah menjajaki ke Surabaya. Dan program kami ini justru dibiayai oleh lembaga asing.” Nungki menjelaskan.

“Lantas apa saja yang disampaikan kepada mereka?”

”Bukan hanya tari, tetapi juga musik dan teater. Kan ada Mbak Ratna sebagai penyuluh. Kami kenalkan mereka pada tarian Jawa, Betawi, Topeng Cirebon, bahkan Irian. Tetapi kita kemas sesuai dengan kebutuhan pelajar, agar mereka tertarik sejak awal. Kami juga sering membawa musik Jaduk Ferianto ke sekolah-sekolah.”

Nama Nungki Kusumastuti memang identik dengan dunia tari. Atas keprihatinannya terhadap bakat-bakat tari di kalangan generasi muda yang tak mendapatkan wadah, Nungki bersama teman-teman yang kompeten di bidang tari (seperti Sal Moergiyanto, Maria Darmaningsih, Farida Utoyo, Sardono W. Kusumo—untuk menyebut beberapa nama), menggagas festival tari. Diharapkan, event itu akan menciptakan dialog antar-koreografer dan pembinaan seni tari bagi bibit-bibit berbakat. Festival digunakan sebagai puncak dari penyelenggaraan workshop yang berlangsung sepanjang 2 minggu.

Festival tari internasional itu memang selalu diselenggarakan di Jakarta, tetapi pelaksanaan workshop biasanya di kota lain. Beberapa kali di Surabaya, Yogya, dan Solo.

”Tahun ini kan penyelenggaraan yang kesembilan. Siapa saja alumni dari workshop dan festival itu?”

Dengan bangga Nungki menyampaikan beberapa nama yang kini telah mendunia. ”Beberapa di antara mereka adalah Eko Supriyanto, Miroto, Tom Ibnur. Bahkan Boi G. Sakti, meskipun saat itu sudah punya karya, melalui festival ini kian menjulang namanya.”

Kegiatan Nungki sehari-hari adalah mengajar. Di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ia memegang beberapa mata kuliah. Antara lain Sejarah Tari, Literatur, Manajemen Seni Pertunjukan. Sementara di Universitas Indonesia, ia mengajar Keberagaman Seni Indonesia di Studi Pariwisata yang bernaung dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Nungki yang lahir di Aceh, 29 Desember 1958, ini merasa bahagia dengan dunia yang dipilihnya. Ia terlibat dalam setiap penyelenggaraan IDF, dan tiga festival berturut-turut sejak 2004, dipercaya menjadi direktur program. Seperti dituturkannya, sampai kini masih diliputi kesulitan, terutama dalam penggalangan dana. “Seni tari non hiburan ini memang tidak gampang untuk mendapatkan biaya dari pemerintah.”

Pertanyaannya kini, apakah Nungki Kusumastuti sudah tidak menari lagi?

“Walaupun tidak sesering dulu dan disibukkan jadwal mengajar, saya masih tetap menari. Bulan September lalu, saya menari Srimpi di rumah Duta Besar Singapura. Dalam pertunjukan besar yang dipimpin Retno Maruti, April 2009, saya juga akan menjadi penari. Jadi, walau sudah tua begini, saya masih pintar menari.”

Nungki tinggal bersama suami dan putri tunggalnya yang menggemari musik di Jakarta Selatan. Kita harus mengakui, bahwa di usia setengah abad, Nungki Kusumastuti masih cantik dan terampil. Untuk meyakinkan itu, mari kita saksikan pentasnya tahun depan.

(Kurnia Effendi)