Monday, June 26, 2006

K. Usman, Harmoni Bakat dan Pengalaman

Siapa tak kenal K Usman? Pengarang yang masih tetap produktif menulis dan menerbitkan buku di usia 65 tahun. Pengarang yang menulis untuk semua segmen pembaca, mulai anak-anak, remaja, dan dewasa. Pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 yang lalu, bukunya yang terbaru, "Pengantin Luka" diluncurkan di toko buku Gramedia Depok. Acara tersebut dihadiri oleh penggemar sastra dan para sahabatnya. Tampak di antara hadirin adalah Hamsad Rangkuti, Martin Aleida, Diah Hadaning, Rahmat Ali, Ana Mariana Masi, dan... Soekanto SA. Bagi anda yang sekarang sudah memiliki anak remaja, pasti pernah mengalami masa-masa ketika K Usman dan Soekanto SA dikenal sebagai pengarang anak-anak di masa lalu.

Awal persentuhan saya dengan K Usman terjadi tahun 80-an, melalui cerpen "Setelah Musim Jamur", yang kalau tak salah menjadi cover story pada kumpulan cerpen Femina (rasanya saya masih menyimpannya). Setelah itu, secara fisik bertemu di Bentara Budaya, tahun 90-an, saat bersama-sama mengikuti seminar tentang HIV-AIDS. Kemudian menjadi sering berjumpa dalam pelbagai diskusi sastra, baik di TIM maupun tempat-tempat lain. Dan saya merasa sangat terhormat ketika dua kali meluncurkan buku, K Usman hadir sebagai peserta aktif.

Dalam perbincangan ini saya tidak akan secara khusus menelaah cerpen-cerpen K Usman dalam kumpulan "Pengantin Luka", tetapi lebih bermaksud 'membaca' K Usman sebagai sosok pengarang yang tak pernah surut dari medan sastra. Keluasan segmentasi yang digarap oleh K Usman, memberi tahu kepada kita bahwa bahasa baginya menjadi piranti komunikasi yang sangat dikuasai. Boleh disebut, K Usman ini 'serakah', karena merebut seluruh usia pembaca. Selain fasih bercerita kepada orang dewasa, ia pun piawai menggoda perasaan anak-anak melalui kisah-kisahnya.

Ada yang sangat menarik dalam riwayat masa lalu K Usman yang membuatnya bercita-cita menjadi pengarang. Saya bongkar di sini saja, agar menjadi bagian motivasi bagi para pengarang muda. Waktu K Usman masih duduk di kelas 3 Sekolah Rakyat, tahun 1951, ada seorang guru yang gemar bercerita. Namanya Pak Mulani. Pada suatu hari, Pak Mulani membaca cerita dari sebuah buku, dengan judul "Si Jali dan Anak Harimau". Setelah selesai, beliau bertanya, apakah ada yang dapat menceritakan kembali dengan bahasa sendiri? Karena tak seorang pun mengangkat tangan, K Usman kecil menyediakan diri maju ke depan kelas. Lantas dia menceritakan ulang kisah "Si Jali dan Anak Harimau". Sekitar lima menit bercerita, teman-temannya riuh bertepuk tangan. Kata mereka, K Usman bercerita lebih bagus dari Pak Mulani. "Sejak saat itulah saya bercita-cita ingin menjadi penulis cerita yang baik." demikian K Usman mengakhiri pengalaman tak terlupakan itu. Sejak saat itu pula, K Usman menyadari ada bakat yang menggeliat dalam dirinya untuk menjadi pengarang.

***

DALAM bercerita, K Usman tidak menggunakan bahasa yang bombastis, atau gaya yang dibuat-buat. Rata-rata paragraf awal cerpen K Usman langsung membidik inti persoalan, bahkan kadang-kadang bertemu konflik. Ini yang sangat membedakan antara K Usman dengan Korrie Layun Rampan, misalnya. Saya akan memberikan contoh dengan mengutip kalimat atau alinea pertama beberapa cerpen dalam "Pengantin Luka", di bawah ini:

"Demi keselamatanmu, sebaiknya jangan dating lagi ke kota Prabumulih. Seseorang menunggumu di sana selama bertahun-tahun, ingin membunuhmu..." (cerpen "Pengawal")

