Tuesday, December 18, 2007

Serambi Madinah

Mengapa ada yang menyebut Banten sebagai serambi Madinah? Mungkin julukan yang berlebihan, karena Demak, Kudus, Cirebon (untuk menyebut beberapa nama), adalah kota-kota yang menjadi tempat persinggahan para wali. Tetapi mungkin sebutan itu sesuai jika dipandang dari kegiatan masyarakatnya yang berorientasi pada kehidupan pesantren. Seperti kota Jombang, Banten memiliki banyak sekali pondok pesantren.

Banten telah menjadi provinsi (terpisah dengan Jawa Barat sejak 2-3 tahun yang lalu) dengan ibukota Serang. Provinsi yang mengandalkan kekuatan industri (mulai dari Cilegon sampai Tangerang) memang tidak serta-merta tumbuh dengan lesat. Wilayah Serpong dan Karawaci berangkat sebagai kawasan modern karena sejak awal direncanakan menjadi kota satelit yang tak hendak bergantung kepada Jakarta. Beruntung Banten memiliki tempat itu, karena distrik-distrik yang lain masih kuat dengan aroma kampung dan nilai-nilai tradisional. Kelebihannya, corak kehidupan pesantren dan kekuatan mistik tidak serentak hilang, justru terpelihara dengan baik.

Bicara tentang kesenian tradisional, debus misalnya, tak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat agamis Banten. Sebagaimana wilayah-wilayah lain yang kuat dengan unsur Islam selalu ada sisi magis yang menjadi pembuktian adanya kekuatan tak tampak dari yang kita percayai. Hal-hal gaib, bersifat transendental, dan berfungsi sebagai kharisma bagi orang-orang yang disegani, sangat menonjol di Banten. Istilah ”pendekar” terdengar lumrah di kalangan orang Banten. Dulu, orang-orang Banten cukup “ditakuti” jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu yang tak kasat mata.

“Tapi debus tak bisa main di Cirebon,” ujar seorang teman karib asal Cirebon.

“Apa pasal?” tanya saya.

“Kualat nanti, di sini kan rumah bapaknya...”

Ini pembicaraan bercanda, tentu. Atau boleh dipercaya?

Sunan Gunung Jati, salah satu wali sanga, adalah ayahanda Sultan Maulana Hasanuddin, yang mendirikan Masjid Agung Banten. Itu berlangsung sekitar tahun 1560-1570, atau empat abad yang lalu. Sultan Maulana Hasanuddin ini kemudian dikenal dengan nama Sultan Banten.

Masjid itu kini masih berdiri kokoh dan terawat, menjadi ikon kota Banten lama, dan menjadi alamat ziarah bagi orang-orang yang datang dari jauh. Di sisi utara masjid tertanam jasad keluarga Sultan Banten. Makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin terletak di serambi kanan. Untuk kaum aulia itulah mereka datang dan memanjatkan doa. Terutama menjelang Ramadan dan seusai Lebaran.

Masjid itu memiliki tangga dengan relung yang menyerupai goa, pengaruh desain dari seorang arsitek Mongolia bernama Cek Ban Cut. Menara masjid yang bersegi-segi mirip pagoda dengan ketinggian sekitar 30 meter dan bergaris tengah 10 meter itu dulu sempat berfungsi sebagai “mercu suar” untuk mengawasi pantai. Menara yang menjadi tempat berkumandangnya azan itu dibangun tahun 1620, di masa kekuasaan Sultan Haji, atas dasar rancangan arsitek Belanda bernama Hendrik Lucazoon Cardeel. Arsitek yang condong ke Kesultanan Banten itu, mengkhianati bangsanya yang menjajah, dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

Ada bangunan di sisi selatan masjid yang disebut Tiyamah. Bangunan dengan bentuk segi empat bertingkat itu juga dirancang oleh Cardeel. Dulunya digunakan sebagai tempat musyawarah para alim ulama mengenai peran agama dalam politik dan kebudayaan atau sebaliknya, politik yang berdasarkan Islam. Secara menyeluruh, arsitektur Masjid Agung Banten memadukan langgam Belanda dan Tionghoa.

