Friday, February 20, 2009

Melibas Batas Seni dan Realitas

KRONIK

Erasmus Huis kerap menjadi tempat untuk menggelar karya-karya hasil eksperimen atau workshop. Kali ini, kurator Dolorosa Sinaga telah memilih dan memberi kesempatan kepada 12 perupa untuk menyampaikan hasil karyanya. Mungkin karena para perupa itu rata-rata pematung, maka Dolorosa yang ditugasi untuk mengurasi.

Mereka adalah AB Sutikno, Amalia Radjab, Yani M. Sastranegara., Innes Indreswari, Budi Santoso, Awan Simatupang, Anusapati, Hardiman Radjab, Taufan AP., Amalia Sigit, Ade Artie Tjakra, Abdi Setiawan, dan Tita Rubi. Dengan tema “Interaksi sebagai Sumber Inspirasi Kreatif”, Dolorosa mencoba melihat awal mula barang jadi atau barang kemasan yang menjadi bagian atau diklaim sebagai karya seni.

Dari sisi konsep seni rupa, sering dibedakan antara kerajinan (handycraft) dengan karya seni (fine art), dengan contoh yang paling sederhana, misalnya souvenir yang dibuat secara massal di tempat pariwisata dengan benda seni yang hanya dibuat satu-satunya. Walaupun, keduanya bermula dari konsep desain juga. Kemudahan untuk menggandakan justru melunturkan nilai adiluhungnya. Dari sini, lantas terbedakan antara yang kebanyakan (populer) dengan yang langka (koleksi).

Di abad 20, sebagaimana yang ditulis oleh Dolorosa, dunia seni rupa dikagetkan oleh karya Marcel Duchamp, seniman dan intelektual dari Prancis. Ia membawa urinoir ke ruang pameran dan memberinya judul seperti pajangan karya seni. Kepindahan urinoir dari toilet ke galeri, membedakan nilai yang dikandungnya. Kontroversial, tentu. Saat itu para kritikus menyebut Duchamp sebagai pelopor readymade. Tak hanya menciptakan ide nyleneh, Duchamp juga menerbitkan majalah Antiartistic.

Dari nama majalahnya, ada upaya untuk melawan pendapat yang sudah pakem bahwa karya seni dijauhkan dari fungsi-fungsi selain sebagai hiburan bagi mata yang memandangnya dengan segala tafsir sesuai selera masing-masing. Duchamp ingin menawarkan pemahaman baru tentang seni.

Dalam gelombang aliran Art Deco di awal abad 20, demam berlangsung tak hanya pada karya seni murni, melainkan juga (yang lebih kentara) pada aplikasi arsitektur, desian furniture, fashion, sampai dengan barang cetakan dan tipografi. Kenyataannya, pemikiran Duchamp masih berpengaruh hingga kini. Bahkan, jika ditilik dari perkembangannya, readymade itu mengawali karya instalasi yang banyak digemari oleh para perupa. Seolah-olah, segala benda dapat diklaim sebagai karya seni.

Kedua belas seniman yang berpameran di Erasmus Huis, walau tidak bekerja dalam satu studio yang sama, namun coba diikat oleh interaksi yang sama antara sang seniman dengan benda-benda di sekelilingnya. Interaksi itu mewujudkan gagasan baru dari benda-benda yang telah lama lahir. Brainstorming antara diri perupa dengan atmosfer yang dihadapinya memunculkan tafsir yang dimatangkan dalam suatu konsep. Meskipun dalam pandangan selintas, terasa ada peniruan dan pengulangan saja, ketika Hardiman Radjab membawa koper ke ruang pameran. Pada koper itu diwakilkan kisah tentang perjalanan yang kaya dengan pengalaman.

