Tuesday, June 12, 2007

Jurnal Kalam Setelah 13 Tahun

Mungkin inilah jalan yang tepat bagi Kalam, jurnal kebudayaan yang diterbitkan olehkeluargamajalah Tempo untuk menuju era media maya. Boleh jadi terlambat, tapi itu pasti karena banyaknya pertimbangan sebelum memutuskan. Di belakang Kalam, selain Goenawan Mohamad yang menjadi pencetus gagasan, Nirwan Dewanto dan S. Prinka (almarhum) sebagai bagian dari pendiri, adalah orang-orang yang memiliki komitmen tinggi terhadap seni budaya.

Menandai situs www.jurnalkalam.org diluncurkan, Kalam menyelenggarakan pameran bertajuk Rupa Kalam di Galeri Lontar, di kompleks Komunitas Utan Kayu. Mulai 29 Mei sampai dengan 8 Juni nanti, seluruh wajah Kalam beserta sepilihan gambar ilustrasi dalam jurnal dipamerkan. Pameran ini mengisyaratkan begitu dekatnya antara teks dengan rupa (lukisan, grafis, patung,  instalasi) dalam setiap penerbitan Kalam. Menurut Asikin Hasan sebagai kurator, kata dan rupa berdiri setara di Jurnal Kalam.

Melihat perjalanan panjang jurnal yang berisi telaah serius perihal sastra dan budaya itu, kita tahu ada harta karun pemikiran yang terdokumentasi dengan baik di sana. Memang ironis, menyadari bahwa untuk memperoleh naskah bermutu sangat sulit, namun ketika dipublikasikan tak banyak orang menggandrungi. Jadi siapa yang salah?

Pengakuan Hasif Amini, Ketua Redaksi, tantangan datang sejak awal penerbitan Kalam. Namun pekerjaan itu tetap dilakukan demi idealisme yang tak gampang untuk berjalan mulus. Munculnya nama-nama yang sama dalam beberapa kali penerbitan disebabkan sulitnya menemukan standar yang memadai dari naskah yang masuk. Ironi lain datang dari lapangan: sejumlah peminat kesulitan mencari Kalam di toko buku, namun sejumlah besar edisi terkirim kembali ke gudang sebagai retur.

Lewat jalur maya, Kalam siap memuat esai, cerita pendek, petikan novel, puisi, dan karya grafis sepanjang tahun, demikian janji Hasif. Yang penting, Kalam kini dapat dibaca dari segala penjuru dunia. Selamat saling berselancar dalam pertukaran ide dan pemikiran segar!

 

(Kurnia Effendi)  

 

 

0 Comments:

Post a Comment

<< Home