Friday, July 28, 2006

Kabar dari Hongkong

Kumpulan cerita pendekNyanyian Imigranmenjadi penting karena secara geografis tidak ditulis di tanah air Indonesia. Para penulisnya juga bukan sepenuhnya berprofesi sebagai pengarang Indonesia yang telah punya nama atau memiliki pengalaman berkarya di media massa. Mereka, sebagian besar, adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang sehari-hari menjadi pembantu rumah tangga, atau pekerjaan lain yang sejenis.

 

Luar biasa! Itulah kesan saya pertama kali menerima buku ini yang menjadi setengah amanah, untuk dibaca dan diapresiasi, karena dipesan oleh salah satu pengarangnya masih tinggal dan bekerja di Hongkong. Saya tidak tahu persis, bagaimana cara mereka saling menjalin komunikasi, pertemuan yang melahirkan gagasan untuk membuat buku, dan proses persiapannya. Namun sungguh tak terduga, ternyata cerpen yang terhimpun begitu banyak sehingga ada proses seleksi di antara mereka, sampai akhirnya terpilih 16 cerpen (tiga di antaranya dari Jerman, Swiss, dan Amerika).

 

Kita tahu, tenaga kerja Indonesia, terutama yang di Malaysia, Timur Tengah, dan Hongkong, menjadi bagian dari situasi politik yang sesekali menghangat dan sempat memenuhi halaman surat kabar. Banyak hal menjadi penyebab, mulai dari perijinan, cara pengupahan, perilaku majikan, sampai nasib sial yang menimpa mereka saat tiba di tanah air. Tampaknya lebih dominan warna gelap bagi kehidupan mereka ketimbang suasana yang ramah. Apakah demikian yang tersurat dalam cerita-cerita mereka?

 

Agaknya masing-masingcerpenismemiliki suka-duka kisah yang lebih jujur dan cukup obyektif dalam penyampaiannya. Suasana tanah rantau terlihat lebih berwarna, bukan melulu kusam, bahkan latar itu tidak menunjukkan keberpihakan. Pada dasarnya masing-masing ingin bercerita, berkarya, merealisasikan ide yang tetap berakar pada hubungan antar-manusia: cinta. Cinta itu tentu mengandung unsur gairah, cemburu, pengkhianatan, kebencian, dan sebagainya. Misalnya kisah persahabatan dua perempuan dalam cerpenGoresan buat Windakarya Kris DS, atauSelingkuhkarya Nining Indarti, menunjukkan bahwa para perantau itu juga menjalani kehidupan seks di luar nikah di perantauan. Termasuk yang bahkan menjalaninya sebagai profesi, sebagaimana “Wan Chai” yang ditulis secara puitis oleh Ann.

 

Saya sangat terkesan dengan cerpen Mega Vristian, yang tampaknya juga menjadi orang yang dituakan dalam komunitas ini. Gelang Giok Mama” ditulis begitu lancar, mengalir dengan peristiwa yang cukup memancing rasa ingin tahu karena ada sedikit misteri di antara perilaku tokoh-tokohnya yang dijaga secara tak berlebihan. Rasa takut terhadap ramalan sial pada tokohakutidak diungkap dengan penjelasan, namun muncul melalui pelbagai peristiwa beruntun. Bahkan saya sempat tergelak oleh kelucuan yang tak dibuat-buat saat tiba pada adegan sang ayah mengenakan celana yang berlubang akibat panas seterikaSetting dan peristiwa saling mengisi secara harmoni, sementara endingnya juga tidak terlampau melodrama. Sedikit kejanggalan muncul ketika sang nyonya sedang beretelepon, pemeran aku bisa mendengar apa yang disampaikan lawan bicara di ujung sana.

 

Cerita-cerita yang tampil dalam buku ini bukanlah kelas sastra. Sementara tiga cerita yang berasal dari Swiss (Sigit susanto), Jerman (Gendhotwukir), dan USA (Joey Sambo) berjudulNyanyian Imigran” yang kemudian menjadi judul antologi ini, memang berbeda citarasa. Mungkin karena lokasi cerita bukan di Hongkong, atau boleh jadi karena penulisnya lelaki (sedangkan lainnya perempuan).

 

Dilengkapi pengantar oleh Sihar Ramses Simatupang, buku ini, sekali lagi menjadi penting, karena bukan ditulis oleh sastrawan. Sebagai karya, cukup manandai peta karya orang Indonesia yang mewakili secara empiris sebagai perantau (BMI), dan mungkin boleh ditilik secara obyektif. Ada kehidupan di sana, dengan aneka warna pengalaman, dan dikekalkan dalam bentuk teks cerita pendek. Kehadirannya patut kita sambut baik.

 

Pada tanggal 23 Juli 2006, buku ini diluncurkan di Pusat Dokumentasi HB Jassin, dengan wakil pengarang Etik Juwita, yang sengaja datang dari Hongkong untuk acara tersebut. Dia datang membawa kabar dari Hongkong, baik yang tersurat dalam buku maupun yang hendak disampaikan secara lisan. ***

 

 

Kurnia Effendi, cerpenis, redaktur PARLE