Tuesday, May 15, 2007

Tujuh Tahun BungaMatahari

Café West Pacific, di belakang Gedung Jaya Jalan MH Thamrin, terlihat tak biasa pada Sabtu malam 28 April yang lalu. Tamu yang datang adalah para wanita muda cantik dan wangi, para pemuda yang keren dan modis. Ada apa gerangan di ruang temaram yang dindingnya dihiasi karya foto dan puisi grafis itu?

Malam ini adalah perayaan ulang tahun komunitas BungaMatahari yang telah berusia tujuh tahun. Ulang tahun sebenarnya tanggal 19 April yang lalu, tapi kita memperingatinya malam ini, sekaligus meluncurkan RumahKata. Jadi malam ini kita anggap seperti di rumah sendiri, santai dalam suasana bermain dan berkarya.” Demikian sang pemandu acara memberi tahu kepada para undangan.

Dan malam itu, selain anggota BungaMatahari yang membaca puisi, hadir pula Happy Salma membacakan cerpen dan Widi AB Three bernyanyi diiringi gitar akustik Om Oele Pattisilano, pemain jazz kawakan. Juga tampak Denis (bintang utama film Lovely Luna) dan Tante Rima Melati. Acara yang dibuka dengan pembacaan puisi 4 perempuan (dua di antaranya, Olin Monteiro dan Lulu, pengarang antologi puisi Merah Hitam Biru Kesumba) itu juga menampilkan sajian puisi bermusik yang dibawakan oleh Anya Rompas dan Olivia Sinaga.

Dalam komunitas BungaMatahari, puisi tidak menjadi angker atau rumit, namun justru menjadi semacam aksesoris hidup sehari-hari yang terasa manis. Para penggemar puisi itu memperlakukan karya dengan akrab, beberapa kreator bahkan menjadikannya multi media. Misalnya Nivell Raida yang menggunakan media video untuk memberi ilustrasi bagi pembacaannya agar lebih kuat pada makna yang hendak disampaikan. Sementara Henry Wijaya, sang fotografer seni, selalu menampilkan karya fotonya yang puitis bersamaan dengan puisi pendek mirip haiku atau kwatrin.

Menikmati perhelatan kaum muda pecinta puisi yang aktif melemparkan karya melalui media internet (mailist) sesungguhnya membuat perasaan jadi ringan dan cerah. Mungkin bagi sastrawan yang menjadikan puisi sebagai karya adilihung akan menimbulkan beda pendapat. Tetapi, sebagaimana karya musik dan seni rupa, masing-masing menemukan dirinya baik dalam jalur klasik dan kontemporer. Justru dengan keberagaman semacam itu, seni budaya akan hidup lebih dinamis. Dalam dunia pop yang menyergap kota-kota besar, melalui pengaruh keras dari advertising yang mendukung gaya hidup kaum urban, puisi dalam komunitas BungaMatahari menjadi hiasan yang cantik.

Semoga, para penggiat di milis BungaMatahari tidak hanya semata menikmati dan menulis puisi pop, namun juga belajar dari karya-karya sastrawan dunia. Selamat menuju tahun kedelapan!

(Kurnia Effendi)

 

 

 

1 Comments:

Anonymous agga ayu said...

kalo lihat cover anita cemerlang di sisi kanan blog ini jadi ingat masa2 smp...hehehehe...saya link blog-nya ya. salam:)

8:51 PM  

Post a Comment

<< Home