Saya kebetulan menjadi menantu dari keluarga pewaris pesantren Kyai Haji Soleh Ma’mun di Lontar, Serang. Tidak sebulan sekali berkunjung ke sana, tetapi tentu lebih sering ketimbang ke Slawi, tempat kelahiran saya. Dari jarak saja sudah berbeda empat kali lipat, ditambah jalan tol Jakarta-Anyer yang meringkas waktu untuk menempuhnya. Meskipun demikian, tidak selalu singgah ke masjid Banten. Kesempatan untuk salat di sana hanya beberapa kali dan selalu bertepatan dengan orang ramai. Atau, barangkali setiap hari memang ramai dikunjungi orang.

Jika benar, tak lama lagi masjid Banten akan menjadi pilihan kaum muslimin untuk melaksanakan salat Idul Adha. Ya. Sebentar lagi tiba hari raya kurban, hari raya Nabi Ibrahim, hari raya yang sesungguhnya: ketika gema takbir dikumandangkan selama tiga hari, menandai hari tasyrik, waktu usai puncak ibadah haji di tanah haram Makkah. Kurban yang bermakna mendekatkan diri kepada Allah dengan mempersembahkan sebagian milik kita kepada kaum dhuafa, bermula dari sejarah dramatik perintah Pemberi Hidup kepada seorang ayah untuk menyembelih anaknya. Menyembelih! Bukan sekadar membunuh, melainkan menghapus kehidupan dengan segala serabut akar cinta hubungan darah, dengan cara yang mengerikan: di depan mata telanjang.

Siapa yang tak akan tercengang dan berpikir bahwa itu sebuah permintaan yang musykil? Lantas apa arti menunggu berpuluh-puluh tahun untuk memperoleh buah hati di tengah kegersangan perkawinan dan gurun mahaluas? Apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan jika pemberian itu hanya serupa permainan? Memang pada akhirnya kita harus menyadari dan memahami (lalu mengikhlaskan) bahwa segala milik kita di dunia adalah pinjaman. Cinta yang telanjur melampaui prosentase maksimal kepada “barang” pinjaman itu apa boleh buat harus ditanggalkan untuk cinta yang lebih besar dan hakiki kepada Sang Pemberi Pinjaman.

Tak akan jauh mendalam saya bercerita tentang hal-hal yang tidak saya kuasai, tentu. Apalagi untuk mewakili perasaan Ibrahim saat itu, saat sebelum tubuh anak lelakinya diganti seekor gibas yang sehat dan menyerah. Ismail, “kurban” yang hendak dikembalikan kepada Allah adalah persembahan sehat yang menyerah. Pasrah dan ikhlas, melebihi perasaan sang ayah.

Oleh karena itu, sewajarnya kaum muslimin berperasaan ikhlas dan pasrah saat berkurban pada 10 Dzulhijah tahun Hijriyah. Bukan hanya itu: kita dianjurkan untuk gembira dan besar hati. Karena hari itu merupakan hari kemenangan bagi yang mabrur, kemenangan bagi yang mampu menyembelih hewan kurban.

Kebetulan, hari raya Haji tahun ini jatuh pada hari Kamis. Bagi pegawai yang setiap Sabtu libur, seperti mendapat sekeping surga untuk melibas hari Jumat yang terapit. Ditambah Minggu, jadilah long-long week end. Saya belum tahu, apakah akan melaksanakan salat Idul Adha di Jakarta atau Banten. Jika keluarga istri memiliki gagasan berlibur ke Serang, mungkin menjadi kesempatan istimewa untuk kembali mengunjungi Masjid Agung Banten. Mengunjungi Serambi Madinah. Menziarahi keluarga Sultan Banten, keturunan wali sanga yang agung. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd…

(Kurnia Effendi untuk Parle)