Tuesday, November 06, 2007

Laut Lepas Kita Pergi

Mangapa Laut Lepas Kita Pergi?

Pertanyaan Rezza ini baru bisa saya jawab sekarang, tetapi pertanyaan seperti itu tentu tak kenal kadaluwarsa. Serupa dengan para anggota Komunitas Leo Kristi (LKers) yang lain, tak dapat langsung memutuskan satu lagu paling favorit dari seluruh gubahan mas Leo Kristi. Pasti ada beberapa, atau bahkan semua. Jika dikaitkan dengan momentum atau kenangan, saya yakin ada lebih dari satu pula yang membekas untuk sebuah peristiwa. Dengan demikian, tembang Laut Lepas Kita Pergi (LLKP) juga bukan satu-satunya yang saya gandrungi. Masih banyak judul lain yang tak kunjung hilang dari memori. Apalagi jika setiap waktu, dengan sengaja atau tak, selalu ada kenangan yang diperbarui.

Pertama yang saya rasakan dari lagu LLKP adalah suasana magis. Suara biola dalam aransemen musiknya terdengar menyayat. Kata "senja" dalam lirik bagai memiliki multi tafsir. Sebuah waktu menuju malam, batas antara terang dan gelap. Simbol dari akhir sebuah hari, yang merujuk pada usia. Lebih kuat kesan itu sewaktu Mas Leo menambahkan dengan: "Teguklah cangkir kopi terakhir". Akhiran "lah" merupakan perintah, permintaan, penawaran, ajakan. Ibarat imsak, ketika kita diminta menghabiskan minum, pertanda sesudahnya tak boleh minum lagi karena harus menahan nafsu sepanjang puasa. Kira-kira, dengan meminum secangkir kopi terakhir, kita akan di bawa ke mana? Sementara layar-layar telah menunggu di dermaga.

Sebuah perjalanan jauh! Itulah yang kemudian terbayang. Jauhnya perjalanan darat, lebih mudah diukur dengan kecepatan perputaran roda. Dengan menyebut layar, perjalanan akan dilakukan dengan kapal atau perahu. Berada di atas air, di atas laut, semua jadi tergantung pada banyak hal: tiupan angin, kekuatan baling-baling mesin, kepintaran jurumudi, perangai ombak, belum lagi arah yang mungkin keliru karena permukaan laut tidak mungkin dibuatkan marka. Demikianlah, ada sambung-menyambung imaji yang semuanya mengisyaratkan pada perpisahan, perjalanan jauh, dan kemungkinan tak bertemu lagi.

Astaga, mata saya panas membayangkan bait pertama saja. Perpaduan musik, intro yang menggambarkan angin sepoi, dan seruan yang memberi tahu bahwa kapal telah menunggu di dermaga: layar pasti tak dalam keadaan tergulung, tetapi siap melaju ke lautan. Dan kita diminta bergegas, menuntaskan kopi, untuk segera melangkah meninggalkan pesisir, naik ke palka...

Baiklah kita siap berangkat. Ke mana? Apa yang hendak terjadi? Seperti layaknya akhir dari perjalanan hidup, kita kembali diingatkan bahwa alam yang akan ditempuh sungguh berbeda. "Kemarin hanya mimpi ditenung tangan sakti, aku tak mengerti, gelapnya dunia ini, tinggal hari yang sepi....kuterjaga..."

Tangan sakti itu tentu Tuhan. Manusia dengan segala perangkat tubuhnya adalah "robot" yang memiliki "chip" ruh. Program diberikan sejak ditiupkan ruh di dalam kandungan. Lalu semua berjalan dengan kitab hidup masing-masing. Jadi, bila kita bertanya seperti apa swargaloka, tak mungkin dapat dibayangkan dengan program ingatan dan kekayaan diksi kata manusia. "Chip" di benak kita harus diganti, sehingga program dunia tak dapat lagi kita baca, yang muncul adalah bahasa alam yang lain. Maka perdebatan mengenai surga yang mengalir sungai susu di bawahnya adalah perumpamaan dunia karena tak ada yang sepadan lagi. Perdebatan itu tak penting buat Leo Kristi. Tenung Tangan Sakti sanggup membuat yang kemarin, hidup sepanjang usia kita ini, hanyalah sebuah mimpi. Dunia kemudian gelap dan yang terlihat adalah alam berikutnya: perjalanan yang telah ditunggu oleh layar-layar di dermaga sebagai batas. Tentu saja kita tak akan pernah sungguh-sungguh mengerti, meskipun pada riwayat masing-masing tarikh manusia disiapkan kitab petunjuk hidup samawi. Semua berupa misteri, bagai kulit bawang yang terus-menerus dikupas tak juga sampai pada isinya.

"Kuterjaga... dari mimpi." Terjaga dari hidup menuju mati? Mati hanya bahasa kita di Bumi, sementara di alam lain justru kita dilahirkan kembali untuk "program" lanjutan. Mas Leo menghibur dengan kata-kata: "Apa lagi kautangisi?" Ya, sesal memang tak lagi berguna. Semua serba terlanjur. Jalan satu-satunya adalah pasrah kepada sang pemilik hidup, dan kita mengalir mengikuti arus kekuatan Tangan Sakti. Selamat tinggal, itu kata terbaik untuk semua yang berpisah dari kita: raga, jiwa, kecintaan, bahkan nama kita sendiri.

Lalu, tanggal 26 Desember 2004, Tangan Sakti itu menghapus ribuan nama dari daftar kehidupan di marcapada melalui hembusan tsunami di Bumi Aceh. Angin "sepoi" itu merenggut sekaligus dalam waktu yang demikian ringkas sekitar 180.000 jiwa. Ke mana mereka semua saudara-saudara kita berangkat? Ke Laut Lepas Duniawi Mereka Pergi... Dan kemarin, seluruh perjalanan "kehilangan malam" karena senantiasa berlaku jam-malam bagi masyarakat Aceh, ketakutan oleh DOM yang tak jelas siapa lawan siapa kawan, membuat: ...aku tak mengerti, gelapnya dunia ini, tinggal hari yang sepi....

Kematian boleh jadi adalah kesepian paling hakiki. Meskipun yang membawa mereka pergi adalah gemuruh ombak setinggi delapan meter dengan kecepatan tak tertandingi. Gemuruh adalah puncak sepi sebuah hati yang menyatu sebagaimana cahaya putih sebagai pusat spektrum segala warna.

Saya menghubungkan suasana magis dalam lagu Laut Lepas Kita Pergi dengan mahaduka Aceh atas ciuman maut tsunami dalam sebuah cerita pendek. Saya menghubungkannya saja. Menulis dengan hati yang terus gemetar, dengan sendu yang tak dibuat-buat, dengan melankolia yang mempertanyakan diri sendiri melalui tokoh bapak yang kehilangan daya. Kepada anaknya ia pamit karena tak tahu harus bagaimana lagi. Kepada anaknya ia (mungkin bilang): layar-layar telah menunggu di dermaga. Sementara sanak saudara mereka telah berangkat lebih dulu, berjamaah, setelah meneguk secangkir kopi kehidupan terakhir kali.

Teman-teman LKers, karena atas nama alasan apa pun kita harus selalu siap menghadapi hari esok, mari kita teguk cangkir kopi terakhir....

Salam, Angin sepoi.... (Kef)

 

 

0 Comments:

Post a Comment

<< Home