Tuesday, December 18, 2007

Peluncuran dan Diskusi "Sukma Silam"

Seorang pegawai negeri Departemen Keuangan meluncurkan buku antologi puisi. Heran? Kenyataannya demikian. Walaupun sehari-hari bergaul dengan pekerjaan yang bersifat “finansial”, toh benak dan perasaannya tak bisa dipisahkan dengan “badai kata-kata”, istilah yang digunakan sang penyair dalam menyebut inspirasi.

Bernama Budhi Setyawan, lelaki yang telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak itu, adalah penyair yang telah menerbitkan tiga buah buku antologi puisi. Ia lahir di Purworejo Jawa Tengah pada tahun 1969.

Sukma Silam adalah bukunya yang ketiga setelah dua buku sebelumnya di tahun 2006, yakni Kepak Sayap Jiwa dan Penyadaran. Buku Sukma Silam diluncurkan di  Pusat Dokumentasi HB Jassin pada Sabtu, 1 Desember 2007 jam 14:00 oleh Komunitas Meja Budaya. Kelompok diskusi yang dimotori oleh Martin Aleida dan Syahnagra itu yang secara rutin (dua pekan sekali setiap Jumat sore) menggelar acara pembahasan buku sastra dan cabang seni budaya lainnya. Berisi 90 puisi, Budhi Setyawan menggarap tema cinta, kemanusiaan, dan spiritual.

Pembicara yang dipilih dalam diskusi setelah launching adalah Medy Loekito (penyair dan mantan Presiden Yayasan Multimedia Sastra yang dikenal dengan cyber-sastra) dan Enggo Senggono (pengelola PDS HB Jassin), dengan moderator Yonathan S. Rahardjo dan pemandu acara Alin SP. Dalam makalah Medy, diungkapkan bahwa Budhi Setyawan memiliki daya imajinasi yang tinggi, berhasil menyiasati segala keterbenturan idiom klise melalui metafora dan personifikasi yang cukup segar.

Selain diskusi, tampil membaca puisi antara lain Dharmadi (penyair angkatan 70-an), Pudwianto Arisanto, dan Endang Supriyadi (keduanya penyair anggota KSI). Meskipun acara dikemas sederhana, cukup banyak yang hadir. Berbagai komunitas sastra seperti Apresiasi Sastra (Apsas), Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas BungaMatahari (BuMa), memenuhi ruangan berkapasitas 100 orang. Oleh karena itu pantaslah jika pada sesi tanya jawab terbangun suasana yang cukup hangat.

Kendati sudah menjadi isu basi, namun antara ungkapan yang vulgar dan yang simbolik dalam karya puisi masih diperdebatkan. Siapa lagi jika bukan Binhad Nurrohmat yang mencuatkan dan segera mendapat perlawanan dari banyak penggiat sastra. Di pengujung diskusi, Yonathan S. Rahardjo sebagai moderator tak hanya menyimpulkan hasil pembahasan, namun juga memberikan pernyataan tentang “kebenaran”. Menurutnya ada dua kebenaran dalam dunia ini. Pertama adalah kebenaran sehari-hari yang merujuk pada kenyataan yang terlihat. Kedua adalah kebenaran menurut manfaat yang terkait pada dampak selanjutnya.

Budhi Setyawan menyerahkan buku barunya kepada beberapa pihak, antara lain perpustakaan, komunitas sastra, dan medi massa. Usai acara masih ada perbincangan yang memanjang, sebagaimana yang kerap dilakukan oleh tokoh-tokoh sastra. Pembicaraan informal, di luar forum, selalu lebih panas dan melahirkan gagasan ‘patriotik’. Dalam hal ini adalah rencana untuk mendiskusikan perihal sikap kita dalam menghadapi cara-cara Malaysia mengakui sejumlah karya seni Indonesia sebagai milik mereka. Tunggu saja undangan dari Kelompok Diskusi Meja Budaya untuk agenda tersebut.

(Kurnia Effendi)