Wednesday, October 29, 2008

Babak Baru Hubungan Budaya Indonesia-Mesir

Menyambut Kedatangan Bahaa Taher

Pada kesempatan yang menyenangkan, menjelang dibukanya Festival Ubud di Bali, Kedutaan Mesir di Indonesia menghadirkan Bahaa Taher. Ia seorang penulis yang belum dikenal luas di Indonesia, namun karya-karya novelnya mendapat penghargaan yang cukup bergengsi di wilayah Timur Tengah. Ditulis dalam bahasa Arab, berpotensi menyusul pamor Naguib Mahfouz, pengarang Mesir penerima Hadiah Nobel; dan Nawal El-Saadawi.

Sabtu siang, 11 Oktober 2008, usai hawa Lebaran, sejumlah wakil penerbit dan penulis Indonesia secara terbatas diundang ke kantor Kedutaan Mesir di Jl. Teuku Umar 68. Tampak di antaranya adalah M. Fadjroel Rachman, K. Usman, Lintang Sugianto, Eliza Handayani, Humam S. Chudori, Bambang Joko Susilo, Dianing Widya Yudhistira, Kartini Nurdin. Acara dibuka dengan sambutan dari Duta Besar Mesir memperkenalkan Bahaa Taher.

Dialog siang itu terasa karib, dengan hikmah yang sangat bermanfaat bagi masa depan hubungan budaya antara Indonesia dan Mesir. Beberapa kenyataan terungkap, terutama mengenai kesenjangan bahasa yang memang sudah saatnya untuk diretas. Masing-masing pihak, baik Indonesia maupun Mesir, menyadari bahwa banyak buku-buku Mesir dan Indonesia yang berkualitas untuk saling diterjemahkan.

Dalam beberapa kali kesempatan pameran buku internasional di Kairo, misalnya, menjadi ajang perburuan para penerbit Indonesia mendapatkan buku-buku bagus. Sayangnya, tidak didukung dengan akses yang terbuka dalam upaya mendapatkan hak cipta (copyright) dan pengalihbahasaan yang mumpuni. Maka dalam pertemuan yang singkat dan bersahaja itu, simpul-simpul yang semula tertutup mulai disingkap.

Duta Besar Mesir menawarkan jembatan untuk hubungan budaya terutama melalui karya sastra dengan program undangan bagi penulis Indonesia untuk berkunjung ke Mesir. Dan sebaliknya, tentu saja. Kemudian hubungan sosialisasi karya ditingkatkan dengan upaya terjemahan karya novel dan memoar. Seorang pengarang yang menulis sejarah aktivis pers Rohanna Koedoes, segera menawarkan bukunya itu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ia menjelaskan bahwa pejuang surat kabar itu juga seorang tokoh perempuan islami. Di luar dugaan, Duta Besar Mesir mengajaknya untuk pertemua di minggu berikutnya.

Bahaa Taher sendiri kini berusia 73 tahun. Ia menerbitkan beberapa novel, yakni  East of The Palms (1985),  Qalat Duha (1985),  Aunt Safiyya and The Monastery (1991),  Love in Exile (1995),  The Point of Light (1999), Sunset Oasis (2007). Tampaknyatradisi” yang berlaku di Mesir, seorang pengarang baru layak menerbitkan buku pada usia 40 tahun. Sementara situasi di Indonesia lebih menguntungkan bagi para penulis muda. Bertebaran novel-novel teenlit yang ditulis oleh para remaja, usia belasan tahun. Bahkan ada beberapa pengarang cilik yang sudah memiliki buku. Bahaa Taher merasa surprise mendengar kenyataan itu. Barangkali, ketika ia berada di Ubud dan bergaul dengan banyak novelis muda Indonesia, akan semakin terheran-heran.

Kartini Nurdin yang mewakili Penerbit Yayasan Obor, mengatakan sangat berminat untuk menerjemahkan karya Bahaa Taher, menyusul beberapa novel Naguib Mahfouz yang telah terbit dan beredar luas di Indonesia. Bahaa Taher dan pihak kedutaan menyambut baik. Seperti layaknya negara-negara maju, etika untuk menerbitkan karya pengarang dari negara lain tentu ada perjanjian hak cipta yang terkait dengan royalti dan izin distribusi. Namun yang jelas, kini telah terbuka luas kemungkinan untuk saling mempromosikan karya pengarang kedua negara.

