Wednesday, December 31, 2008

TEROMPET

            JAKARTA menjadi kota yang kuyup, berkeramas hujan sejak menjelang subuh. Langit abu dan masif, kabut air menjadi kerudung transparan di mana-mana.

Malam tahun-baru kita jalan-jalan ke mana, Ayah?” tanya Nifa, puteri sulungku. Dekat sekali di depan wajah, sehingga koran yang kubaca terlipat oleh dorongan tubuhnya yang tambun.

“Memangnya mau ke mana? Hujan dari pagi sampai sore. Lebih nyaman di rumah, kan?”

“Kalau begitu, beli vcd yang banyak!” Afif, adiknya, mengajukan usul. Ia memang keranjingan film. Setiap judul ditonton sedikitnya 6 kali, sampai cakram itu baret-baret.

“Bukankah televisi akan banyak memutar film?” Aku mengingatkan.

“Kurang seru! Lagi pula bukan film anak-anak.”

“Oke!” Kulipat suratkabar. “Pangil Ibu! Mungkin punya gagasan lain. Kita biasa demokratis, kan?”

Meskipun kedua anakku mengangguk, tak yakin mereka mengerti yang dimaksud dengan demokratis. Mereka berloncatan ke dapur, seperti kucing bertemu bola menggelinding. Suaranya memenuhi ruangan: “Ibu! Dipanggil Ayah!”

Akhirnya kami sepakat ke luar rumah. Dan aku sedikit terperanjat, sewaktu kedua anakku mengusulkan: “Nanti kita beli terompet, ya!”

Terompet? Memang hampir setiap tahun baru, benda itu menjadi paling favorit. Tak mungkin sanggup kuhindari. Menurutku, terompet begitu pandai menghasilkan suara menyayat. Pada upacara pemakaman militer, kehadiran terompet seperti wajib. Lengkingannya yang sendu sanggup mempertebal kesedihan pelayat yang kemudian menunduk takzim. Suara terompet selalu mengingatkan bagaimana jenazah ayah dikebumikan dengan khidmad di Taman Makam Pahlawan, ketika aku masih 12 tahun.

Tentu tak ada alasan untuk melarang membeli terompet. Rasanya, hampir setiap akhir tahun mereka memiliki terompet kertas. Akulah yang harus mengubah sikap. Bukan membencinya. Pengalaman muram masa lalu, ketika bunyi terompet menjadi semacam isyarat yang menakutkan, tak hendak kuwariskan kepada mereka. Suaranya yang murung, mengiris, kadang-kadang membuat seluruh persendian lemas. Sebuah nyanyian kehilangan.

“Oke kita beli terompet!” Aku kaget juga dengan keputusanku.

Nifa dan Afif melonjak gembira, seolah-olah benda itu sudah ada di tangan. Selintas dalam diorama pikiranku, ada malaikat yang melompat-lompat girang: setelah bertahun-tahun dijauhkan dari terompet, kini boleh meniupnya kembali.

Tinggal menunggu akhir hari terkulai. Matahari akan meninggalkan kerling perpisahan, kira-kira 11 jam lagi. Suasana malam nanti, meskipun basah, akan hangat oleh berbagai harapan penghuni bumi terhadap kedatangan hari esok. Matahari yang terbit kelak dianggap bola emas yang baru dilahirkan, padahal tak ada yang sungguh-sungguh baru. Atau justru setiap hari tumbuh fajar matahari baru?

Tapi hujan memang tak henti-henti. Seperti sengaja menghabiskan sisa air dari kolam di langit, agar hari pertama benar-benar bersih dari awan-gemawan. Ada beberapa kantor yang masih membuka kegiatan, termasuk kantorku, meski setengah hari. Tentu kami datang dengan kemalasan yang terencana. Lihatlah, aku enggan mengenakan sepatu. Sementara kedua anakku telah menyambar komik masing-masing, dan hanyut di dalamnya.

Kukecup ubun-ubun mereka sebelum aku menuju mobil yang kuparkir di depan beranda. Kaca mengabur ketika aku meluncur ke jalan raya. Sulit ditebak sampai kapan hujan akan reda. Dalam perjalanan kujumpai pemandangan yang membuatku merasa prihatin. Di teras pertokoan yang sebagian masih tutup, atau di halte yang sesak, kulihat penjual terompet turut berdesakan menghindari hujan.

Kupikir mereka tahu, bahwa di negeri ini hanya ada dua musim. Dan hujan, paling banyak jatuh di bulan Desember. Menjual mainan khas pergantian tahun yang dibuat dengan bahan tak tahan hujan, sesungguhnya tindakan penuh resiko. Tetapi itulah penghasilan musiman yang selalu menjadi pilihan mereka. Sementara bagiku, hal semacam itu selalu melewati pertimbangan berlapis-lapis.

