Monday, May 14, 2007

B u k u

ADA sejumlah orang yang setiap bepergian ke luar negeri, pulangnya membawa berpuluhbahkan mungkin hingga bilangan ratusbuku.  Untuk siapa oleh-oleh sebanyak itu? Ternyata bukan untuk siapa-siapa, selain, mula-mula, diri sendiri. Kerakusan sebagian orang untuk membaca membuat mereka berburu buku, di mana pun kesempatan itu muncul. Acap kali, untuk dapat membawa buku-buku itu ke Indonesia, harus membayar mahal karena over-weight, melampaui beban bagasi yang diizinkan bagi seorang penumpang pesawat. Apa boleh buat.

            Untuk menyebut di antara mereka adalah: Richard Oh, Mario Teguh, Haidar Bagir, Bagus Takwin, Viddy AD, dan para penggila buku lainnya. Kesempatan membeli buku bagi orang-orang sibuk memang jarang diperoleh. Sekalinya mereka mengunjungi book fair atau toko buku di suatu tempat, serasa mendapatkan surga yang didambakan. Urusan nanti bakal kehabisan uang, bukan masalah yang perlu dirisaukan. Orang-orang seperti ini saya kira patut dikagumi, apalagi jika hasil dari pembacaannya itu akan melahirkan tulisan-tulisan yang beranak-pinak karena mencerdaskan para pelahap bacaan pada etape berikutnya.

            “Membeli dan membaca buku mungkin perkara mudah, tapi memilih buku yang baik dan berguna itulah yang sulit,” demikian pernah Mario Teguh menyampaikan dalam perbincangan santai di antara aroma cappuccino di sebuah lobi hotel.

             Pernyataan itu benar adanya. Tidak setiap buku memiliki kualitas untuk diserap sebagai ilmu. Tidak semua buku tepat bagi setiap orang. Lantas bagaimana akal kita untuk memperoleh sebenar-benar buku yang diperlukan? Tak ada rumus khusus yang menjamin keberhasilan itu, tetapi dengan menelusuri anatomi sebuah buku melalui abstrak, endorsement, dan book review, mungkin akan sedikit membantu.

            Apakah buku yang kita beli dalam jumlah banyak, katakanlah sudah merupakan pilihan termasuk rekomendasi dari seorang teman, akan dapat kita baca dalam tempo yang singkat? Mungkin juga tidak. Dalam hal ini Bagus Takwin punya sedikit kebiasaan dengan menyusun urutan membaca dalam skala prioritas. Misalnya, bacalah lebih awal yang memang diperlukan untuk sebuah tugas penelitian atau kuliah (sebagai referensi), atau yang sedang hangat dalam pembicaraan karena menyangkut urusan yang sensitif (demi tidak ketinggalan berita dan dapat mengimbangi lawan bicara).

            Namun kesibukan bisa saja merampok nyaris seluruh waktu kita, sehingga sejumlah besar buku yang kita beli hanya menumpuk dengan halaman masih rapi tak tersentuh sidik jari. Tentu saja harus memulainya dari yang tipis, agar tak menjadi beban berat kala melihat jumlah halamannya yang membuat kita “kenyang”. Atau cari jenis hiburan lebih dulu untuk mencairkan isi kepala, sebagai appetizer bila diibaratkan jamuan makan malam. Sementara Sarwono Kusumaatmaja, dalam pengakuannya, justru sering kali membaca buku yang dapat menolongnya untuk segera mengantuk.

