Wednesday, December 19, 2007

Rahasia Kebun Kata

Memang sudah lama Komunitas BungaMatahari (BuMa) tidak mengadakan pertemuan bulanan yang bertajuk “Kebun Kata”. Dalam acara itu, anggota BuMa dan teman-temannya, berkumpul untuk bertukar informasi, saling membincang karya (umumnya puisi). Bergiliran mereka membacakan puisi di panggung—sebuah sudut atau arena yang dibebaskan dari kursi dengan seperangkat mikrofon. Pendengar boleh memberikan kritik, pujian, dan tentu saja tepuk tangan. Ada sebagian yang menggunakan alat tetabuhan semacam gendang, triangle, atau gitar untuk mengiringi pembacaan puisi.

Mungkin karena dalam beberapa bulan terakhir masing-masing anggota BuMa disibukkan oleh pekerjaan (ada yang mendapat tugas keluar kota dalam acara televisi, ada yang sibuk dengan proyek sesuai bidang akademisnya, ada pula yang mendapat kehormatan sebagai panitia kegiatan sastra nasional) ditambah Ramadan dan liburan Lebaran, absenlah Kebun Kata dari agenda bulanan. Kerinduan pun muncul di antara mereka, sehingga muncul gagasan untuk kembali bertemu dan saling ungkap karya.

“Acaranya tanggal 2 Desember jam 3 sore di Café Au Lait Cikini,” demikian sms yang mampir ke telepon genggam sesama anggota BuMa dan teman yang diharapkan hadir. “Temanya rahasia…”

Kenapa rahasia? Masih rahasia, maksudnya? Ternyata bukan itu yang dimaksud. Menurut Uga dan Acha, penggagas tema acara pertemuan bulan Desember ini: “Kata ‘rahasia’ di sini muncul karena kami sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba kita adakan tanpa rencana matang, jadi seperti secara rahasia. Tentu masing-masing memiliki informasi dan pengalaman selama berpisah. Silakan ‘rahasia’ itu diungkap kepada teman-teman. Mungkin melalui cerita atau karya puisi barunya.”

Ide sederhana yang mengundang rasa penasaran, agaknya. Dan kenyataannya, cukup segar bila dianggap sebagai pertemuan yang ditunggu-tunggu. Boleh jadi mereka jarang bertemu secara fisik, meskipun tetap berkomunikasi melalui telepon. Di antara mereka masih terjalin keakraban. Di café yang terbagi menjadi tiga kelompok ruang, acara tanpa run down ketat itu berjalan santai.

Terlambat sudah biasa, sehingga Acha pun bertindak sebagai pengganti pemandu acara sekaligus pembaca puisi. Senja itu yang tampil membacakan puisi: Olivia Sinaga, Ulil, Waranay, Arry Amilin, Tera, dan Nirasha. Harlan Boer (salah satu manajemen Efek Rumah Kaca) menyanyikan beberapa lagu dari puisi. Sementara Anya Rompas, sebagai founder BuMa tampaknya membiarkan teman-temannya bebas berekspresi. Panggung boleh menjadi milik siapa saja.

Sebenarnya, jika dikemas sedikit serius, acara KebunKata cukup potensial untuk menjaring kaum awam agar mencintai puisi. Setidaknya anggota BuMa tidak meletakkan puisi sebagai genre sastra yang berat dan memberatkan. Puisi adalah sebuah medium untuk mengutarakan perasaan berdasarkan pengalaman pribadi. Kualitas tidak lagi menjadi sisi utama yang dipertimbangkan, melainkan lebih merujuk pada keindahan (estetika) dan penyampaian (komunikatif). Alat musik diperguanakan sebagai aksesoris yang mengantarkan kata-kata jadi lebih melodius.

Kelihatan main-main, namun sesungguhnya kaum muda gaul yang selalu memilih café sebagai tempat berekspresi itu, masing-masing sedang menyiapkan dan sebagian sudah menerbitkan karyanya dalam bentuk buku. Artinya, di balik hobi yang kelihatannya hanya sebagai pengisi waktu luang, ada yang berusaha menorehkan jejak dalam sejarah pribadinya. Ayo maju terus! (Kurnia Effendi)

 

0 Comments:

Post a Comment

<< Home