Panorama sepanjang teras toko itu menyimpulkan bahwa terompet ternyata tak hanya menghadirkan suara pilu mendayu. Tetapi di pagi hujan seperti ini, mereka menggantung pilu dalam pikulan yang seolah turut mengkerut oleh gigil cuaca.

Ah, lupakan itu! Akhirnya aku tiba di kantor, dan lantai parkir licin oleh cipratan air. Sebenarnya memang tak ada pekerjaan yang sungguh serius. Kami tinggal membereskan meja, merapikan setiap file, memisahkan yang kadaluwarsa untuk dikirim ke gudang. Menutup komputer dan mencabut steker listrik dari stop-kontak. Cleaning day yang ditutup dengan ucapan Selamat Tahun Baru, saling bersalaman di antara kami, lalu masing-masing akan pulang tanpa makan siang. Ada banyak hal yang menunggu di rumah: keluarga, acara, atau…ah, terompet!

Gerimis tinggal desis. Uap air yang terbang bersama debu basah dari mobil di depan membuat badan mobil kita lebih kelabu. Pada kaca depan membekas garis lengkung tempat wiper berputar setengah lingkaran, mirip lubang topeng yang terlalu besar. Ternyata siang itu aku ngebut. Seperti tak sabar, karena telah sampai lebih dulu ke telingaku suara Nifa dan Afif yang riang. Suara terompet yang menyalak keras! Ahai, ibunya pasti telah membelikan ketika ada yang lewat depan rumah.

“Ayah pulang!” seru Afif. Mengintip dari jendela.

“Nifa, bawakan payung!” perintah ibunya. Ketika jalan berdampingan dengan anak 11 tahunku, terasa bahwa ia sudah hampir menjadi gadis. Sementara aku sudah lebih tua dari mendiang ayah! Kutarik nafas lega, entah kenapa.

“Lihat, Ayah! Terompetku bagus, bukan?” Afif memamerkan. Aku mencoba tergelak, dan hendak mengatakan: “Sayang, hanya punya satu nada suara. Dan pasti bukan untuk musik pemakaman.”

“Sup-nya hampir dingin,” isteriku membuka tudung saji di meja makan. “Mau dihangatkan lagi?”

“Dengan ini?” Aku mengecup bibirnya. Kutarik kursi, lalu menyenduk nasi. “Kasihan ya, pedagang terompet di jalan-jalan.”

“Kenapa?” Isteriku menuang air putih ke dalam gelas. “Bukankah sekarang saatnya mereka menuai keuntungan dengan modal yang tak seberapa?”

“Kulihat mereka berteduh kedinginan di beberapa tempat. Kalaupun orang membeli, tentu dengan keyakinan jika hari akan terang.”

“Aku sudah beli. Cuma dua sih,” isteriku menjelaskan. Seperti tahu irama pembicaraan, Nifa dan Afif di ruang tamu serentak meniup terompet. Aku tersenyum. Ternyata indah juga suara itu. Mengingatkan seruan angsa, kukira.

*

SESUDAH makan malam, kami meninggalkan rumah. Langit malam kehilangan bintang. Mendung masih menggantung, hujan tinggal rintik yang halus, dan jatuh miring oleh tiupan angin. Tapi tidak mengurangi kegembiraan anak-anakku. Sesuatu yang mungkin manis dikenang kelak, atau menjadi pengalaman berharga.

Jalanan mulai padat sejak memasuki daerah protokol. Pedagang terompet dan minuman pun berduyun-duyun ke arah pusat keramaian. Mungkin banyak orang haus setelah berteriak gembira sepanjang malam, atau perlu ngemil demi menghangatkan badan. Hampir setiap tahun, kudengar perihal kemacetan luar biasa sekitar tengah malam, yang membuat enggan keliling kota. Rasanya baru kali ini kami merayakan di luar rumah, di bawah lazuardi yang gerimis. Dan anak-anak berjanji mau begadang.

            Berlindung topi, kami mencoba memandang tanda-tanda. Adakah beda yang mencolok, antara malam pergantian tahun dan  malam-malam lain? Dingin dan basah udara membuat banyak orang memilih tetap di mobil. Bunyi nyaring terompet dalam variasi nada, mengisi lambung Jakarta. Ada banyak alasan untuk bersukaria. Mungkin ada yang berdoa karena percaya segala permintaan malam ini akan dikabulkan. Banyak yang demikian serius meletakkan harapan…

            Rintik air tipis terus jatuh, namun sebagian remaja bahkan tak peduli lagi. Ada yang lebih pantas dipikirkan, misalnya petasan dan terompet, dibanding ancaman influenza. Ini malam yang berlangsung setahun sekali. Meski bulan tak menunjukkan samar cahayanya. Anak-anakku tak sabar untuk turun. Sementara kami mulai berada di belantara mobil dan manusia yang menyemut, riuh oleh kegembiraan.

