Monday, October 08, 2007

Ambang Kemenangan

            Angin berkesiur bebas, begitu merdeka, melalui kisi-kisi dan setiap celah Masjid Istiqlal. Tak ada penghalang, kesejukan itu berulang kali mencuci debu dan aroma yang tak mungkin menetap dalam relung-relung rumah suci itu. Siapa kiranya yang memiliki gagasan dan kemudian menerapkannya dalam rancangan yang demikian sehat untuk sebuah tempat sembahyang? Umat tak perlu berpikir untuk mencegah hawa panas yang akan menyungkup di bawah kubah raksasa. Kubah berbentuk setengah bola yang dibuat dengan kerangka polyhendra ’kelahiran’ Jerman Barat. Konstruksi beton bertulang bergaris tengah 45 meter itu ditopang 12 tiang berlapis logam stainless steel dengan masing-masing diameter 2,5 meter.

            Saya senang berlama-lama duduk menatap sekeliling. Duduk di tempat mana pun, saya akan merasakan cumbuan angin yang sejuk. Lantai marmer menularkan dingin ke tubuh, melerai emosi yang sebelumnya menyala-nyala di jalan raya nan macet. Bangunan sakral itu tengkurap di atas lahan yang awalnya seluas 9,5 hektar. Bangunan utama yang membutuhkan luas 2,5 hektar itu menyediakan pelbagai faedah selain tempat salat di ruang utama.

            Setiap kali saya masuk ke ruang salat yang berupa atrium agung dengan lima strata balkon di tiga sisi, saya membayangkan diri memasuki Gua Hira abad 20. Di sini, di hall yang sanggup menampung 61 ribu jamaah, adalah tempat yang tepat untuk sebuah perintah mukjizat. “Bacalah!”

            Sungguh, kita semua, umat manusia dari titik nol sejarah hingga tepi hari kiamat, diwajibkan membaca. Seluruh bentuk huruf, yang sebagian besar menjelma kehidupan, telah dan akan menuliskan jutaan riwayat. Siapa yang demikian rinci mencatat semua itu kecuali tangan malaikat dan kesaksian alam semesta? Meski perintah membaca bukan sekadar nubuat, melainkan awal pertanda kenabian Muhammad di abad keenam dalam hening Gua Hira; namun kitab kehidupan alam raya ini berlangsung sejak milyaran tahun silam.

            Lalu saya berpikir, di zaman yang serba mudah dan lekas ini, seharusnya tak ada alasan untuk tidak membaca. Saya pun bersimpuh, mengaduh, mengurai seluruh gaduh. Alangkah kelam jejak yang telah saya lewati ribuah hari hanya untuk mendamba duniawi. Di bawah lindungan kubah Istiqlal inilah semestinya saya rubuh serendah-rendahnya, menghikmati dzikir angin yang berprosesi dalam pengabdian tiada henti kepada Sang Khalik.

            Sekali lagi saya mesti merenung untuk jasa yang tak habis disebut. Ketika itu, tahun 1949, seiring serah terima kedaulatan dari pemerintahan kolonial Belanda kepada Republik Indonesia, muncul gagasan Kyai Haji Wahid Hasim untuk membangun sebuah masjid besar di ibukota negara. Beliau menjadi Menteri Agama periode tahun 1950 yang kemudian ditunjuk menjadi Ketua Yayasan pembangunan masjid itu. Namun baru tahun 1953 dibentuk panitia pembangunannya yang diketuai oleh Anwar Cokroaminoto. Ide mulia ini disampaikan kepada Presiden Soekarno yang menyambut dengan dukungan moral dan material secara sungguh-sungguh.

            Sebagai teknokrat, Ir Soekarno diangkat oleh panitia sebagai Kepala Bagian Teknik Pembangunan Masjid Istiqlal. Sejak 1954 mereka bergiat untuk mulai perancangan, setahun kemudian mengadakan lomba gambar dan maket secara terbuka. Saya kira, saat itu, ribuan sayap malaikat bergetar gembira menyongsong cita-cita membangun rumah ibadah yang akan menjadi pintu menara terpancarnya doa-doa khusyuk para alim ulama.