Dalam dunia sastra, di akhir tahun 70-an, juga terbawa dunia benda dalam arti yang sesungguhnya, yang dinilai sebagai narasi. Misalnya ada sebaskom air yang diberi judul “Kiriman Salju dari Canada”. Boleh diprotes, tetapi cukup masuk akal, bahwa salju yang sudah sampai di Jakarta itu mencair sebagai air bening. Lalu itu disebut sebagai puisi bebas. Narasi selain yang dituliskan, bisa diangankan oleh yang memandang. Puisi itu dilepaskan dari baris, dari paragraf, dari huruf, dan halaman yang lazimnya dwimatra.

 Pada pertengahan abad 19, pematung Auguste Rodin yang juga berasal dari Prancis, memulai genre patung tanpa kepala atau anggota badan. Torso. Gejala ini bahkan kemudian menjadi bagian dari pengajaran dalam seni patung. Implementasinya di zaman modern ini merambah dunia fashion, dalam wujud manekin yang semata menitikberatkan pada tujuan menampilkan model busananya, bukan pada pemakainya. Amalia Sigit mengamalkannya dalam postur-postur idealis dan wajah yang cantik. Selendang dan tatto adalah penghias sebagai dekorasi saja.

Ade Artie menyampaikan komposisi dari materi yang tak disembunyikan: batu atau semen dengan warna abu-abu. Letak patung sosok manusia boleh di mana saja, itu semua tergantung pada estetika yang hendak ditawarkan. Pada tiga patung manusia dengan skala 1:1 yang menunjukkan komposisi saling bercakap, diberi judul “Ngerumpi”, walau sederhana menunjukkan ekspresi.

Gubahan tangan Yani M. Sastranegara cukup menarik. Pada patung-patung tembaga maupun yang diberi warna-warna ceria, menunjukkan gerak dinamis. Tubuh patung itu seperti dijahit, diberikan arah kibaran seolah sedang tertiup angin. Berbeda dengan Anusapati maupun Innes Indreswari yang mengeksplorasi bentuk dari wujud gumpalan, baik dari kayu maupun batu. Anusapati sebetulnya seorang pelukis juga, bahkan sedang naik daun disambut baik oleh para kritikus seni rupa.

Nilai-nilai artifisial dipertaruhkan di sini ketika para perupa menciptakan dunia sendiri sesuai dengan khayalannya. Kekuatan Innes dalam mengolah bentuk dari benda yang awalnya sederhana memang mewarisi kekuatan daya cipta dosennya, Rita Widagdo. Pematung asal Jerman yang telah menjadi istri desainer interior Indonesia (Widagdo) itu mengajarkan dasar-dasar yang kuat pada eksplorasi bentuk sesuai karakter bahan sejak mahasiswa tingkat I di ITB. Ia mengajar mata kuliah Trimatra (3 dimensi) untuk Tingkat Pertama Bersama. Mahasiswa akan bertemu lagi pada Jurusan Seni Patung. Karya-karyanya dapat dilihat pada sejumlah tempat di Jakarta, termasuk pohon-pohon palma dari logam/aluminiumdi kawasan Kelapa Gading.

Kadang-kadang seorang seniman sengaja menampilkan kenaifan dengan merujuk pada medium garis. Seperti yang ditunjukkan oleh Awan Simatupang. Segerombol lidi atau batang kayu yang diraut seperti tusuk sate, ditanam pada hamparan miniatur rumput. Judul “Vertical” di sana pasti mewakili lidi-lidi yang tegak itu. Filosofi apa yang hendak disampaikan? Sedangkan AB Soetikno sengaja menghentikan gerak benda-benda fungsional yang diabadikan dalam satu frame imajinasi.

Pameran dua belas perupa itu menempati ruang dalam dan ruang luar. Pada awal kita masuk ke ruang pameran akan dikagetkan oleh adegan seorang polisi yang sedang menangkap maling dengan percakapan yang dituliskan pada dinding. Kejenakaan satire yang diangkat dari kejadian. Paling tidak, sebelum berkeliling menyaksikan semua karya, kita dibuat tersenyum lebih dulu.

(Kurnia Effendi)