            “Berapa jam lagi tahun-barunya, Ayah?”  tanya Nifa. Aku melirik arloji yang kupercepat sepuluh menit. Indonesia Timur telah bersorak-sorai satu jam yang lalu.

            “Kurang lebih satu jam lagi.” Mataku mencari-cari celah yang nyaman untuk berhenti, dan mengajak anak-anak turun.

            “Seperti apa sih tahun yang baru itu?” Pertanyaan Afif membuat kami hendak tertawa. Lalu ibu dan kakaknya sibuk menjelaskan. “Kenapa kita mesti tiup terompet?”

            Ya, kenapa kita harus meniup terompet? Seperti sangkakala untuk sang kala. Atau awal sebuah perang. Menjelang pagi ini, kita memang tengah menyiapkan perang melawan berbagai hambatan untuk mencapai seluruh keinginan yang diam-diam ditulis dalam hati. Maka ketika kami turun dan berbaur di trotoar batu-hias Monumen Nasional, dalam taburan derai gerimis yang berkilau oleh cahaya, terasa ada sebuah pesta. Kita bagai memiliki satu rasa: harapan yang diteriakkan melalui terompet.

            Apalagi saat puncak yang ditunggu itu tiba, mirip beralihnya halaman buku, atau pergantian irama musik pada sebuah orkestrasi panjang. Khalayak serentak meniup terompet, saling mengatasi, seperti demonstrasi anak-anak Said Kelana dalam suatu konser. Mereka melompat-lompat girang dengan tangan dikepal, meledakkan petasan di sana-sini, memutar-mutar jaket yang dilepas ke udara. Sudut-sudut langit merona oleh kembang api, penuh suara sirene yang entah dari mana dinyalakan.

            “Ayah, bising!” Afif menutup telinga. Aku tertawa memandangi mereka. Memandangi semua yang mendekati gila. Bagaimana andai setiap malam adalah malam tahun baru…?

            Tiba-tiba isteriku memeluk. Ah, ia mengikuti perilaku orang-orang di sekitarnya, yang menganggap pasangannya tempat berbagi haru. “Selamat tahun baru, Mas,” bisiknya. Kueratkan dekapan pada bahu dan punggungnya. Naluriah saja.

            “Ya, mari kita panjatkan doa. Semoga tahun ini penuh berkah, jauh dari kesulitan.” Lalu kuajak anak-anak untuk kembali ke mobil. Baju kami mulai dingin, mulai dihinggapi gejala masuk angin. Sambil melangkah di antara kerumunan, Nifa dan Afif terus memainkan terompet mereka yang mulai lembab oleh gerimis.

            Di dekat mobil, kami dicegat seorang penjual terompet yang pikulannya masih penuh. “Silakan terompetnya, Pak.”  Raut wajahnya penuh harapan.

            “Kami sudah punya,” kataku. Meskipun hanya dua buah.

            “Ini terompet bagus, Bu.” Ia beralih ke isteriku. Kami berpandangan. Kulihat ada keraguan di mata isteriku Ia memang penuh belas kasih, sekalipun kuingatkan dengan  isyarat bahwa inilah resiko penjual terompet.

            “Tapi tahun-baru sudah lewat,” ujar isteriku. Ya. Setidaknya lewat setengah jam. Gema kegembiraan akan beranjak surut, lambat-laun. Banyak mobil yang mulai bergerak, entah ke mana lagi. Kerumunan akan berangsur hilang.

            “Suaranya lebih bagus dari punya anak Ibu. Sungguh!” Ia meyakinkan. Dan lelaki yang setengah menggigil itu mengambil satu terompet, mencoba meniup. Benar. Lengkingannya seperti memiliki dua atau tiga nada, tapi justru mengingatkan aku pada pemakaman ayah, 25 tahun yang lalu. “Benar, kan?”

            Anakku tampak setuju. Mereka menghentikan tiupannya, dan memandangku seperti turut membujuk. Aku segera bereaksi. “Ya, memang bagus. Tapi kita tidak memerlukan lagi, Sayang. Kita mau pulang, istirahat. Jangan sampai kita sakit.”

            Penjual terompet itu melepas 4 buah dari ikatan, seperti abai padaku. Dan aku buru-buru mencegahnya. “Tidak usah, Pak.” Tapi isteriku menyentuh lenganku.