Penerbit buku-buku Islam di Indonesia mengakui bahwa lebih dari 50% kitab-kitab terjemahan dari bahasa Arab datang dari ranah Mesir dan Arab. Itu menunjukkan bahwa ada banyak sumber ilmu dari khazanah bacaan Timur Tengah yang mendapat sambutan baik di Indonesia. Humam Chudori mengingatkan, bahwa banyak tokoh Mesir tersohor seperti Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun, namun mengapa kiblat pengetahuan masih ke Eropa dan Amerika?

Dalam penjelasan Bahaa Taher, Eropa masih dianggap sebagai pusat budaya dunia. Bidang hukum, seni, dan kedokteran, belum dapat dilepaskan dari pengaruh negera-negara seperti Belanda, Prancis, dan Italia. Dari pembicaraan itu berkembang kepada tokoh-tokoh Indonesia semacam Bung Hatta yang perlu juga diperkenalkan ke khalayak Mesir.

Para penulis mengambil kesempatan pertemuan berharga itu untuk menyerahkan buku karya mereka, baik kepada Duta Besar Mesir maupun Bahaa Taher. Keduanya menerima dengan senang. Dalam ruangan itu hadir pula Ketua perhimpunan dosen bahasa Arab dan seorang dosen perempuan yang berkebangsaan Mesir. Pada siang itu pula, Duta Besar Mesir menerima sebuah maket matematika Arab yang merupakan himpunan rumus berdasarkan jumlah ayat tiap surat dalam Al-Quran.

”Mudah-mudahan, Anda akan menjadi perintis kebangkitan Islam di Indonesia,” harap sang pemberi hadiah itu kepada Duta Besar. Momentum itu memang sangat penting untuk ditindaklanjuti oleh penerbit dan pengarang agar seluruh janji yang disampaikan pihak kedutaan Mesir itu akan menjadi kenyataan.

Di bulan Oktober, Komunitas Salihara sedang menyelenggarakan Festival Salihara. Guntur Romli, salah satu aktivisnya, mengumumkan bahwa ada pengarang Mesir yang diundang juga dalam perayaan itu.

Kembali kepada Bahaa Taher, selain seorang pengarang, dia juga menjadi penerjemah. Ia mengaku pernah keliling ke negara-negara seperti India, Senegal, Kenya, Srilanka, untuk mencari pekerjaan penerjemahan. Lahir di Kairo, 1935, dalam kariernya sebagai novelis, Bahaa telah mendapat tiga penghargaan. ”State Award of Merit in Literature (1998), yang merupakan anugerah tertinggi untuk sastra di Mesir. Pada tahun 2000, ia meraih “Italian Giuseppe Acerbi Prize” untuk novelnya, Aunt Safiyya and the Monastery. Dan untuk pertama kalinya “International Prize for Arabic Fiction” diluncurkan, diterima Bahaa tahun ini.

Mudah-mudahan karibnya hubungan antara Mesir dan Indonesia yang ditandai dengan banyaknya mahasiswa kita belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, memang akan memulai babak baru keharmonisan lintas budaya. Setidaknya kita jadi teringat pada novel dan film populer berjudul “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El-Sirazy yang mengisahkan tentang mahasiswa Indonesia yang mengalami drama cinta di Kairo. Usianya jauh lebih muda dari Bahaa Taher. Apabila niat untuk melaksanakan program pertukaran pengarang Mesir-Indonesia itu dilanjutkan, dari Indonesia sudah ada calon potensial.

(Kurnia Effendi)

 

4 Comments:

Blogger Unknown said...

Tiap remah harapan Anda tersokong Attractive Low yang atas izin Nya akan mewujud.
Mesir yang jarang biasa biasa saja dalam perjalanannya, mulai hypercliam Pharaon sampai jajaran Nobelist sastra belakangan memang menginspirasi petualangan sejarah & pelakunya termasuk seni tulis tentunya..

11:12 AM  
Anonymous Anonymous said...

jumpa lagi, mas kurnia. aku igho, yang musisi di hotel karlita tegal. kapan ya kira2 sampeyan sengaja minta nota dinas lagi ke tegal ha ha ha ha... kalau klop waktunya kan kita bisa bikin pementasan baca puisine njenengan di gedung kesenian. aku dan mas enthieh atau mas yono siap deh jadi panitiane... tapi upss... bayaran ora? soale seniman tegal kan minus semua soal pendanaan.

makasih ya, mas semoga sukses dan selalu....

igho - tegal

3:06 PM  
Anonymous Anonymous said...

dari igho lagi:

mas alamat e-mailku: mas.igho@yahoo.com dan no HP 0283 32 797 86

3:08 PM  
Anonymous Anonymous said...

aslmkm,, saya ingin tahu tentang bahaa tahir ,, lebih banyak,, ada informasikah??

5:41 PM  

Post a Comment

<< Home