            Ketika terbit buku berjudul How Read The Book karya Mortimer J. Adler, kita seolah mendapatkan cara membaca buku yang efektif, lekas, nsmun tetap terserap. Ada beberapa metoda, di antaranya adalah membaca cepat, tidak menelusuri setiap kalimat secara detil. Untuk saran ini, bagi seorang pengarang naratif menjadi semacammusuh besar”. Betapa tidak? Pengarang yang telah menulis paragraf demi paragraf dengan keindahan bahasa yang dipikirkan secara serius, baik ejaan maupun majasnya, merasa hasil karyanya tidak dihargai oleh sang pembaca-cepat itu. Begitu sia-sianya Yasunari Kawabata, Goenawan Mohamad, atau Nukila Amal yang menciptakan frasa-frasa terbaik mereka jika hanya digilas oleh tatapan mata yang “berlarihanya untuk mencari simpulan kisah atau garis besar cerita, dengan kata lain: pokok pikiran paling inti. Ke mana metafora itu terpelanting tak membekas dalam sebuah hati pembaca? Boleh jadi, cara ini cocok untuk menyantap diktat yang memang didesain untuk sangkil dan mangkus.

             Saya tentu bukan termasuk pembaca-cepat, karena bahkan untuk menikmati kalimat-kalimat apik Ayu Utami dalam novel Saman, masih sering mengulanginya beberapa kali. Membaca bagi saya sebuah kenikmatan tamasya bahasa (meminjam istilah Aris Kurniawan), yang membuat Victor Hugo, Alan Lightman, Paul I Wellman, tampak bersinar-sinar. Saya memperlakukan sebuah buku seperti saya ingin pembaca lain memperlakukan buku karya saya. Saya akan sangat sedih sewaktu pembaca buku saya marathon menyelesaikannya hanya dalam beberapa jam, setelah itu tamat sudah, tanpa sebaris kesan pun tertanam.

            Meminjamkan buku adalah perbuatan bodoh, karena dapat dipastikan tak akan kembali. Namun lebih bodoh lagi jika kita meminjam buku dan mengembalikannya.”

            Pepatahitu rasanya cukup terkenal di kalangan para pecinta dan kolektor buku. Dalam sebuah diskusi World Book Day di Perpustakaan Diknas yang mengangkat tema tentang orang-orang penggila buku, Desy Sekar Astina mengatakan ada seorang teman yang memiliki ribuan buku di perpustakaan pribadinya. Sang teman ini tak lagi hapal dengan koleksinya yang memenuhi rak dan bahkan kamar tidurnya. Jika ada kawan yang meminjam bukunya, ia pasti tak kan tahu lagi buku mana yang dipinjam orang dan sulit memintanya kembali. Maka tampaknya, sang peminjam sedang mempraktekkan pepatah di atas.

            Endah Sulwesi dan Syafruddin Azhar, para persensi yang giat, kini mulai memilah dan memilih, buku-buku mana yang sudah boleh direlakan untuk penggemar buku yang lain. Ketimbang raknya tak lagi menampung bukunya yang senantiasa bertambah dari minggu ke minggu, ada baiknya buku-buku lama disumbangkan bagi taman-taman bacaan di daerah terpencil.

            Buku memang menjadi ukuran peradaban sebuah bangsa. Bagi pemimpin yang tak pernah bersentuhan dengan buku, akan kering jiwanya, dan kurang humanis dalam perilakunya. Itu sebabnya Nehru, ketika dipenjara, berpesan kepada kerabat penjenguknya agar membawakan buku-buku. Menurutnya, buku ibarat jendela dunia. Itu memang benar adanya. Siapa sanggup menggunakan waktunya untuk keliling dunia demi mengunjungi wilayah-wilayah terjauh di segala penjuru Bumi? Buku adalah cara lain bagi penjelajah yang ingin menikmati dan menyerap wawasan seluas mungkin. Langkah kaki kita memanjang dengan sendirinya melalui bahan bacaan yang membawa kita mengarungi imajinasi sang pengarang, atau menyaksikan fakta-fakta yang berlangsung di seantero jagat.

            Setelah mendapatkan separuh kebahagiaan dari membaca buku, saya melengkapi kebahagiaan menjadi utuh dengan menulis buku. Percayalah, uang saya banyak beralih-rupa menjadi timbunan buku-buku. Mungkin termasuk anda juga.

(Kurnia Effendi, untuk Parle 88, 14 Mei 2007)