Monday, June 26, 2006

Wasiat dan Warisan


Dalam sebuah omong-omong santai dengan Alex Komang di meja kayu tua beranda belakang Teater Populer, saya mendengar cerita, bahwa Teguh Karya tidak mewariskan rumah dan pekarangannya itu kepada saudaranya yang tinggal di sekitar Kebon Pala. Sutradara film dan teater legendaris itu justru berwasiat kepada murid-muridnya, agar memelihara sanggar Teater Populer untuk orang-orang yang ingin belajar tentang kesenian, terutama yang berkaitan dengan acting. "Akan tetapi, jika tempat ini sudah tidak bermanfaat lagi, bakar saja."

Artinya, Teguh Karya ingin mewariskan sebuah padepokan seni agar terus mengalirkan ilmu, yang kelak bercecabang seperti liuk sungai yang menuruni lembah dan akhirnya tumpah ke muara. Karena ia, bagaimanapun, akan kalah dengan waktu. Sementara ilmu akan menjadi benih yang tumbuh rimbun jika setiap pemiliknya rajin memupuknya, memanfaatkannya. Ilmu adalah satu-satunya 'materi' yang tak akan habis ketika diberikan kepada orang lain. Karena ilmu bukan semata berpindah, namun berkembang, menular seperti epidemi.

Teguh Karya, penerima lebih dari selusin piala Citra, adalah ikon seniman Indonesia untuk bidang teater dan film. Kita mengetahui kualitasnya, kini, justru melalui karir murid-muridnya yang setia. Misalnya Slamet Rahardjo Djarot, Christine Hakim, mendiang Tuti Indra Malaon, dan Alex Komang sendiri. Teguh Karya telah berwasiat sekaligus mewariskan sesuatu yang mudah-mudahan tak akan pernah punah.

Bagi kaum muslimin dan muslimat, warisan terbesar dari Nabi Muhammad adalah Al-Quran dan Al-Hadist. Melalui dua petunjuk itu, niscaya akan terjamin keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Untuk tetap setia dan konsisten, seseorang harus mempergunakan iman. Kepercayaan dan keyakinan. Dan rasa gembira sebagai kebutuhan ketika menjalankannya.

Dalam sebuah film yang indah, berjudul "The Bridge of Madison County", ada wasiat seorang ibu yang harus dijalankan oleh kedua anaknya. "Jika aku mati nanti, kremasi aku dan abu jenazahku ditaburkan di..." Seorang ibu yang begitu anggun, welas asih, itu dihormati oleh anak-anaknya sampai ditemukan sebuah fakta bahwa ia pernah berselingkuh. Dalam sebuah peti yang diwariskan, tak hanya ditemukan abu jenazah, namun juga sejumlah surat yang ditulis di belakang punggung suaminya. Bagaimana kira-kira perasaan yang bergejolak pada anak-anaknya?

Tapi kemudian kita tahu, melalui penceritaan kilas balik, Meryl Streep, pemeran ibu, memang jatuh cinta pada seorang fotografer dari National Geography, yang diperankan oleh Clint Eastwood, tanpa sampai pada hubungan seksual. Sebuah cinta yang menyala diam-diam dalam tungku hati, merebak wangi serupa kuncup melati, dan hanya tampak melalui binar mata yang bahagia. Kita, sebagai penonton, tahu, karena sang sutradara ingin memberikan penjelasan. Namun tentu tidak bagi kedua anaknya. Semua telah menjadi sejarah, dan tinggal seonggok abu jenazah beserta sejumlah surat. Hati mereka dibimbangkan oleh impresi yang koyak.

Wasiat dan warisan, sering begitu karib. Yang pertama menjadi amanat untuk dilaksanakan, sedangkan yang kedua sebagai sesuatu baik materi maupun immateri yang akan dinikmati oleh ahli warisnya. Pernah saya menyaksikan sinetron lepas Mahakasih episode Mandra yang menerima warisan sepeda motor tua dari almarhum ayahnya. Warisan yang tampak tak berharga oleh banyak orang itu, di ujung cerita justru melimpahkan rezeki ratusan juta rupiah. Dapat disimpulkan, warisan seburuk apa pun ternyata juga sebuah amanah. Ia akan membalas budimu yang sabar dan ikhlas dengan pemberian jauh di atas harapan. Sementara, saya pribadi percaya, bahwa warisan yang diperoleh dengan cara berebut, sering membuahkan petaka yang tidak sederhana.

Kini, saya ingin menyampaikan wasiat menarik dari ayahanda Pak Pradjoto. Siapa tak kenal Pak Pradjoto? Sekian tahun lalu namanya berkibar karena membongkar kasus Bank Bali. Kini, laki-laki lulusan Fakultas Hukum UI dan Master dari Universitas Kyoto, menjadi komisaris Bank Mandiri. Beberapa malam lalu, berkat hobi di luar profesinya, ia menjadi narasumber dalam perbincangan sepak-bola Piala Dunia. Ia mengaku masih memiliki obsesi atas pesan ayahnya. Pesan yang mungkin telah menjadi semacam wasiat.

Ayah Pradjoto adalah salah satu pendiri koran Pikiran Rakyat, surat kabar yang berjaya di Bandung dan Jawa Barat. Almarhum Ali bin Tjokrowardojo pernah berpesan kepada Pradjoto, jika kelak menerbitkan surat kabar, namakanlah harian PIKIRKAN RAKYAT. Sebenarnya hanya terpaut satu huruf, namun maknanya jauh berbeda. Lebih dalam dan mengandung beban moral yang tidak ringan. Bukankah dari namanya juga sudah terkandung amanah? Bukankah kata "Pikirkan Rakyat" itu kini sangat relevan karena kontekstual dengan situasi di Indonesia?

Dengan demikian, Pak Pradjoto, pesan ayah anda itu boleh berlaku bagi kami semua. Berlaku bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Berlaku bagi Presiden, Wakil Presiden, dan jajaran Menterinya. Juga berlaku bagi pemimpin perusahaan yang buruhnya begitu banyak.

Amanah Pikirkan Rakyat, juga berlaku bagi pemilik dan pengelola Lapindo, yang telah melimpahkan lumpur panas bagi pemukiman dan sawah ladang rakyat...

(Jeda, Tabloid PARLE edisi 43, 26 Juni 2006)