Wednesday, July 04, 2007

Selamat Ulang Tahun, Ryana Mustamin

Selamat ulang tahun, Nana, selamat panjang umur.

Doa dari sahabat selalu tepercik sebagai embun pagi hari dan membekali langkah sepanjang siang

Batang-batang tahun yang dipatahkan waktu mudah-mudahan sekaligus menjadi musim petik buah prestasi yang selama ini benihnya ditanam hari demi hari. Menjadi untaian manik-manik penghias kehidupan. Andaikata kita selalu berpikir positif, tentu tak ada warna muram kecuali sebagai bentuk pelajaran kemanusiaan agar kita lekas matang memahami hidup.

Sepuluh tahun menjadi sahabat pena denganmu, pada pertemuan yang pertama di tanah Makassar justru merupakan momentum “bola salju“ berkarya bagiku. Dikau menantangku menulis seribu puisi, dan kuselesaikan dalam 6 bulan dengan 990 puisi. Gagalkah aku? Menurutmu, dalam sebuah tulisan apik di kolom Rehat majalah Proteksi: tidak. Bukan perkara jumlah, tetapi etos kreatif itu. Dan Nana sempat melihat keletihan di pengujung waktu, namun sekaligus terpindai sebuah ketekunan yang menurutku sendiri sungguh ajaib.

Sepuluh tahun berikutnya kusaksikan bagaimana Nana memahami, mengakrabi, dan mengalahkan penyakit yang mungkin menurut dokter sulit sembuh. Sepuluh tahun itu aku memandang kekuatanmu, turut bahagia saat dirimu jatuh cinta kepada dan dicintai oleh seorang pelukis, Bambang Prasadhi. Aku menjadi saksi akad nikahmu di At-Tin Taman Mini, sekaligus dipercaya untuk menulis prosa lirik pada undangan pernikahanmu.

Dua puluh tahun menjadi sahabat dengan perasaan yang menurutmu sulit dilukiskan (padahal sebagai seorang pengarang harus pandai mendekripsikan apa pun dengan piranti bahasa—menurut Yusi Pareanom), ada jejak abstrak pada Sepanjang Braga. Sebenarnya aku selalu ingat keinginanmu menjelang pindah ke Jakarta: ingin mendekati sejumlah redaksi dan penerbit agar dapat lebih rajin menulis fiksi. Namun yang terjadi sebaliknya: tidak menulis apa pun. Sampai akhirnya mendapat dapukan sebagai Pemimpin Redaksi majalah Proteksi, sehingga mau tidak mau penamu bekerja kembali. Diberi kesempatan pula aku menulis kolom Rehat secara rutin. Bahkan setelah dirimu undur, aku kembali diberi kesempatan melanjutkan Rehat melalu Pak Dimyati.

Lama tak saling jumpa meski sama-sama di Jakarta, Nana menemukanku kembali di milis Apsas. Selanjutnya kita tergabung dalam kegiatan yang—walaupun maya—dapat saling berkomunikasi dari demi hari.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, berharap Allah senantiasa menganugerahi rahmat pada langkah Nana selanjutnya.

Salam, Kurnia Effendi