Tuesday, July 24, 2007

Pekan Presiden Penyair

Sutardji Calzoum Bachri, Mata Kiri Sastra Indonesia

MEMPERINGATI ulang tahun penyair besar Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang ke-66, Yayasan Panggung Melayu memprakarsai dan melaksanakan sebuah kegiatan sepanjang 6 hari. Sejak 14 sampai dengan 19 Juli 2007, setidaknya ada 6 mata acara yang seluruhnya terfokus pada profil dan karya SCB. Selama tiga hari pertama berlangsung lomba baca puisi internasional puisi karya sutardji di Taman Ismail Marzuki, diikuti oleh sekitar 400 orang. Di lobi Teater Kecil dan Graha Bhakti Budaya dipamerkan sejumlah foto perjalanan karier Sutardji sejak mahasiswa, termasuk album perihal keluarga dan tanah kelahirannya. Juga acara dialog (talk show) yang melibatkan para pelajar peminat sastra.

Dua malam berturut-turut (17-18 Juli) berlangsung panggung apresiasi Presiden Penyair yang diisi dengan pembacaan puisi karya SCB oleh para penyair Indonesia, antara lain Jose Rizal Manua, Santinet, Chavchay Syaifullah, Slamet Sukirnanto, Brthold Brecht, Wowok Hesti Prabowo, Dimas Arika Miharja, Hudan Hidayat, Slamet Widodo, Diah Hadaning, Rara Gendis, si kembar Tjahjono Widianto dan Tjahjono Widarmanto, Warih Wisatsana, Amdai Siregar, dan banyak lagi. Ditutup dengan malam puncak Pekan Presiden Penyair, 19 Juli di Graha Bhakti Budaya yang dihadiri oleh keluarga Sutardji dan para pejabat tinggi, di antaranya Menteri Adhyaksa Dault, Gubernur Riau, Walikota Samarinda, Bupati Bintan, dan Anggota DPD Tanjung Pinang.

Pada acara seminar internasional 19 Juli di Galeri Cipta TIM, digelar 4 sesi dengan pembicara yang beragam. Masing-masing sesi mengantarkan satu tema pembahasan yang saling terkait. Bertindak sebagai pembicara, antara lain: Harry Aveling (Australia), Maman Mahayana, Dato’ Ahmad Kamal Abdullah Kemala (Malaysia), Donny Gahral Adian, Abdul Hadi WM, Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Taufik Ikram Jamil, Suratman Sukarsan (Singapura), Maria Emelia Irmler (Portugal), Suminto A. Sayuti, dll. Dari makalah yang mereka sampaikan (dibukukan dengan tajuk Raja Mantra Presiden Penyair), menegaskan bahwa Sutardji Calzoum Bachri adalah penyair besar yang memiliki karakter karya yang unik, bahkan disebut-sebut melampaui Chairil Anwar (sebagai inspirator) dalam pencapaian estetik.

Sebenarnya anggapan itu tidak berlebihan, mengingat SCB masih mungkin terus berkarya, sementara Chairil sudah tinggal menjadi legenda. Puisi-puisi Sutardji berjalan sendiri meninggalkan para penyair sezaman, berkarya selama 10-15 tahun, oleh Harry aveling dianggap bukan sebagai pembaharu, karena tidak ada pengikutnya. Setiap penyair yang berusaha “meniru” gaya Sutardji tentun akan langung dicap sok Sutardji. Itu sebabnya karakter puisi yang mencoba melepaskan kata-kata dari beban makna yang dikandungnya justru telah memosisikan Sutardji dalam keunikan sastrawan.

Predikat Presiden Penyair yang konon dilontarkan oleh Abdul Hadi WM, melekat hingga kini. Menurut Kemala, sosok kepenyairan Sutardji ”ditemukan ” oleh Popo Iskandar dan dikampanyekan oleh Slamet Sukirnanto. Dua orang yang masing-masing berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah telah menyepuh Sang Melayu itu menjadi penyair mantra.

Dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941, SCB kecil tumbuh dengan kenakalan yang mencerminkan kreativitas. Dalam film dokumenter sepanjang hampir 20 menit, sejumlah kesan dari kerabat nmaupun sahabatnya, menunjukkan bahwa Sutardji bukan orang yang penurut. Kuliah di Universitas Padjajaran mengambil studi Ilmu Politik, namun justru lebih memilih sastra sebagai bentuk ekspresi kreatifnya. Pada tahun 1974, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan International Writing Program di Iowa City, Amerika. Sepulang dari sana, melalui Singapura, SCB tidak kembali ke Jakarta, melainkan singgah di Tanjung Pinang. Di sanalah awal lahirnya kumpulan puisi yang pertama dan kedua: O dan Amuk. 

Perjalanan kepenyairannya pernah dihiasi dengan kebiasaan minum bir sebelum naik panggung. Gaya pembacaan yang sangat ekspresif membawa namanya naik daun. Namun, sebagaiman sebuah lintasan pencarian, akhirnya ia bagai menemukan dirinya lahir kembali dengan puisi Idul Fitri. Sejak itu ia kembali khusyuk dengan keislamannya, sebuah perubahan yang tampaknya membangun citra kearifan seorang penyair dengan nuansa sufistik pada sajak-sajaknya. Banyak undangan dari luar negeri dalam rangka pentas atau diksusi sastra, antara lain Irak, Malaysia, Brunei, Belanda, Columbia, dan lain-lain.

Sebagai sastrawan ia sempat pula menjadi Redaktur majalah sastra Horison dan pengasuh halaman puisi di Kompas Minggu. Setelah lepas dari jabatan birokrasi ia justru lebih bebas bergaul dan menjadi sahabat sekaligus guru para penyair muda. Djenar Maesa Ayu, misalnya, merasa banyak mendapatkan ilmu dari Sutardji, meskipun bentuk tulisan yang dilahirkan Djenar berupa cerpen dan novel. Tempat nongkrong SCB adalah warung Alex (Citra) di tenda-tenda dalam kompleks Taman Ismail Marzuki Cikini. Di sana, bersama Tommy F. Awuy, Danarto, dan teman-teman sastrawan lain sering melakukan diskusi non-formal yang kemudian dikenal dengan sebutan ”Universitas Lidah Buaya”. Melalui pergaulan itu pula, gaya penyampaian puisinya berubah menjadi lagu dalam irama blues. Setidaknya, kini, bila Sutardji didaulat untuk membacakan puisi, yang muncul adalah senandung blues.

Meskipun pekan Presiden Penyair ini berlangsung di Taman Ismail Marzuki, penyelenggaranya bukanlah lembaga besar yang berkedudukan di TIM. Yayasan Panggung Melayu yang saat ini diketuai oleh Asrizal Nur. Terdengar sebagai nama baru dalam dunia sastrawan, namun acara yang dibuatnya ini cukup bergema. Panitia besar yang terdiri dari kaum muda dan para akademisi seperti Maman Mahayana dan Amin Wangsitalaja, perhelatan ini patut diacungi jempol. Di kala banyak kegiatan sastra yang melibatkan agenda besar, seperti Ode Kampung yang digagas oleh Pustaka Rumah Dunia (Gola Gong dkk.), Festival Sastra Internasional dua tahunan yang dikelola oleh Komunitas Utan Kayu, dan Kongres Cerpen 2007 yang rencananya akan berlangsung di Banjarmasin pada bulan Oktober nanti, Pekan Presiden Penyair yang baru saja berakhir ini cukup memadai sebagai bentuk apresiasi yang menyejarah.

Selamat ulang tahun untuk Bang Tardji. Kalau mata kanan sastra Indonesia adalah Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri adalah mata kiri (menurut Dami N. Toda). Namun Asrizal Nur dan Maman Mahayana sepakat menilai, Sutardji lebih besar dibanding Chairil Anwar. Pendapat boleh berbeda, boleh pula berkembang, tergantung perspektif cara memandangnya.

(Kurnia Effendi)