Monday, May 21, 2007

"Dengan Puisi, Saya Sedang Melawan Modernisme"

Wawancara dengan M. Fadjroel Rachman:

Di tengah-tengah kesibukan Klub Sastra Bentang menyiapkan peluncuran buku puisi karya M. Fadjroel Rachman tanggal 25 Mei 2007 di MP Book Point, Kurnia Effendi dari PARLE menyempatkan diri untuk berbincang dengan sang penyair yang sebelumnya dikenal sebagai penulis radikal. Demikian isi percakapan itu:

Kef: Selamat siang, maaf mengganggu makan siang anda. Menjelang peluncuran buku anda, antologi puisi “Dongeng untuk Poppy“ (DUP), saya penasaran pada beberapa hal. Setelah membaca seluruh puisi anda, rasanya ada yang berubah. Setelah “Catatan Bawah Tanah“ (CBT) dan “Sejarah Lari Tergesa“ (SLT), mengapa sekarang beralih ke puisi-puisi yang beraroma cinta?

Fadjroel: Pertanyaan ini tampak sepele tapi susah menjawabnya, haha. Barangkali terasa sebagai sajak-sajakkananya? Sebelumnya memang saya menulis dengan semangat perlawanan secara lebih terbuka dan lugas. Namun ternyata, sajak yang sublim dan subtil, yang menampilkan cinta, kegelisahan, perasaan kehilangan, antara lain ketika nenek meninggal dan anak-anak sakit, bisa lebih radikal daripada sajak yang ditulis secara terbuka. Ketika saya merasa tersesat dalam kebimbangan, menulis sajak yang bermuatan romantisme ini justru lebih revolusioner ketimbang kata-kata yang bersifat menyerang.

Kef: Jadi anda kini percaya pada nilai-nilai puitis?

Fadjroel: Artinya puisi-puisi semacam itu lebih memberikan sentuhan. Hanya, dalam hal ini pembaca akan lebih butuh tenaga dan waktu yang panjang dalam menangkap maksud dan memahami isinya. Mungkin karena saya juga menulis lebih individual dibanding sebelumnya, yang temanya akan terlihat secara langsung. Walau demikian, puisi-puisi Rendra pada periode pamflet masih lebih lugas dibanding puisi-puisi sosial saya.

Kef: Untuk puisi-puisi dalam antologi ini, apakah ditulis setelah periode dua buku sebelumnya atau sudah mulai sejak lama?

Fadjroel: Sebenarnya sudah mulai sejakSejarah Lari Tergesa”, hanya dalam buku sebelumnya itu masih sebagai puisi sosial. Dalam soal tema sesungguhnya masih sama, anggaplah itu sebagai benang merah untuk ketiga buku puisi saya. Misalnya saat saya bicara tentang Nazi atau Anne Frank, sudut pandang sosial dalam menyikapi kesedihan Anne Frank saya ubah menjadi romantis. Dalam SLT aroma romantis sudah tampak tapi belum dominan sehingga bisa dianggap buku itu sebagai transisi perubahannya. Dulu sebagai makhluk sosial yang bicara secara sosial, kini lebih individual. Poppy itu nama istri saya, jadi boleh diartikan ini sajak-sajak pembicaraan individual antara saya dengan istri.

Kef: Adakah maksud tertentu dengan menampilkan banyak nama-nama dalam sajak? Apakah karena telah membaca dan ingin merepresentasikan pendapat atau teori mereka dalam kehidupan?

Fadjroel: Tampilnya nama-nama Marx, Engels, Hitler, dan lain-lain itu tidak bermaksud mewakili pernyataan mereka. Kembali lagi saya ingin memahami rasa cinta, kehilangan, kebimbangan, yang dialami para korban dari gagasan totaliter mereka, dengan perbincangan yang lebih individual dan intim.

Kef: Ada yang menarik dalam buku ini (DUP). Kenapa anda memilih sebuah disiplin tertentu dalam menulis puisi, padahal puisi adalah karya kreatif yang bebas? Saya lihat setiap puisi memiliki 20 baris, begitu ketat dan kakukah proses penciptaannya?