            Terkabarkan 27 peserta menyerahkan gambar, 22 di antaranya memenuhi syarat untuk dinilai oleh Dewan Juri. Hasil dari evaluasi mereka meloloskan lima peserta nominasi yang terdiri dari F. Silaban (dengan nama sandi “Ketuhanan”), R. Oetoyo (“Istighfar”), Hans Groenewegen (“Salam”), lima orang mahasiswa ITB (“Ilham”), tiga orang mahasiswa ITB (“Khatulistiwa”). Akhirnya Dewan Juri sepakat memilih Frederich Silaban, yang justru seorang Nasrani, sebagai pemenang. Pada tahun 1961 tiang pancang pertama Masjid Istiqlal ditanam.

            Adakah hubungan erat antara kemerdekaan yang telah menjadi milik Republik Indonesia secara total sejak 1949, dengan bangunan Istana Merdeka dan “jiwa” merdeka yang ditetapkan sebagai nama masjid terbesar di Asia Tengara masa itu? Barangkali karena anugerah terbesar dari Tuhan untuk manusia adalah kemerdekaan. Meskipun telah turun dari “langit” agama-agama samawi, namun Tuhan tidak pernah memaksa manusia untuk terikat kepada para pemegang kitab. Baik Zabur, Taurat, Injil, dan Al Quran, seluruhnya merupakan petunjuk hidup. Makna cahaya yang bagi setiap orang berbeda tampak terangnya, tergantung dari hidayah yang melekat padanya.

            Maka Istiqlal, yang bermakna merdeka, benar-benar diletakkan sebagai ikon dengan multitafsir yang cukup dramatik. Kemerdekaan, di mana pun posisi dan kurunnya, selalu dilalui dengan sejumlah perjuangan. Untuk mendapatkan kemerdekaan kita harus memenangkan pertarungan. Bertempur melawan musuh wadak yang kasat mata, penjajah yang menghapus almanak panjang suka cita sebuah bangsa; atau musuh tak tampak: nafsu pribadi yang menguasai seluruh akal budi kemanusiaan.

            Saya suka melangkah pelan-pelan di teras Istiqlal. Memandang ke luar. Memandang jubah barok di tubuh katedral. Memandang kemilau puncak tugu Monas. Memandang jalan raya yang dialiri ratusan kendaraan setiap menit. Memandang jejak masa silam: Rijswijk yang kini berubah bentuk dan fungsi.

            Pada paruh awal abad ke-19, letnan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, mengembangkan kota ke kawasan Weltervreden, sekitar Gambir dan Monas. Masih tertinggal sisa sejarah, sepasang istana yang dulu bernama Paleis de Rijswijk dan Paleis de Nordwijk. Kini telah menjadi Istana Merdeka dan Istana Negara.

            Kembali ke hamparan sajadah di ruang utama masjid, pernah saya saksikan Abdullah Gymnastiar, ustadz muda yang sanggup menghimpun lebih dari dua puluh ribu jamaah di Istiqlal. Sejak sebelum waktu zhuhur hingga lepas ashar. Meskipun kini banyak yang berpaling semenjak beliau menempuh hidup poligami, masjid ini tetap merdeka menerima siapa pun yang ingin khusyuk berdoa. Masjid tanpa pintu ini merdeka menerima kunjungan angin dari delapan penjuru arah. Masjid ini menerima siapa pun yang ingin meraih kemenangan mengalahkan angkara murka dalam diri: sisi gelap manusia.

            Sebentar lagi Idul Fitri. Mungkin kita semua akan tiba di ambang kemenangan. Bukankah tanda tak kalah itu hanya sebuah keikhlasan meminta maaf dan memberi maaf? Dan siang itu. setelah seluruh beban yang menggantung di seluruh pundak luruh ke lantai bersama lafaz memuja Allah, saatnya saya kembali memasuki jalan raya. Menuju pulang. Menempuh pertarungan untuk mencapai sabar hingga tiba di rumah.

Kurnia Effendi. Jakarta, Ramadhan menjelang Syawal 1428 H