"Ini iklan gila!" gerutu seorang tuan tanah sambil mengamati sebuah iklan mini sekolom di sebuah harian pagi... (cerpen "Terkenal dan Kaya")

Setahun setelah suaminya pergi ke Jakarta dan tak pernah kembali, Nabila nekat menyusul... (cerpen "Cinta dan Luka")

"Ini Jakarta, Bung! Tangkap peluang pada kesempatan pertama..." (cerpen "Misteri Seorang Wanita")

Subuh yang hening di kampung Tanjung dihebohkan kehadiran kembali Tantini. ... (cerpen "Pengantin")

Dengan cara itu, K Usman telah memikat pembaca sejak mula bercerita. Memancing rasa penasaran pembaca adalah bagian terpenting dari ilmu mengarang, saya kira. Ungkapan yang bertele-tele justru sering menjebak pengarang pada kelindan permasalahan diri sendiri, bukan pada gagasan yang hendak disampaikan. Dengan cara itu pula, K Usman seolah telah membuat 'cerita' pada ruang kosong sebelumnya. Ada sederet aksara imajiner yang terhimpun di kepala setiap pembaca, dengan pelbagai adegan sesuai penafsiran masing-masing, sebelum tiba pada kalimat pembuka cerpen. Misalnya, pada cerpen "Tak Ada Kata Kalah": Akhirnya , aku memberanikan diri menghadap manajer sumber daya manusia di kantorku... Bukankah, sebelum 'keputusan' itu dilakukan oleh sang tokoh, ada serangkai pergulatan batin dan mungkin pembicaraan intens dengan pihak lain? Contoh-contoh di atas juga menunjukkan K Usman tidak ingin membuang waktu pembaca untuk menelusui kata-kata yang tak perlu. Dengan langsung menuju konflik, cerita bisa mengalir lebih deras, dan kilas balik menjadi bagian yang diurai secara menarik. Ini pasti buah pengalaman panjang dari kepengarangan K Usman.

Sepanjang pengamatan saya, K Usman bukanlah model pengarang yang eksentrik. Sejak pertemuan saya yang pertama, hingga hari ini, selalu saya lihat penampilannya yang rapi. Sastrawan itu juga seniman, tetapi seniman tak selalu harus berbeda dengan orang kebanyakan. Mungkin ini juga kecenderungan sastrawan yang memiliki latar belakang sebagai guru, telah menjadi kebiasaan untuk dicontoh murid-muridnya. Rasanya kita juga tak akan membayangkan Budi Darma berambut gondrong, atau Sapardi Djoko Damono mengenakan anting di salah satu telinganya. Bagi sastrawan 'aliran' rapi ini, tentu yang diuatamakan adalah kualitas karya. Pikiran dan imajinasi boleh liar, tetapi sebagai manusia yang berada di tengah-tengah hubungan sosial dengan manusia lain, bukanlah dipandang sebagai orang aneh.

Bagi K Usman, sahabat dan penggemar adalah sumber inspirasi. Oleh karena itu, K Usman tetap santun kepada sumber inspirasi ini. Bahkan kepada para calon pengarang belia yang belajar kepadanya, datang ke rumahnya, ia menganggap seperti anak-anak sendiri. Dibimbing dan disuguh santap siang, sampai kemudian diantar pulang. Tetapi ketika saya tanyakan, mengapa tidak membuka kursus menulis, agar banyak calon pengarang dapat mereguk ilmunya; K Usman menjawab: ingin sisa usianya dipergunakan untuk menulis karya-karya yang lebih baik.

Saya kira, selanjutnya lebih baik diskusi ini menjadi ajang komunikasi langsung antara peserta dengan pengarang. Tapi sebelum itu, saya ingin menyampaikan pendapat K Usman tentang bakat. Seorang pengarang memerlukan bakat. Tanpa bakat, tidak mungkin tercipta karya yang baik dan luar biasa. Pendapatnya ini dibuktikan melalui pengamatan, bahwa di masa lalu HB Jassin telah mengorbitkan banyak nama pengarang, tapi hingga kini tingga berapa gelintir yang tetap konsisten menulis prosa atau puisi.

Jadi, apakah anda cukup berbakat sebagai pengarang?

Jakarta, 23 Juni 2006
Kurnia Effendi, peneliti LPKP, penggemar sastra
Untuk Diskusi Meja Budaya di PDS HB Jassin