Monday, October 29, 2007

Aroma Slawi

            Guru pertama saya adalah kakek saya sendiri. Radis Hardjo Soeprapto namanya. Mirip dengan yang diceritakan oleh Andrea Hirata, bahwa seorang guru Sekolah Dasar di masa lalu mengajar semua mata pelajaran seorang diri. Namun berbeda dengan novel Laskar Pelangi, waktu kelas satu SD saya memiliki lima angkatan kakak kelas. Dan ketika itu, sekolah saya tidak dalam keadaan hendak roboh. Di masa itu, 1967, selain memiliki satu-dua buku, saya masih menggunakan sabak (batu tulis) dengan grip sebagai pena. Benak murid dilatih menjadi kantung ingatan karena pelajaran berhitung tidak memiliki arsip. Begitu usai tugas dinilai, sabak itu dibersihkan kembali dengan kain untuk digores pelajaran berikutnya.

            Semburat memori masa silam itu mencahayai pikiran saya selama beberapa hari saat pulang kampung. Inilah mudik dengan serangkaian penghayatan. Dimulai dengan perjalanan sepanjang 16,5 jam sejak beranjak dari Pondok Bambu Jakarta Timur sampai tiba di teras rumah ibu di Slawi. Begitu bergabung ke jalan tol Jakarta-Cikampek tengah malam itu, seperti memasuki arena parkir terpadat di dunia. Dengan kecepatan 0-10 kilometer per jam, saya rehat pasrah di peristirahatan Krawang Timur tepat waktu subuh. Lima jam berlalu hanya untuk limapuluh kilometer. Inilah mudik dengan serangkaian penghayatan! Sementara seorang teman dari New York terus menghibur melalui sms.

            Ringkas kisah, sampailah saya di rumah ibu, pangkuan tujuan yang ditempuh dengan segala cara, menjelang senja. Saya bahagia karena tiba dengan selamat dan menemukan air yang selalu dingin di kamar mandi rumah ibu. Saya menyadari, mudik kali ini, setelah tiga kali Lebaran justru ibu yang saya boyong ke Jakarta, menjadi semacam perjalanan napak tilas. Ada empat menu wajib yang harus saya santap sependek waktu yang saya miliki. Pertama kali adalah sauto babat dengan bumbu tauco, sungguh tak ada duanya. Meskipun yang terkenal adalah “Sedap Malam” Pak Jenggot, saya memilih “Moro Trisno” Pasar Senggol dekat alun-alun Tegal. Minuman yang saya pesan tentu teh poci. Air teh panas beraroma melati yang mengucur dari mulut poci gerabah mengguyur gumpalan gula batu yang mencair perlahan dalam ceruk cangkir, adalah sebuah proses yang membuat saya selalu kangen kampung kelahiran.

            Sebelum tiba di rumah, singgah di warung tahu-aci Kalianyar, yang menempati sudut pintu pasar lama (kini telah menjadi kompleks ruko) Slawi. Meskipun yang terkenal adalah tahu Randualas, untuk kesempatan pertama saya tak hendak memutar ke selatan. Saya minta dibungkuskan 25 biji. “Berapa?” Saya menyiapkan uang duapuluh ribuan. “Delapan ribu lima ratus,” sahut si penjual. Saya mencoba membagi bilangan itu untuk menemukan harga per biji. Alangkah murahnya! Sebab ketika saya sesekali membeli di Carrefour, harganya Rp. 1.250,- per biji. Barangkali sangat nikmat hidup di kampung dengan gaji Jakarta, pikir saya.

            Demikianlah, hari berikutnya makan siang dengan sate kambing khas Tegal. Dua hari berikutnya ternyata saya selalu makan siang dengan sate kambing. Pertama di warung Bu Narto, Slawi. Berikutnya di Tegal, dibelikan oleh adik saya, katanya di warung yang pernah disinggahi oleh “Si Mak Nyus” Bondan Winarno. Ketiga di warung Tirus, Tegal, bahkan membawanya sampai ke Jakarta sebanyak 3 kodi.

            Untuk sarapan pagi menjelang perjalanan kembali ke Jakarta, ibu sengaja menyiapkan lengko, yang tak akan ditemui secara lazim selain di Slawi, Tegal, dan Cirebon. Sederhana saja isinya: nasi diramu dengan potongan timun mungil, rebusan tauge, irisan tahu, disiram bumbu kacang dan kecap, ditimbun kerupuk mi yang diremas oleh tangan ibu. Rasanya ini menu sehat yang tak perlu diragukan. Oleh-oleh lain yang “wajib” dibawa arus balik tidak lain adalah kacang asin (serupa kacang Bali) dan pilus, yang kemudian ditiru produsen terkenal makanan jenis kacang. Ada pula dodol cikal, anthor, dan jenang Glempang yang hampir tak mungkin ditemui di kota lain.

           Kepulangan saya ke Slawi saat Lebaran, selain sungkem pada ibu dan silaturahmi ke sanak-saudara, juga untuk ziarah. Kakek saya, sekaligus guru sekolah pertama saya, sudah terbujur tenang di bawah naungan rimbun kemboja. Tak jauh dari istri pertamanya, ibu kandung ibu saya. Istri keduanya hingga kini masih hidup, dan rumahnya di Curug, sebuah tempat antara Slawi dan Pangkah. Di Pangkah itulah SD saya berada, tempat kakek mengajar. Dalam seminggu, dua sampai tiga kali, sepeda kakek yang dipasangi keranjang untuk saya duduk, mampir ke rumah nenek tiri saya. Makan siang dengan sayur asem dan tempe goreng. Selanjutnya saya tak tahu kegiatan kakek dengan istri keduanya itu.

