Tuesday, October 02, 2007

JEJAK mengukir jejak di negeri tetangga

Dua puluh tiga perupa dari negeri jiran, Malaysia, berpameran bersama di Galeri Nasional Indonesia (Galnas), Jakarta. Berlangsung sejak tanggal 10 sampai 20 September 2007. Pameran yang mengambil judul “Jejak” merupakan pencanangan tekad para seniman yang tergabung dalam lembaga Balai Seni Lukis Negara (BSLN) menuju Wawasan 2020, saat Malaysia memproklamirkan diri sebagai Negara Maju dan menjadi pusat Multimedia Super Corridor (MSC).

Menarik untuk disimak, karya mereka telah mengikuti gelombang senirupa yang sangat terpengaruh oleh teknologi multimedia. Masing-masing dengan karakter penciptaan yang berusaha terlibat dengan kondisi sosial di sekitar kehidupan mereka, isu global, dan demam industri yang marak di mana-mana. Misalnya dalam karya grafis yang satiris, Ahmad Fuad Osman melakukan permak terhadap perwajahan majalah kelas dunia: Time menjadi “Item”, dan Newsweek menjadi “Newsweak”. Mengalir bersama Osman, Roalisham Ismail juga menggarap poster yang mengangkat kebudayaan massa, di antaranya pengaruh televisi sebagai gerakan pop yang mendunia.

Tak beda dengan para perupa Indonesia, dengan kebebasan yang mungkin juga sama, mereka bukan sekadar murni berkarya. Selalu ada pesan yang termaktub dalam desain atau goresan, sehingga yang tampil dalam kanvas atau karya instalasi dapat dilihat secara multitafsir. Gambar Chan Kok Hooi misalnya, ada metafora dan personifikasi yang rumit melalui bahasa rupa. Sejalan dengan Ilham Fadhli bin Mohd Shaimy dengan lukisan yang mengingatkan kita akan bahaya polusi terhadap lingkungan hidup. Sementara Mohd Saharuddin memilih materi tembaga untuk mengilustrasikan problem kita bersama terhadap tekanan hidup manusia.

Barangkali karena saya hobi mengumpulkan kartu pos, langsung tertarik dengan deretan lukisan mini yang ditera di atas kartu pos. Tan Nan See menunjukkan ketelatenan  luar biasa dengan ukuran-ukuran mungil, bahkan mempergunakan bingkai sebagai varian estetika. Sebaliknya, kibasan kuas besar yang membentuk ekspresi kuat sebuah wajah dipresentasikan oleh Chong Siew Ying.

Tentu tak semua dibahas di sini, namun dapat dipuji bahwa sang kurator telah bekerja sangat selektif hingga yang dipamerkan merupakan pilihan dari pelbagai cara ungkap, materi, dan teknik. Ada fotografi, geometrik yang tekstural, medium tiga dimensi, dan eksperimen penggunaan cat dalam sebuah rangkaian komposisi. Bahkan Umibaizurah Mahir sengaja membuat hiasan manis dengan puluhan kapal terbang mungil yang terbuat dari porselen, terlihat cukup dekoratif.

Angkatan muda yang merupakan masa depan senirupawan Malaysia ini sudah selayaknya dicatat sebagai pengukir jejak. Maka tema ”Jejak” dipilih sebagai satu gambaran berawalnya era baru dalam seni rupa Malaysia ke depan. Segala yang terjadi dan berkembang di tanah air dan budaya mereka dapat dilihat dari karya-karya yang terpamer. Setidaknya mereka telah mengalami pergulatan pemikiran dengan para seniornya sebagai proses yang lumrah dalam membentuk jati diri.

(Kurnia Effendi)