Fadjroel: Sebenarnya, setelah menerbitkan SLT, saya merasa telah selesai menulis puisi, tidak akan menulis puisi lagi. Sudah cukuplah. Tapi saat berada di Berlin, saya mengalami momentum perenungan yang luar biasa. Suatu siang saya mengunjungi monumen karya arsitek Amerika, Peter Eisenman, yang membuat 2711 balok beton mirip peti mati berjajar di tengah kota Berlin, menempati lahan seluas 2 hektar lebih, untuk memperingati Holocaust 6 juta Yahudi di Eropa, sebagai korban Perang Dunia II. Di sanalah saya merasakan sesuatu, tepatnya merasa sedang berada dalam jebakan modernisme yang kehilangan sentuhan kemanusiaan. Semua yang saya lihat adalah bentuk serbatertib, keteraturan yang terencana. Malam harinya saya datang lagi sendiri, tercenung di tengah keheningan ribuan balok peti mati itu, dan semakin dalam saya menyadari ada yang mengerikan dalam modernisme, yakni sebuah azas yang kehilangan rasa kemanusiaan. Dari sana terbit pikiran, mengapa saya tidak menulis puisi yang serba teratur dan serba terencana?

Kef: Tampaknya jadi paradoks, karena mengambil spirit modernisme yang serbatertib dan tak manusiawi itu, namun bermuatan romantisme dan humanis. Bagaimana ini?

Fadjroel: Anggap saja ini sebagai elegi kemanusiaan, bentuk bela sungkawa saya terhadap modernisme. Ada sebuah peristiwa di masa Nazi. Joseph Goobles, Menteri Pencerahan Publik dan Propaganda Hitler, meracun  6 anak kecil mereka lalu bunuh diri mengikuti Hitler dan Eva Braun. Di mana rasa kemanusiaan itu? Jika ditarik mundur, bahkan sejak Renaisans dan Zaman Pencerahan, sudah dimulai nilai-nilai yang menafikan humanisme itu. Ini sebagai cara perlawanan saya, menulis romantisme yang humanis dalam bentuk yang serbatertib dan terencana. Itu sebabnya, dalam sampul buku yang berlatar hitam pun saya ingin menampilkan huruf yang digunakan dalam poster-poster Nazi. Saya bilang saja-sajak ini romantis dan individual, karena merupakan percakapan saya dengan Poppy yang kami persembahkan untuk kedua putra kami, Mahatma dan Krishna.

Kef: Menarik sekali, Bung! Bagaimana kesan teman-teman dengan gaya sajak-sajak anda yang terakhir ini?

Fadjroel: Terserah apresiasi mereka saja. Toh sajak-sajak ini telah tersosialisasi melalui Kompas, Horison, Media Indonesia, dan Pikiran Rakyat.

Kef: Pertanyaan terakhir, di mana anda aktif bekerja dan sebagai apa?

Fadjroel: Jika disesuaikan dengan latar pendidikan terakhir, saya adalah analis keuangan. Pascasarjana saya bidang Manajemen Keuangan, saya tempuh di UI. Kini bersama teman-teman mengelola sebuah lembaga yang berkutat di bidang ekonomi. Namun saya acapkali menjadi narasumber dalam perbincangan ekonomi di televisi, juga dalam forum-forum diskusi. Saya aktif menulis esai dan kolom di media cetak, yang sebagian telah diterbitkan dalam bukuDemokrasi tanpa Kaum Demokratoleh Penerbit Koekoesan. Dan sekarang sedang menyiapkan novel “Bulan Jingga dalam Kepala“ yang rencananya akan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Demikian wawancara tengah hari dengan penyair yang pernah menjadi Presiden Grup Apresiasi Sastra ITB. Pernah memenangkan lomba penulisan puisi semasa mahasiswa. Kini usianya 43 tahun, mungkin memang merupakan usia perubahan bagi sebuah sikap.  Semoga memicu keinginan pembaca PARLE untuk menikmati sajak-sajaknya yang berubah itu.

(Kurnia Effendi)