            Masih terbayang dalam rongga kenangan, kakek mengayuh sepeda menyusuri jalan tanah, melewati perkebunan tebu dan pabrik gula Pangkah. Sering saya melihat deretan lori di musim tebang, memanjang di sisi jalan. Terkadang kakek sengaja berhenti dan meminta sebatang-dua tebu untuk cucunya yang dibonceng setiap hari. Sesekali membawa pulang beberapa gelagah (bunga tebu yang mirip ranting bambu panjang), untuk dibuat mainan: roda dengan tongkat, didorong ke mana-mana di jalan desa.

            Di masa kecil itu pula, ketika ayah menempuh pendidikan di Jakarta, ibu suka membawa saya mengambil gaji ke Kabupaten Tegal setiap awal bulan. Kantor Bendahara Negara yang dituju terletak dekat stasiun, ditandai dengan bangunan menjulang tinggi milik perusahaan air minum, yang kami panggil dengan nama Ledeng. Seperti sebuah ritual, pulangnya saya digandeng menyusuri trotoar toko sebelum naik kendaraan umum kembali ke Slawi. Ada penjual jubika (makanan dari terigu berisi potongan pisang yang dipanggang dalam cetakan berbentuk bintang) langganan ibu. Penganan itulah yang dibawa pulang ke rumah sebagai oleh-oleh.

            Jalan yang pernah saya lewati puluhan tahun lalu itu saya tempuh kembali saat mudik. Pasar Pagi yang menempati benteng peninggalan Belanda itu masih utuh, kini bertambah cantik karena diperbarui dan dicat kembali. Tegal telah tumbuh menjadi kota modern dengan sejumlah mal yang menghias beberapa sudutnya. Sementara hampir semua bioskop punah seperti binatang purba, meskipun gedungnya belum diubah bentuk.

            Saya pun tak lupa mengambil foto pohon raksasa randualas sebelum ikut punah. Ia tumbuh di lembah, tegak dengan batang dan ranting kokoh meski meranggas. Tampak teguh dilihat dari jalan raya. Di tepi jalan itu, ada kedai tahu yang hingga kini dijadikan langganan banyak orang: Tahu Randualas. Anak sang owner, pernah menjadi teman sekelas saya di SMP, Wono Wiguna. Kakaknya, Imelda Wiguna, adalah salah satu pemain bulutangkis nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa.

            Perjalanan dengan upaya menciumi jejak masa kecil kadang-kadang membuat hati teriris. Mengapa waktu lekas berlalu? Sementara aroma Slawi masih sayup-sayup tersisa di hidung, terbawa hingga kini. Ampas melati sebagai campuran teh Gopek yang biasa menimbun di sisi kali, berbaur dengan asap sate kambing. Arus bis terus meluncur dari Tegal ke Purwokerto atau sebaliknya. Setiap hari.

            Entah siapa yang ditinggalkan: saya atau Slawi? Ketika saling bertemu, selalu ada gumpalan rindu. Tak habis digerus waktu.  ***

(Kurnia Effendi)

 

5 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Alhamdulillah...
akhire ketemu juga blog anda...
saya sering baca puisi2 anda di berbagai surat kabar...
dan saya jadi tahu...kalo anda juga
orang negeri poci,tegal..
tanah kel;ahiranku juga...
salam kenal...
tulisan anda ini....aroma slawi,
nambah kangenku saja dg aroma kabupaten...yg sudah 1tahunan ini aku tinggalkan...
sekali lagi salam kenal,selamat berkreatifitas dan sukses selalu untuk anda...

salam

Titis hening(hening13.multiply.com)

1:05 AM  
Anonymous muhamadmuiz said...

Salam kenal ya...
Muhamad Muiz, bocah Balapulang. Saiki ning UIN Jakarta.

10:23 PM  
Blogger lina123 Chen said...

chenlina20150627
air max 90
true religion sale
jordan concord 11s
michael kors bag
air jordans
longchamp sale
pandora rings
michael kors outlet
coach outlet
pandora charms
burberry outlet
coach outlet store online
abercrombie fitch
michael kors
coach purses
true religion
retro 11
cheap chanel handbags
fitflop sale
kobe bryant shoes
ray ban wayfarer
longchamp pas cher
christian louboutin outlet
michael kors outlet
kate spade handbags
gucci handbags
juicy couture outlet
burberry handbags
ray ban outlet
michael kors outlet online
insanity dvd
michael kors outlet online sale
gucci bags
toms shoes
michael kors outlet online
burberry outlet
imitation watches
michael kors outlet
jordan pas cher femme
gucci bags

4:12 PM  
Blogger chenlina said...

chenlina20160505
air jordan 13
christian louboutin outlet
cheap jordan shoes
louis vuitton
michael kors outlet
ray bans
michael kors
burberry outlet
nike air jordan
kobe 11
juicy couture
true religion
nike uk
air max 90
replica watches
ray ban sunglasses
longchamp bags
ray ban sunglasses outlet
jordan 11 concord
fitflop sandals
coach outlet
oakley sunglasses cheap
louis vuitton outlet
adidas originals
basketball shoes
true religion sale
tiffany and co
nfl jerseys wholesale
ugg boots
louis vuitton purses
christian louboutin sale
ray ban sunglasses
cheap nfl jerseys
coach outlet
nike roshe flyknit
lebron james shoes 13
cheap air jordans
coach factorty outlet
louis vuitton outlet
polo ralph lauren outlet
as

9:11 AM  
Blogger dong dong23 said...

pandora bracelet
cheap ugg boots
the north face
louis vuitton uk
louis vuitton
ugg boots
jordan outlet
uggs uk
nike air max pas cher
michael kors outlet clearance
201612.24wengdongdong

4:35 PM  

Post a Comment

<< Home