Tuesday, May 29, 2007

Eksotisme Purnama di Bukit Langit

Dari Peluncuran Antologi Puisi Tiongkok Klasik:

Pesona puisi klasik dari para penyair Tiongkok abad kedelapan memang luar biasa. Ini diakui oleh dua sastrawan senior, Sapardi Djoko Damono dan Iwan Fridolin. Mereka menyampaikan pernyataan itu dalam peluncuran dan bedah buku antologi puisi Tiongkok klasik, Purnama di Bukit Langit di Bentara Budaya, Selasa 15 Mei 2007 malam. Penerjemah dan penyusunnya, Zhou Fuyuan, mengaku telah bekerja selama lima tahun untuk menghimpun 560 puisi dalam buku yang memiliki 368 halaman itu. Gramedia Pustaka Utama menerbitkannya dalam dua bahasa (dilengkapi huruf China), dengan tampilan dan kertas yang mewah.

Ada dua orang pemain musik tradisional China, masing-masing memegang alat semacam kecapi dan gitar yang mengiringi pembacaan puisi oleh Rieke Diah Pitaloka. Acara yang terasa eksotik itu dihadiri oleh para peminat sastra Tiongkok, begitu khidmat mengikuti diskusi yang walaupun dibawakan dengan kalem namun cukup mendalam.

Pujian terhadap Zhou Fuyuan yang dilontarkan oleh Iwan Fridolin mengenai penerjemahannya yang bagus, diimbangi dengan kritik atas upaya mengejar rima dan persajakan yang kadang-kadang terasa memaksa. Sapardi Djoko Damono menganggap setiap penerjemahan melakukan pengkhianatan demi mencapai salah satu elemen puisi, estetika atau makna. Membenarkan Iwan Fridolin, bahwa kehilangan keteraturan bunyi adalah harga yang harus dibayar untuk pengalihbahasaan sebuah karya sastra. Zhou Fuyuan termasuk orang yang sabar. Ia mula-mula tertarik pada satu-dua puisi Tiongkok klasik untuk konsumsi pribadi, lama-lama menjadi kecanduan. Awalnya hanya akan membukukan sekitar 300 puisi, namun sayang bila mengabaikan 200 lebih yang lain.

Salah satu penyair yang dikutip karyanya oleh Iwan Fridolin adalah Wang Wei. Puisi Pesanggrahan Rusa yang hanya berisi empat baris. Dalam puisi itu, Wang Wei ingin mendamaikan antara kebisingan dengan keheningan. Memang, para penyair sezaman, dari mana pun asalnya, senantiasa menuliskan tema-tema alam. Dalam khazanah sastra Tiongkok, manusia bukan hanya sebagai sahabat alam, namun bagian dari alam. Sementara dalam pengamatan Sapardi, yang kerap menerjemahkan puisi China dari Bahasa Inggris, mengakui bahwa begitu banyak puisi Tiongkok yang tak sampai kepada kita. Penyair Li Bai, misalnya, sering menulis dalam kertas yang kemudian diremas-remas dan dimasukkan dalam keranjang di punggung keledainya. Terlebih ketika sedang mabuk, Li Bai menulis sejumlah puisi yang kemudian dihanyutkan di atas sungai.

Dengan dandanan ala perempuan Tiongkok, Rieke memukau di awal acara. Membawa kita larut dalam suasana yang dibangun melalui dekor dan gaya China klasik. Zhou Fuyuan telah memperkaya khazanah sastra kita melalui puisi-puisi yang pernah ditulis berabad-abad lalu.

(Kurnia Effendi)