            “Terompet-terompet ini saya buat dengan sungguh-sungguh, dengan penuh perasaan. Itu yang membuat tampak halus dan bunyinya bagus.” Bapak yang tetap sopan itu menjelaskan. Tatapan anak-anak seperti menunggu.

            “Bagaimana?” bisikku kepada isteriku.

            “Maaf, ini tidak usah beli,” tiba-tiba penjual terompet itu bagai menyadari kekeliruannya sejak awal. “Ini saya berikan gratis. Bukankah tahun-baru sudah selesai?” Ia agaknya setuju dengan pernyataan isteriku tadi.

            Aku mendadak kikuk. Merasa serba salah. “Begini saja…berapa harganya?”

            “Jangan membayar. Saya hanya ingin memberikan. Saya, terus terang saja, mengharapkan orang merasa senang meniup terompet-terompet saya.”  Diulurkannya terompet-terompet itu kepada kami. Dengan ragu-ragu, isteriku menerima. Aku mengeluarkan dompet, tapi segera dicegah oleh penjual itu. “Tidak usah, Pak. Saya ikhlas.”

            Semula aku yang hendak mengucapkan kata ikhlas, tapi keduluan. Dan kukira ia tentu memerlukan uang. “Padahal Bapak harus keluar modal untuk membuatnya.”

            “Itu jangan dipikirkan. Sudah jadi niat saya. Saya akan bahagia jika terompet ini ditiup dan mengeluarkan bunyi yang indah.”

            “Maksud kami, ini untuk Bapak, untuk …ya sekadar…”

            “Sekali lagi maaf,” potongnya menghiba. “Saya hanya ingin terompet ini berguna. Saya tidak mau menerima uang.”

            Aku mencoba memandang langit. Cemas, jika ini sebuah dongeng. Tentu menggembirakan bagi anak-anak, tapi terasa aneh bagiku. Kukira, kita tidak sedang berada dalam halaman komik HC Andersen. Lelaki itu tidak mirip, misalnya, dengan gadis korek-api; atau pangeran yang menyamar. Tiba-tiba saja, aku ingin segera pergi dan kembali ke dalam kenyataan. Apalagi, kemudian, gerimis agak lebat. Ada alasan untuk pamit, serta menghindari pemandangan yang lebih trenyuh jika melihat hujan akan merusak terompet-terompet indah itu.

            “Terimakasih, Pak. Kami harus segera pulang.” Aku yang berinisiatif. Penjual terompet itu mengangguk dan tersenyum. Sia-sia aku mencari cahaya sedih di matanya. Anak-anakku melonjak dan merebut dua terompet dari tangan isteriku.

            Dalam perjalanan pulang, aku sibuk memikirkan penjual terompet. Dari sudut mataku, tadi, kulihat ia terus membagikan terompetnya kepada orang-orang. Dari mana ia muncul? Dan ke mana ia akan menghilang? Aku mendadak terkesiap, karena teringat jumlah peniup terompet pada pemakaman ayah dulu. Empat orang! Tapi aku kini sudah lebih tua dari mendiang ayahku!

*

            HAMPIR dua minggu berlalu sejak tahun baru. Kegiatan berjalan kembali seperti kereta-api yang meninggalkan masa jeda di stasiun. Hujan masih membasahi Jakarta, tak tentu waktu. Mobil pun luput dicuci. Tapi, pagi ini, ketika kubereskan bagian dalam mobil, kutemukan dua buah terompet di kolong jok belakang. Jantungku berdebar, padahal tidak seharusnya demikian. Ini hadiah dari penjual terompet itu! Ya, benar! Rupanya anakku hanya menurunkan dua milik mereka.

            “Memang buatan yang indah,” bisikku memuji. Halus dan rapi, warnanya serasi. Kilau emasnya seperti abadi. Dan bunyinya? Aku ragu untuk melakukan mana yang lebih dulu: memanggil isteriku atau meniup terompet itu? Yang berkelebat adalah paras penjual terompet, tersenyum penuh harapan. Berikutnya adalah wajah khusyu’ empat peniup terompet pada pemakaman ayah, di masa kanak-kanakku.

            Akhirnya aku memanggil isteriku dengan cara meniup terompet. Suaranya halus, mirip suara pembuatnya yang menghiba. Mirip suara pilu di pemakaman ayahku. Dalam suara terompet mendayu itu, sayup, seperti ada yang memanggilku…

***

Oleh: Kurnia Effendi.

(Terpilih sebagai Lima Belas Cerpen Terbaik Sayembara Cerpen Horison 2004, dan dimuat di majalah sastra Horison, edisi Maret 2005)