Monday, July 16, 2007

Savalas

”Memang sangat baik menjadi orang penting, namun jauh lebih penting menjadi orang baik.”

Bagi Anda yang dulu kerap mengikuti acara Ebet Kadarusman di salah satu stasiun televisi, tentu tak asing dengan ungkapan di atas. Bahkan sampai kini, kadang-kadang Kang Ebet, demikian ia akrab disebut, kerap mengucapkannya dalam acara OKE (Obrolan Kang Ebet) yang berlangsung Kamis pagi di radio Ramako. Tak tahu persis dari mana muasalnya, entah siapa ”penemu”nya, kita bilang saja anonim. Pepatah itu, meski terdengar sederhana, sungguh dalam maknanya. 

Seseorang yang menjadi pejabat dan memiliki tanggung jawab besar menyangkut hajat orang banyak, sudah barang tentu posisinya akan penting. Sosoknya bakal sering menghiasi halaman surat kabar atau muncul di layar televisi. Pentingnya seseorang mungkin bervariasi dalam rentang waktu. Bisa sepanjang masa jabatannya, kerap pula hanya ketika mendapatkan amanat yang diembannya. Namun kepentingan seseorang dapat juga diperpanjang dengan cara memanjang-manjangkan diri. Jika sudah demikian, akan tercium: ada kepentingan di balik posisi pentingnya.

Dalam politik, setiap orang, terutama yang terhimpun di tubuh partai, ingin memperoleh posisi penting. Untuk itulah dibuat peringkat, strata, atau urutan, berdasarkan pengaruhnya terhadap jumlah orang. Kemampuannya dalam merengkuh simpati—tulus atau terpaksa demi ”kepentingan”—akan menempatkan sepenting apa dirinya di antara kawan dan lawan politik.

Sebenarnya tak hanya dalam kancah politik atau organisasi yang terkait dengan usaha komersial, tingkat kepentingan seseorang tertandai. Dalam dunia hiburan terdapat banyak sosok penting yang ditengarai dengan jumlah pengagum. Seorang artis akan menjadi idola ketika reputasinya dalam entertrainment meningkat dan memiliki daya hibur tinggi. Sang idola dengan sendirinya menjadi penting dalam peta keartisan. Untuk sampai pada posisi penting, diperhitungkan banyak pihak (mulai dari penggemar, penanggap, dan sponsor yang berkepentingan terhadap kembalinya investasi disertai keuntungan), seorang seniman berjuang mulai dari bawah. Antara potensi dan keberuntungan saling berjalin membentuk anak tangga kariernya. Sesampai di puncak, kadang-kadang seorang seniman ternama ingin menghapus jejak muram masa lalunya.

Rasanya, Taufik Savalas, komedian serba bisa yang meninggal hari Rabu 11 Juli 2007, bukan tergolong insan seni yang malu dengan masa lalunya. Ia telah menjadi orang penting dalam dunia hiburan, terpakai dalam pelbagai acara sejak kelas lokal, nasional, maupun internasional (bersama negeri jiran), tidak secara dilahirkan. Taufik Savalas bukan artis kecil masa kini yang sudah menjadi bintang utama sinetron pada debut pertama. Ia, sebagaimana sekilas cerita Indro Warkop, mendaki perjalanan keartisannya dengan belajar dari bawah.

Berbeda dengan para sutradara kita di Indonesia akhir-akhir ini, yang sulit ditemui tilas jejaknya sebagai orang yang melata dalam dunia film. Bahkan mungkin tak pernah magang secara sempurna, namun tahu-tahu telah menempati posisi penting dalam sebuah produksi sinema. Banyak faktor ”x” yang membuatnya demikian, dan percayalah, ”karier” semacam ini akan rontok oleh uji waktu karena mengandung unsur prematur.

Kembali kepada almarhum Taufik Savalas yang usianya dicegat malaikat maut di Purworejo dalam sebuah kecelakaan mobil yang tragis, ia telah mencecap seluruh asin-pahitnya garam kehidupan kota besar melalui upaya yang keras. Sekali lagi ia tidak malu mengungkap sisi kelam masa silamnya sebelum akhirnya memetik seluruh hasil jerih payah. Bahkan ketika sudah sampai pada kondisi yang berkecukupan, cintanya terhadap orang tua, terutama bundanya, tidak berkurang. Ini patut menjadi pelajaran bagi semua orang, bahwa kebahagiaan itu banyak bermula dari doa bunda yang tak terucapkan. Cukup dengan rasa bahagia seorang ibu terhadap bakti anaknya, segala yang ditempuh bakal mendapatkan buahnya.

Benar, Taufik Savalas akhirnya menjadi orang penting, menjadi salah satu ikon pelawak di antara rekan-rekan seprofesi seperti Basuki, Eko Patrio, Dorce Gamalama, Ulfa Dwiyanti, Indi Barends (untuk menyebut beberapa nama), dan yang belakangan naik daun: Tukul Arwana. Berbeda dengan sejumlah artis yang selalu rimbun oleh gosip miring lantaran posisi pentingnya disalahgunakan, Taufik Savalas justru merasa lebih penting menjadi orang baik.

Mendiang Taufik yang tenar dengan nama-udara Savalas saat menjadi penyiar radio Suara Kejayaan, selain penting juga baik. Sepanjang perjalanan hidupnya yang sudah barang tentu bergaul dengan banyak orang, belum terdengar suara sumbang mengenai dia, misalnya, merugikan pihak yang diajak kerja sama, kecuali dengan menyelesaikannya secara baik. Dalam sejumlah acara yang diasuhnya, kita tahu, banyak sosok atau pribadi menjadi sasaran tembak lawakannya. Bahkan, seperti halnya Butet Kartarajasa, ia piawai menirukan suara dan gaya beberapa tokoh penting dalam pertunjukan parodinya. Mungkin saja tokoh-tokoh publik yang dikarikaturkan dalam akting, merasa sakit hati, namun sejauh ini tidak terjadi hujatan terhadapnya. Mudah-mudahan Taufik Savalas memang tidak bermaksud menorehkan luka pada hati sanubari orang-orang yang sering dijadikan objek lawakannya. Mari kita maafkan sebelum keluarganya meminta demi kelancaran perjalanannya menuju Sang Khalik.

Saya, sebagai orang biasa, mungkin sulit menjadi tokoh penting kecuali hanya sok penting. Tapi rupanya ada jalan lebih terpuji ketimbang menjadi ”sekadar” penting, yakni berusaha menjadi orang baik. Dengan bercita-cita menjadi orang baik, barangkali secara tak langsung akan tumbuh sebagai orang penting di hati khalayak yang mendapatkan manfaatnya. Bahkan prosesnya pun sudah menuai nilai.

(Kurnia Effendi, untuk PARLE)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 Comments:

Blogger Aris said...

lebih penting jadi orang baik? Paling tidak itulah yang bisa menghiburku ketika upaya sederhanaku menjadi pengarang penting tak juga kesampaian (alah!)

12:11 PM  
Blogger Bimo Septyo Prabowo said...

salam kenal

3:52 AM  
Blogger Yon's Revolta said...

salam kenal bang.

berkenalan dengan abang ketika baca cerpen "anak arloji" (kalau tak salah) di majalah horison.

untuk mengenal lebih dekat, tentu saya selalu mengintik blog ini sebagai pembaca setia :-)

5:42 PM  

Post a Comment

<< Home